Sempatkanlah, Untuk keluargamu

Cerita ini berdasar kisah nyata. Namun nama dan lokasi sengaja ditiadakan guna kepentingan tokoh didalamnya. Semoga bisa diambil hikmah dari cerita ini.

***

Sudah belasan tahun lamanya lelaki itu jarang pulang kerumah. Ia memilih untuk tidur di tempat kerjanya yang hanya sebuah petak kecil. Ia pun jarang bertemu dengan anak-anak lelakinya. Hanya jika mereka datang ketempat kerjanya saja, dapat berjumpa atau sekedar berbincang. Sekilas pandang kita akan melihat ia sangat antusias dengan pekerjaannya dan dalam menghidupi keluarganya. Hingga merelakan diri untuk tidur di tempat kerjanya dan membuka usaha sedari dini hari. Istri dan anaknya hidup terpisah darinya di sebuah rumah kecil yang lembab dan tidak tertata. Sang Istri sudah lama menderita pernyakit dalam dan sering kambuh. Ia sangat bergantung pada Jamkesmas apabila perlu berobat ke dokter dan operasi yang pernah ia lakukan.

Namun hal yang sebenarnya terjadi sangat berbeda dari apa yang kita bayangkan. Lelaki tersebut tidak sepenuhnya berdedikasi dalam usahanya, tidak juga atas nama pengorbanan untuk keluarganya hingga dia memilih menetap di tempat kerjanya. Tidak pula demi meningkatkan derajat ekonomi hingga ia harus membuka usahanya dari dini hari. Hal ini saya ketahui setelah berbincang dengan salah satu anggota keluarganya.

Sudah lama pasangan Suami Istri tersebut berbeda pendapat, sudah dari ketika anak-anak mereka masih balita. Mulai hal kecil hingga harus memutuskan masalah yang rumit,mereka selalu mewarnainya dengan adu argument yang selalu di akhiri dengan perginya suami ke tempat kerjanya. Pada awal mula, ia hanya pergi beberapa hari. Namun seiring dengan waktu dan seringnya bertengkar, bahkan sebulan sekali untuk pulang kerumah mereka-pun jarang ia lakukan. Ketika di tanyai alasan mengapa ia memilih cara demikian, ia hanya menjawab bahwa hal tersebut demi ketenangan hati dan pikirannya. Ia menambahkan bahwa jika bertengkar terus, tidak baik untuk kesehatan jiwa maupun raganya. Apalagi dengan tinggal dan menetap di lokasi kerjanya, ia menemukan kebahagiaannya sendiri. Ia mengklaim jika berada disana, ia merasakan kebahagiaan karena tidak perlu bertengkar dengan siapapun. Ia pun sering bertemu orang-orang penting yang mampir di tempat kejanya.

Lalu bagaimana dengan nasib keluarganya? Mereka memang dikirimi nafkah yang sesungguhnya tidaklah cukup untuk bekal hidup dalam satu hari. Itupun jika anak-anak mereka datang ke tempat kerja Sang Ayah, jika tidak, maka tidak ada uang di dalam rumah itu. Akhirnya dengan sekuat tenaga, Istrinya bekerja siang malam demi menghidupi dirinya dan anak-anaknya tersebut. Apapun yang sekiranya bisa menghasilkan uang halal, ia lakukan. Mulai dari berjualan ikan asin, berkeliling menjajakan kue, membuka warung, mencuci, buruh setrika, berjualan buah kecil-kecilan di pasar, semua itu pernah dilakukannya bahkan tetap dilakukan meski dokter menyarankan untuk istirahat pasca operasi yang dilakukannya.

Rasa jenuh juga melanda Istrinya. Setelah seharian berjibaku dengan hidup, mengais rezeki dengan tenaga yang tidak lagi utuh, ia menyempatkan diri untuk menghadiri majelis dzikir yang ada di kampungnya. Hal itu dilakukannya setiap malam, untuk mengurangi dahaga surgawi yang ia rasakan. Untuk merajut renda dan membangun gubug yang kelak ia huni di alam surga nanti.

Bagaimana dengan anak-anaknya? Mereka selalu belajar sendiri, menulis di atas kertas yang sunyi. Tidak ada Ayah dan Ibu seperti keluarga kebanyakan. Si Ayah berada di tempat kerjanya yang jauh dan Si Ibu selalu sibuk mengejar Impiannya. Meninggalkan anak-anak mereka dalam kebingungan. Dan tanpa mereka ketahui, anak-anak mereka memilih untuk mencari keramaian. Meninggalkan buku dan pena untuk bergabung dengan teman-teman yang seirama. Seirama dalam hati, dan sehati dalam memandang masalah. Tanpa orang tua sadari, mereka memilih hati yang keras. Mereka memilih untuk meniru orang tuanya, namun dalam hal mencari kebahagiaanya sendiri, mencari ketenangannya sendiri. Hingga ketika Ibunya jatuh sakit, dan makanan tidak ada, namun di saat yang bersamaan teman-teman mereka mengajak untuk bermain, mereka memilih untuk bermain diluar dan mencari makan disana. Hal yang sama juga terjadi ketika cucian menumpuk, rumah berantakan dan Ibunya seharian hanya mampu menahan sakit di bekas operasinya, sedangkan anak mereka memilih mendukung klub sepakbola kebanggaannya yang sedang bertanding di kotanya.

IRONIS bukan.

Keluarga itu menjadi perhatian saya karena liku hidupnya yang menurun. Setahu saya, dulu keluarga itu sangat kompak. Penuh keceriaan dan hangat. Namun menjadi dingin semenjak Si Ayah memutuskan untuk mencari kebahagiaannya di luar (belasan tahun lalu). Dampaknya, Si Ibu pontang-panting mencari penghidupan. Karena nafkah tidak tersalurkan dengan lancar (dari sejak awal kasus hingga kini). Dan akibat lebih jauh (sekarang) adalah Si Anak menjadi kering secara mental dan moral. Karena tidak adanya kehangatan keluarga. Obrolan hangat yang bisa kita lihat di keluarga kebanyakan, tidak mereka alami, berlibur bersama juga tidak mereka rasakan. Bahkan ungkapan yang pernah saya dengar dari salah satu anggota keluarganya adalah “Punya Ayah namun seperti tidak punya Ayah”.

Apa saya mengada-ada dengan tulisan yang saya buat diatas?

Saya hanya akan berkata. Terserah anda.

Bagi saya, ketika Tuhan memperlihatkan sebuah peristiwa entah itu baik ataupun buruk, saya akan berusaha maksimal memetik Ilmunya.

Ilmu yang bisa saya ambil disini adalah

  • Sebagai pasangan, jangan meninggalkan pasangan kita apapun keadaanya. Baik buruk dihadapi bersama. Meski sifatnya sering membuat jengkel.
  • Sediakan waktu untuk anak. Tidak perlu menunggu waktu jeda. Harus di buat secara khusus walaupun mungkin akan berbenturan dengan bisnis bahkan berbenturan dengan rasa capek. Menjadi penting jika kita membayangkan mental anak, belasan tahun kedepan.
  • Jika yakin kehilangan dompet di dalam rumah, jangan mencarinya di sepanjang jalan. Pasti tidak akan ketemu. Carilah di dalam rumah. Sama halnya dengan kebahagiaan. Jika hilang di dalam rumah, jangan mencarinya di dunia luar. Cari akar penyebabnya dan cabut. Benahi dan ciptakan kebahagiaan itu.
  • Kita harus mampu melihat peran kita dan meletakkannya secara bijak. Peran kita banyak sekali. Sebagai Anak, Saudara, Ayah/Ibu, Suami/Istri, bahkan lebih jauh lagi adalah sebagai contoh yang baik kepada generasi penerus kita, generasi anak2 kita. Ingat terus bahwa ANAK HANYA COPY PASTE. Apa yang mereka dengar, itu yang mereka catat.

Banyak senior-senior di luar sana, bahkan Anda yang sedang membaca. Bukan bermaksud menggurui. Hal ini saya tulis untuk berbagi.

Doakan yang terbaik untuk mereka

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai