Setelah KarTap, lalu apa?

Sudah menjadi sebuah tradisi. Bahwa setiap tanggal 1 Mei yang mana diperingati sebagai May Day (#bukan mayday lho ya), selalu diwarnai dengan aksi demo ribuan buruh. Sudah pasti juga aksi demo tersebut disertai aneka tuntutan yang seragam. Kenaikan upah layak dan penghapusan outsourcing sepertinya menjadi menu utama tiap tahunnya. Sebegitu burukkah outsourcing sehingga ikut menjadi topik penting tiap kali May Day digelar? (#May Day dan mayday itu Beda!!) #beda mayday dengan May day

Sebelum kita membahas lebih jauh, perlu saya tekankan disini. Bahwa tulisan ini dibuat bukan untuk mendiskreditkan orang per orang atau instansi atau komunitas atau serikat pekerja yang melakukan aksi demo dulu, kemarin atau esok tahun depan. Tulisan ini berdasar pengalaman nyata, karena penulis juga pernah merasakan menjadi buruh. Buruh yang kontrak selama 5 tahun termasuk menjadi karyawan kontrak outsourcing 2 tahun.

Dahulu, selama 2 tahun saya menjadi karyawan kontrak outsourcing yang ditempatkan di sebuah pabrik kendaraan bermotor. Sebelum seorang pembalap warna hijau dan seorang komedian mengendarainya, saya sudah terlebih dulu merasakan motor yang akan ia promosikan #hehehehe. Bahkan sebelum kalian mendengar theme song iklan yang dinyanyikan band surabaya, saya sudah mendengarnya setiap hari jumat sore. Hari dimana kami selalu bersih-bersih. #itu dulu,intermezo ga penting.

Ternyata, entah alasan apa pihak Outsourcing diputus hubungan kerja oleh Pabrik motor tersebut. Kami para karyawan kontrak outsourcing yang berjumlah ribuan langsung masuk menjadi karyawan kontrak pabrik (#ternyata selama 3 tahun kedepan) dengan status baru dan kontrak baru. Kami dianggap karyawan kontrak pertama meski kami sudah 2 tahun disana atau tahun kedua atau K2. Perlu diketahui, sistem kontrak disana adalah tahun pertama disebut K1, tahun kedua disebut K2, tahun ketiga disebut K3 yang masing-masing dengan durasi 12 bulan. Setelah mencapai K3 maka ia memiliki hak untuk mengikuti tes pengangkatan Karyawan Tetap atau kartap.

Tidak ada masalah dengan perubahan itu, malah kami beruntung. Karena syarat mengikuti tes pengangkatan KarTap adalah karyawan kontrak pabrik. Maka jika masih sebagai karyawan kontrak outsourcing, nol persen kemungkinan kami mendapatkan peluang itu.

Memang, menjadi karyawan outsourcing ada perbedaan. Dan memang seharusnya begitu. Bagaimana tidak, karyawan outsourcing mendapatkan pekerjaan melalui perantara dan perantara tersebut pastilah mengambil keuntungan. Melalui pemotongan upah tentunya. Hanya saja, pemotongan upah haruslah tidak merugikan karyawan outsourcing. Itu salah satu perbedaan. Untuk perbedaan lain mungkin adalah kecilnya kesempatan menjadi Karyawan Tetap.

Status Karyawan Tetap menjadi dambaan setiap buruh dimanapun mereka bekerja, dimanapun mereka berada. Tidak perlu khawatir memikirkan sulitnya mencari pekerjaan setelah habis masa kontrak. Melakukan rutinitas seperti biasa dan tiap bulan tinggal menerima gaji. Menjadi KarTap memang menjadi harapan karena tiap bulan ada yang dapat dijadikan tumpuan harapan. Sedangkan karyawan Outsourcing? Dada mereka pasti berdebar-debar menjelang akhir masa kontrak. Bagi yang baru K1 atau K2 besar kemungkinan untuk diperpanjang menjadi K3 meskipun juga ada kemungkinan “sudah cukup sekian”. Namun bagi mereka yang sudah K3, hanya ada 2 yaitu akan diberikan tes pengangkatan atau ucapan “terima kasih”. Sedangkan ada banyak variabel lolos tidak lolosnya menjadi KarTap. Mulai dari kinerja, attitude, kebutuhan perusahaan, hingga unsur “wani piroooo?”

Sebuah percakapan yang saya ingat berkaitan dengan status Karyawan Tetap, kurang lebih begini.┬áSenior (KarTap) : “Baik-baik kerjanya, dibagus-bagusin”
Saya (kontrak): “lho kenapa?” #muka polos
Senior : “Biar diangkat. Ntar kalo udah KarTap baru deh nyantai”

Percaya atau tidak, dialog sejenis seperti itu juga dialami istri saya yang juga pernah menjadi karyawan di Batam. Pernah saya tulis pengalamannya disini. Dan biasanya – mereka yang sudah kartap – efektifitas kerjanya menurun, banyak loss time sehingga menggangu produktivitas. Paling sering ke wc buat merokok. “Santai Brayy” itu ucapan yang pernah saya dengar. Ah, sebenarnya jangankan mereka yang sudah kartap, kami yang sudah lumayan lama juga mulai menunjukkan gelagat “bandel” kok. Asalkan sudah tahu “celah” pasti seseorang mulai “nakal”. Sedangkan karyawan yang baru lulus (fresh graduated) dan outsourcing pula, biasanya iya iya saja ketika disuruh segala macam. Disuruh ini, oke. Disuruh itu, siap. Besok lembur, beres. Kejar target, ayo. Kejar angkot, sanggup #eh. Mereka tidak berani macam-macam. Mana berani mereka merokok di WC, mana berani datang terlambat. Karena itulah kombinasi outsourcing dan fresh graduated adalah sebuah nilai plus. Bagi perusahaan.

Lalu bagaimana dengan tuntutan Penghapusan Outsourcing? Saya rasa tidak akan terjadi.

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai