Uchiha Itachi, Mbah Dul dan Mbah Jaiman

Tahun lalu, saya lupa tepatnya, yang jelas tahun 2015. Saya mengikuti undangan teman saja. Diajak ke sebuah desa. Di sana biasa diadakan Mocopat Syafaat. Cak Nun yang menjadi pengisi acaranya. Secara gitu ya, disana adalah kediaman Cak Nun.

Nah, yang ingin saya ceritakan disini bukanlah apa yang disampaikan cak Nun. Melainkan adalah salah satu tulisan unik yang ada pada buletin Mocopat Syafa’at yang jual belikan di lokasi.

Buletin tersebut dihargai Rp 2000 saja. Namun isinya, naudzubillah kerennya. Ada salah satu tulisan yang unik, seperti saya tulis diatas. Judulnya Uchiha Itachi, Mbah Dul dan Mbah Jaiman. Karya Yusuf Kholis. Saya tidak tahu pribadi penulisnya, namun yang pasti tulisannya menarik.

Tambah menarik lagi, saya minta izin kepada managemen buletin untuk menulis ulang tulisan tersebut di blog ini pada bulan apa, jawabannya dikirim pada tahun berikutnya. Mungkin admin sedang sangat-sangat ekstra sibuk. Sampai akhirnya buletin ini nylempit ga tau di mana, hingga saya temukan pada hari ini (25 Juli 2016).

Oke, saya benar-benar ingin menuliskan kembali tulisan tersebut. Alasan? karena menurut saya itu keren.

mocopat syafaat

Uchiha Itachi, Mbah Dul dan Mbah Jaiman. Karya Yusuf Kholis

Klan Uchiha sebagai salah satu klan terkuat desa Konoha, berniat melakukan kudeta terhadap kepemimpinan hokage ketiga. Dan jika perang saudara jadi meletus, akan menjadi kesempatan desa lain untuk menyerang Konoha. Oleh sebab itu sidang para tetua desa pun digelar, tapi tidak ada keputusan yang bulat dalam sidang tersebut. Namun Danzo, salah satu petinggi desa dan pemimpin ANBU (pasukan elit ninja), menyarankan agar Konoha segera menyerang secara mendadak sebelum kudeta menjadi sebuah kenyataan.

Yang dalam posisi menyakitkanadalah Uchiha Itachi, seorang anggota Klan Uchiha paling jenius dan berbakat. terbukti ketika usia delapan tahun sudah menguasai jurus mata sharingan dan dalam usia tiga belas tahun menjadi kapten ANBU, sebuah pencapaian yang hokage (pemimpin desa tertinggi) pun sulit menandingi. Itachi juga memiliki intelektualitas yang jauh melampaui usianya. Ketika itu, dia sudah cakap mengetahui sejarah desanya. Lebih-lebih dia pernah menyaksikan kejamnya perang dunia ninja ketika masih kanak-kanak. Maka tak ayal, dia tidak terikat akan chauvinisme klannya dan yang paling pokok dia begitu anti peperangan. Tetapi posisinya sebagai ‘pentholan’ ANBU dan anggota klan Uchiha membawanya ke dalam ruang yang dilematis.

“Sejalan dengan Uchiha, memulai kudeta dan mati bersama klanmu atau disisi Konoha, menyelamatkan adikmu sebelum kudeta. Kemudian membantu melenyapkan semua klanmu!”. Danzo mendesak Itachi, ketika mereka ngobrol secara empat mata di sebuah kuil.

Kecintaan terhadap adik memang erat kaitannya dengan klan Uchiha, layaknya tokoh legendaris Uchiha Madara dengan adiknya Uchiha Izuna yang menimbulkan kebencian yang mendalam saat sang adik terbunuh pada peperangan dengan klan Senju. Maka dengan dibantu Tobi, Itachi rela membantu Konoha untuk membantai klannya sendiri yang telah berkhianat, kecuali adiknya, Uchiha Sasuke.

Hal yang paling emosional adalah ketika dia membunuh orang tuanya sendiri namun tak disangka Sasuke melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika ia menghunuskan sebilah pedang ke punggung orang tuanya. Sungguh memilukan.

Setelah membantu desa menangkal perang saudara, gerak langkahnya kemudian adalah masuk kelompok Akatsuki. Sebuah kelompok penjahat ninja tingkat atas. Saat itu Itachi dianggap sebagai penjahat di Konoha. Tetapi dibalik itu semua, tujuan mulianya secara tidak langsung agar bisa mengawasi kebijakan petinggi Konoha dan tentunya melindungi Sasuke dari luar.

Dari apa yang dia lakukan tidak ada khalayak umum yang tahu bahwa dia adalah pahlawan desa yang sesungguhnya dengan menghentikan peperangan yang akan meletus. Perannya memang dirahasiakan oleh petinggi Konoha. Dia rela dicap sebagai penghianat, pembantai klannya sendiri, penjahat Akatsuki dan buronan Konoha kelas kakap. Terlebih yang paling ironis, adiknya tumbuh menjadi pembenci dirinya yang nomor satu. Bahkan sang adik bercita-cita membunuh kakaknya sendiri.

Manga dan Anime karya Masashi Kishimoto ini menyajikan plot cerita yang tidak mboseni. Maka tak diragukan serial Naruto ini sanggup menandingi popularitas Dragon Ball yang legendaris karya Akira Toriyama. Tokoh Uchiha Itachi adalah salah satu karakter yang cukup unik dalam manga dan anime serial naruto. Dia dengan rela menyembunyikan diri yang sesungguhnya. Membiarkan orang lain menjelek-jelekannya, mefitnahnya dan menganggapnya sebagai penyakit.

Ditambah sikapnya yang dipenuhi aura misterius disertai kata-kata bijak yang kadang keluar dari mulutnya menambah kesan bahwa dia adalah karakter fiktif yang inspiratif khususnya bagi Otaku (penggemar anime) dan penonton secara umum.

Bagaikan seorang pujangga keraton tempo dulu yang menganonimkan diri pada setiap karyanya. Dalam kehidupan nyata, memang sulit menemukan orang yang sanggup menjalani peran seperti itu. Pastinya ia adalah seseorang yang telah mengalahkan egonya sendiri. Orang yang mengatasi kepentingan-kepentingan atas nama dirinya sendiri dan meleburkan eksistensinya untuk orang banyak. Meski dengan pedih dia justru dicap sebagai seseorang yang durjana oleh orang yang tidak tahu dan tidak mau tahu akan jasa-jasanya. Yang penting baginya adalh manfaat yang dia berikan bagi orang lain, walau dia rela kehilangan kehidupannya.

Tukang becak yang pernah beken beberapa waktu lalu, mungkin ada kemiripan mengenai pengorbanannya yang tulus namun mendapat cercaan. Seorang khalifatullah dari Surabaya yang berani bertindak akan masalah di sekitarnya.

Berita kakek yang akrab dipanggil Mbah Dul (Abdul Syukur) sempat membuat kita terenyuh beberapa waktu yang lalu. Pada saat jalanan kota Surabaya mulai lenggang, dia menggenjot becaknya dengan membawa bongkahan aspal yang tidak terpakai. Ketika menemukan jalanan yang berlubang, dia pun mulai beraksi. Menambal jalanan aspal. Terus menerus dia menjalankannya tanpa meminta imbalan dari orang lain. Bahkan, walikota Surabaya yang memanggulnya lalu menawarkan bedah rumah beserta jabatan mandor PU pun dia tolah. “Ayah saya mengaku ikhlas dan tidak mengharap imbalan apapun. Karena itu dia menolak”, alasan yang dijawab anak perempuannya. Tujuannya satu, agar orang lain yang lewat tidak terjatuh saat asik berkendara. Meskipun orang lain mengejeknya dikatakan sok mencari perhatian, orang gila dan lain sebagainya. Tapi kata-kata tak didengarnya.

Siapa sangka bahwa dia melakukan laku tersebut sudah kurang lebih 10 tahun lamanya. Lalu apakah ia mengarapkan ekspose dari media? Apakah ia mengharapkan walikota memanggulnya dan memberikan hadiah? Saya kira, hal semacam ini ttak akan bisa dipahami orang-orang yang mengaku modern semacam kita. Subhanallah, betapa mulianya ‘orang kecil’ yang sejatinya ‘orang besar’ ini. Setidaknya menurut saya.

Itu baru di Surabaya. Ada juga hal serupa di Yogyakarta. Apakah ada orang yang tahu dulunya di daerah pesisir selatan Bantul (pantai Samas ke barat) hanyalah gundukan pasir yang kering kerontang pada era 80-an dan 90-an. Tetapi sekarang lihatlah. Dipenuhi hutan cemara dan akasia. Adalah peran mbah Jaiman, seorang petani ‘kecil’ yang mengubah itu semua. Dialah yang menanam dengan kesungguhan di lahan tandus itu. Dan dalam proses ia menanam pun beragam cemohoan bermunculan. Mulai dari dicap sebagai orang gila, orang sinting dan gendeng pun dia terima. karena lahan yang katanya mustahil dia tanami dengan setia. ketika masyarakat mulai menikmati manfaatnya, maka ia membuktikan sendiri apa yang ia kerjakan. Daerah itu adalah sumber utama untuk ngarit bagi orang di sekitarnya. Lalu, siapa sangka obyek wisata yang bermunculandi era 2000an adalah andil dari keindahan pepohonan yang ia tanam. Maka otuput dari apa yang ia kerjakan pun mulai bermunculan dan puncaknya adalah penghargaan kalpataru. Bak lilin yang melelehkan tubuhnya untuk menerangi kegelapan, mbah Jaiman dan cangkulnya adalah saksi bisu tentang sebuah ketulusan dan pengabdian.

Apa beda antara Itachi, Mbah Dul dan Mbah jaiman?

Mereka sama-sama penempuh jalan sebuah pengorbanan. Mereka sama-sama membuat perbedaan, walaupun mendapat gesekan-gesean yang sempat melukai mereka. Dari ketiganya kita mendapaktan pembelajaran yang sarat akan nilai, di tengah arus kehidupan mainstream yang berideologi pamrih. Ketika kita tumbuh sebagai generasi pencari laba pada segmen apapun dan lunturnya konsep pelayanan dan pengabdian dalam kultur dan sekolahan, membawa kita tumbuh dalam peradaban yang miskin akan penghargaan sebuah nilai. Maka, dari ketiganya saya kira memunculkan secuil oase di tengah padang gersang dalam peradaban.

Namun tentu memang ketiganya serupa tapi tak sama. perbedaan dari ketiganya, jelas Itachi adalah tokoh fiksi karangan Masashi Kischimoto. dan saya kira beban yang dipanggul Itachi pun teralu berat untuk manusia biasa, karena beruntung Mbah Dul dan Mbah Jaiman sempat dihargai oleh orang lain. Tapi Itachi, hingga mati pun tidak mendapat Kalpataru atau diundang walikota. Dan tentang ia rela membunuh keluarganya yang berkhianat kepada desanya itu tentu sebuah babak baru.

Perbedaan lain yang juga cukup kentara adalah Itachi sering nongol di TV lewat acara Naruto, sementara Mbah Dul dan Mbah Jaiman pernah sesekali menghiasi ruang media massa, setidaknya satu dua kali. Dan mungkin akan terlewatkan dengan berita politik yang pastinya lebih penting dan bermutu. Selain itu, yang pokok Mbah Dul dan Mbah Jaiman adalah tokoh nyata yang berdialetika dengan kehidupan. Mungkin saja ada ratusan, ribuan atau jutaan Mbah Dul, Mbah Jaiman Lain yang tak tercatat oleh pena para wartawan yang hidup di tengah kita. mereka duduk, tertawa sambil ngopi merayakan kemenangan. Sebuah kemenangan yang bernama ‘nikmatnya kemuliaan’.

Selain itu, perbedaan lain yang mendasar terutama atas diri saya yang hina ini adalah saya tak berani untuk menjadi Mbah Dul dan Mbah Jaiman, minimal ‘menyerupai’ pun saya tetap seorang penakut yang selalu kemul sarung. Saya hanyalah penonton serial Naruto yang sebatas kagum akan karakter Uchiha Itachi. Saya ulangi, hanya sebatas kagum.

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai