Sungai Purba, Ikan, dan Pantai Sadeng

Indahnya Sungai Purba

sungai purba gunung kidul

“Lembah sungai purba Sadeng adalah bagian selatan dari sistem lembah-kering kars Giritontro-Sadeng yang fenomenal” demikian seperti yang tertulis di papan informasi, saat perjalanan saya dan dua orang teman saya sampai di tepi sungai purba Sadeng. Disana terpampang pemandangan hijau yang menakjubkan. Sebuah alur lembah besar jelas terlihat. Saya membayangkan pada ratusan ribu tahun lalu lembah tersebut adalah sebuah sungai yang lebar lagi dalam. Dari tempat saya berdiri, terlihat di dasar sungai purba itu kini disulap menjadi lahan tanam bagi warga sekitar. Tanamannya nampak sangat kecil. Jika diandaikan tanaman itu adalah manusia, pasti ia sudah hanyut dan hilang entah dimana.

“Pengikisan pada batu gamping menghasilkan lembah yang lebar dan dalam, sebelum akhirnya sungai menjadi kering. Pembentukan lembah Giritontro-Sadeng yang berbelok-belok sepanjang 20km difasilitasi retakan dan sesar. Tiga kali perioda pengangkatan tektonik yang dimulai beberapa ratus ribu tahun lalu ( Plistosen Tengah ) menghasilkan tiga seri undak sungai ( undak atas, undak tengah, undah bawah ). Fenomena pengeringan sungai, karena alirannya masuk ke dalam tanah, terjadi pasca pembentukan undak sungai termuda. Sungai bawah tanah di dasar lembah kering muncul sebagai mata air di Pantai Sadeng. Ceruk dan goa-goa berlorong pendek di setiap seri undak sungai di sepanjang lembah pernah menjadi hunian manusia prasejarah. Bekas sisa-sisa makanan mereka ( cangkang molusca, kulit kemiri ) terkubur di dalam sedimen goa yang bercampur dengan tuf.”

Pada kalimat “Ceruk dan goa-goa berlorong pendek di setiap seri undak sungai di sepanjang lembah pernah menjadi hunian manusia prasejarah” menjadi perhatian saya. Dari tempat tersebut, di ketinggian yang sama, saya melihat beberapa goa pendek berada diatas tebing. Goa pendek tersebut kurang lebih berada 3 hingga 5 meter diatas kepala saya. Saya bertanya dalam hati, bagaimana mereka bisa berada diatas sana?, andai goa yang saya lihat tersebut digunakan untuk tempat tinggal manusia prasejarah. Goa yang saya lihat tersebut tidak panjang. Hanya sekitar satu hingga dua meter saja. Goa horizontal berlorong pendek itu sering disebut dengan “Song”. Nanti, teman-teman akan menemukan nama tempat atau daerah berawalan Song, seperti Song Sejuk, Song Banyu, dan lain sebagainya. Lucu ya, mungkin itu adaptasi pada nama-nama goa. Jika goa tersebut vertikal, maka disebut Luweng. cmiiw.

Kami melanjutkan perjalanan. Dari lokasi papan informasi tersebut, jalanan menurun dan semakin menuju ke dasar sungai purba. Mengikuti jalan yang teraspal baik, kami melewati lembah tersebut. Saya merasa seperti liliput di sebuah lembah yang besar dan dalam.

Sesampainya di TPR, petugas memungut Rp 20.000 untuk tiga orang dan parkir dua motor. Rinciannya adalah retribusi objek pariwisata lima ribu rupiah per orang dan dua ribu rupiah biaya parkir per motor. Ada sisa seribu rupiah, dan tidak dikembalikan. :v :v

Beberapa ratus meter kemudian, di depan pintu gerbang pelabuhan, kami dihentikan untuk kedua kalinya. Petugas yang menghentikan kami memungut tarif masuk pelabuhan sebesar dua ribu rupiah. :v :v

Pantai Sadeng adalah pantai dengan sebuah pelabuhan dan tempat pelelangan ikan. Saat kami tiba, tengah terjadi proses pelelangan untuk ikan-ikan yang baru saja diturunkan dari kapal. Ikannya besar-besar. Berbeda ketika berada di pasar dekat rumah, di sana saya malah berusaha mencari ikan yang kecil-kecil. Melihat ikan dengan ukuran 30 kilo dan lebih besar lagi, saya takjub sendiri karena tidak terbiasa dengan pemandangan itu.

Ada hal menarik yang saya tangkap dari proses pelelangan tersebut. Petugas lelang menyebutkan nominal tanpa embel-embel “ratus” atau “ribu”. Ia akan melarikan telinganya ke arah orang-orang yang tertarik membeli ikan tersebut bergantian. Dengan pengeras suara ditangannya, ia mengucapkan nominal penawaran yang ia dengar dari calon pembeli. “lima puluh”, kemudian ia menoleh ke pembeli lain, “dua lima”, ia menoleh ke pembeli berikutnya “tujuh lima”, dan seterusnya.

Pelelangan ikan di Pantai Sadeng

Ikannya sehat, besar dan murah di Sadeng

Mendengar hal tersebut, saya berasumsi bahwa ikan yang sedang dilelang tersebut bernilai sekitar dua puluh lima ribu keatas per kilo. Mahal amat. Apalagi, ada penawar yang memberikan nominal “lima ratus”.
Saya heboh dengan asumsi saya sendiri. Ikan segitu seharga lima ratus ribu???

Namun saya justru senyum-senyum sendiri ketika menyaksikan akhir dari lelang. Petugas lelang mengakhiri proses lelang tersebut dengan menutup harga perkilo sebesar sebelas ribu seratus lima puluh rupiah ( Rp 11.150 rupiah ). Saya tersenyum kecut. Ternyata nominal-nominal yang disebutkan tadi hanya kisaran “rupiah” saja. Artinya, ketika penawar berkata “dua lima” itu berarti ia menawar hanya selisih “dua puluh lima rupiah” lebih tinggi.

Hasil Ikan Pantai Sadeng

Selesai mengamati proses pelelangan, saya lantas memilih untuk berjalan menuju pantai. Dengan harapan tinggi untuk menemukan hal yang menarik, langkah kaki terasa mantab menginjak dermaga dengan perahu-perahu yang sedang sandar. Tampak pula beberapa unit perahu polisi di sana. Rasanya sudah tidak sabar melihat wajah pantai Sadeng.

Tetap ikuti jejak kakiku ya.

 

Sponsor Tulisan : Begawan Ariyanta

 

 

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai