Seri Kehidupan #2 : Kematian

Postingan kali ini,saya ingin membahas sesuatu yang mungkin tidak ingin dibahas kebanyakan orang. Karena kita lebih terlena akan nikmat hidup dan lupa akan datangnya hari yang sudah pasti datang yang bahkan tidak dapat manusia manapun untuk menundanya. Mungkin gaji dapat ditunda,kenaikan pangkat juga,kenaikan kelas bahkan bisa saja gagal karena tidak belajar,namun kematian? entah kita naik pangkat,naik kelas,sudah menerima gaji atau belum,kematian tetap datang tanpa mengenal “Cancel”.

Beliau adalah seorang pekerja keras,bagian dari Istri saya. Kami memanggilnya Pakdhe. Ia telah merawat adik Istri saya sedari dilahirkan. Dan telah sakit beberapa bulan lamanya. Keluarga telah mencari obat kemana-mana. Dan telah berusaha sekuat tenaga.

Di pagi buta yang indah,saya dan Istri berkunjung ke rumah Pakdhe. Menengok keadaannya dan membawakan adik makanan. Kami masuk melalui pintu belakang dan langsung menemui pakdhe.

Beliau tampak masih sama seperti biasanya. Memberi salam kepada kami berdua dan berusaha tersenyum. Sosok yang telah kurus dan lemah itu berusaha terlihat kuat. Kami rapikan tempat tidurnya,kami bersihkan tubuhnya. Beliau sudah tidak mampu melakukan aktivitas bahkan sekedar makan perlu dibantu. Kami pindahkan Beliau ke kamar yang lebih rapi guna membersihkan kamar Pakdhe. Kami bagi tugas,saya membersihkan dan menganti pakaian Pakdhe sedang istri membersihkan kamar dan membeli bubur buat Pakdhe.

**

Bubur telah tersedia berikut teh manis hangat. Saya tawari Pakdhe untuk segera dhahar (makan). Beliau mengangguk pelan pertanda bersedia. Perlahan Pakdhe saya suapi dengan bubur tersebut. Setiap satu suapan bubur,saya selingi dengan teh manis hangat karena pakdhe terlihat susah menelan. Setelah beberapa sendok teh hangat,saya suapi kembali dengan bubur. Sesuap demi sesuap diselingi teh manis hangat,seperti itu seterusnya. Namun belum juga separuh bubur dihabiskan, Beliau mengerang. Suaranya parau,badannya kaku. Otot di leher kencang semua,matanya melotot. Sebelum suara itu hilang,tiba-tiba Pakdhe kembali mengerang. Namun tidak lama Pakdhe terdiam.

Saya bingung. Bubur dan sendok masih ditangan. Kejadian begitu cepat. Segera saya letakkan di meja terdekat dan kembali disamping Pakdhe,berharap melihat tanda-tanda kehidupan disana. Saya cari denyut di leher,mencoba mendengar detak jantung di dada. Namun sepertinya telah tiada.

Saya cuma terduduk di samping Pakdhe. Memandangi tubuh kakunya dan tengah berpikir,apa yang harus dilakukan. Tiba-tiba terdengar hembusan nafas keluar dari mulutnya,nafas beliau yang terakhir. Tubuhnya tidak sekaku sebelumnya. Dan saya makin meyakini suatu hal. Rezeki memang akan diberikan hingga akhir hayat kita. Dan sebuah ilmu baru saja tertulis di hati saya bahwa kematian datang dengan sangat sangat cepat. Sebuah ilmu yang di tunjukkan oleh Allah kepada saya di depan mata langsung.

Innalillahi wa inna illaihi rajiun.

**

Sobat blogger,mulailah untuk mengisi usia kita dengan mengingat kematian. Sesungguhnya kita sedang antri untuk menghadap kepadaNYA seperti kita menunggu dipanggil untuk wawancara kerja. Hanya bedanya,untuk wawancara kita meluangkan waktu untuk mengecek penampilan kita,kerapihan baju kita,berkas kita. Namun untuk antri menghadap kepadaNYA,kita malah sibuk bergumul dengan dunia,melupakan “pakaian” kita yang mana “pakaian” itu hanya didapat melalui ibadah-ibadah,amalan-amalan,dan kebajikan selama di dunia ini.

Semoga sobat blogger memetik hikmah cerita nyata ini.

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai