Sungguhkah Ramadhan Kita Cintai?

“Sesuatu akan nampak lebih berharga setelah hal tersebut hilang”

~~~~~~

Ramadhan tinggal menghitung jari. 10 hari ketiga sudah hampir usai. Saat ini tempat lainlah yang menjadi sasaran atau tujuan untuk mengisi akhir ramadhan yang sudah didepan mata. Merayakan lebaran dengan barang baru, baju terbaik, gadget tercanggih menjadi pilihan untuk meningkatkan penampilan saat berkumpul kembali bersama sanak famili dan handai taulan.

Tak dipungkiri, Ramadhan membawa berkah bagi semua pihak. Banyak pihak tanpa terkecuali. Mulai dari pembuat kue dan penjual bahan-bahannya hingga distribusi dan pemasaran, penjahit, penjual baju, pemesanan tiket, pusat oleh-oleh, hingga mahasiswa yang kreatif dalam menangkap peluang berbisnis “mudik bareng”.

Saking membawa berkahnya, sesungguhnya jika dilihat lebih dekat, Berkah Ramadhan tidak hanya dibagi menjadi 3 bagian. 10 hari pertama, masjid, mushola, langgar penuh dengan orang-orang yang merasakan euforia taraweh dengan pahalanya yang berlipat. Penuh dengan orang-orang yang haus akan pahala dari Allah SWT. 10 hari kedua, Pusat perbelanjaan penuh oleh orang-orang yang bersiap menyongsong kehadiran hari raya Ied. Mereka berlomba-lomba untuk memenuhi troli dengan barang-barang – yang entah bermerk atau tidak – baru serta murah. 10 hari ketiga, tempat penuh berikutnya adalah stasiun, terminal, bandara serta jalan raya. Mereka memeriahkan ritual mudik untuk bertemu keluarga yang mungkin telah lama tidak berjumpa. Sedangkan yang terakhir, 10 hari keempat, pegadaian adalah tempat jujugan untuk menggadaikan barang berharga demi menambal pengeluaran yang membengkak setelah “merayakan kemenangan”. Tak peduli defisit yang akan dialami, penampilan menarik dan komentar masyarakat adalah point utama untuk dipertimbangkan.

Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Bisa dikatakan, tinggal satu tarikan nafas saja. Seandainya bulan Ramadhan adalah manusia yang sosoknya bisa kita pegang, kita ajak bicara, kita ajak berkeluh kesah, kira-kira apa yang akan kita katakan kepadanya terkait kepergiannya ini? Adakah diantara teman-teman yang ingin berkata “Ramadhan, kehadiranmu sungguh membuatku senang. Kepergianmu sungguh membuatku bersedih. Kemuliaanmu membuatku tak ingin jauh darimu. Ingin rasanya tetap berada dalam pelukanmu hingga akhir nanti”

Adakah teman-teman yang ingin mengucap kalimat yang sama seperti diatas?

Saya percaya, teman-teman pasti setuju dan ingin mengucap kalimat yang sama dengan diatas. Memang, kemuliaan Ramadhan terlalu menyilaukan untuk tidak ditatap. Kemuliaan Ramadhan terlalu menggoda untuk tidak bergumul di dalamnya. Jika ia manusia, bulan Ramadhan terlalu baik untuk didiamkan begitu saja.

Sebaliknya, kira-kira apa yang akan dikatakan oleh Ramadhan tatkala mendengar kalimat yang kita ucapkan kepadanya?

Sangat mungkin, ia akan berkata “Katamu aku adalah bulan istimewa. Namun nyatanya, kau memperlakukanku biasa saja”. Ya, tidak ada perlakuan istimewa. Semua berjalan seperti bulan-bulan biasa. Hanya perut yang laparlah sebagai pembeda.

Bisa jadi ia berkata, “Katamu aku bulan ampunan. Kutunggu doa-doamu namun kau justru berdoa melalui akun media sosialmu”. Berdoa kepada Tuhan memang bisa dilakukan dimana saja. Ia Maha Mendengar, karena itulah Ia pasti mendengar doa kita meski hanya bisikan dan tidak terposting di akun media sosial.

Atau mungkin ia akan berkata, “Katamu aku bulan Alquran. Kutunggu lantunan ayat suci darimu namun kau memilih bernyanyi lagu kesayanganmu”. Berapa kali kita bertadarus? Berapa kali kita bernyanyi, bersenandung? Seberapa sering kita melantunkan ayat-ayatNYA di bulan yang katanya penuh berkah ini?

Bisa juga ia berkata, “Katamu kebaikanku melebihi beribu bulan. Kutunggu sujud dalam shalat-shalatmu namun kau lebih cepat menjawab panggilan telepon daripada panggilan shalat”. Sudah bukan rahasia lagi, kita lebih cepat merespon dering ponsel daripada adzan yang berkumandang. Kita mensegerakan mengangkat panggilan agar penelepon tidak menunggu terlalu lama. Mungkin dengan alasan agar dibilang fast respon. Namun panggilan shalat sering kali terabaikan dengan berbagai alasan. Alasan pembenaran.

Bisa juga ia berkata, “Katamu malam-malamku adalah malam penuh berkah. Kutunggu itikafmu namun kau lebih memilih menarik selimut”. Deadline, kejar tayang, kejar setoran, dan banyak lagi tujuan begadang mampu kita lakukan. Namun untuk bertahajud selalu terasa sulit dilakukan.

Dan juga ia mungkin akan berkata, “Bila engkau benar-benar mencintaiku dan bersedih karena waktu perpisahan kita hampir tiba. Kutunggu kedatanganmu. Kutunggu basah bibirmu karena dzikir. Kutunggu lantunan ayat suci darimu. Mumpung masih tersisa waktu. Mumpung aku belum benar-benar pergi. Sebelas bulan lagi, aku memang akan kembali. Namun entah, akan bertemu denganmu atau tidak”.

Seseorang yang bersama kita saat berjamaah tarawih hari ini, bisa jadi tidak bersama kita lagi tarawih tahun depan. Atau justru kitalah yang tidak lagi berjamaah tarawih bersama mereka. Akhir usia tidak ada yang tahu. Bukankah mati tidak harus tua.

Mengingat lagi apa yang telah kita lakukan dan memperbaikinya adalah pilihan bijak. Karena tidak ada yang tahu, kapan Ramadhan terakhir kita.

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai