Sekelumit manfaat berjamaah

Manfaat sholat. Itu yang harusnya tertulis sebagai judul. Tapi aku ga berani kasih judul seperti itu, karena apa yang aku tulis bukan dari ilmu pesantren. Tapi dari kacamata pandanganku sendiri. Dari pengalaman pribadi. Salah satunya seperti

Ketika di warung tempat aku kerja dulu. Salah seorang mantan wakil rakyat meminjam sarung di warungku. Sesaat sebelum Beliau meminjam, temanku yang sudah berwudhu, berangkat menuju mushola. Lalu Beliau berangkat mengambil air wudhu. Namun tidak segera menjadi makmum, malahan kembali duduk dan mengamati pengunjung yang ada di sekitaran warung.

Bukan bermaksud untuk berburuk sangka. Namun terlintas di fikiran, kenapa Beliau tidak mensegerakan shalat walau menjadi makmum, malah kembali duduk dikursinya padahal tidak melakukan hal yang penting. Kalau pun melakukan hal yang penting, adakah hal yang bisa menjadi lebih penting dibanding Shalat? bahkan ketika harus di tunda sesaat setelah wudhu?

Mungkin inilah salah satu manfaat shalat berjamaah, yaitu menundukkan hati. Ketika berjamaah, lepaskan pangkat jabatan nama besar status apapun yang menjadi kebanggaan kita di dunia. Dan izinkan diri kita di pimpin oleh siapapun yang menjadi Imam saat shalat. Jangan merasa lebih baik dari orang lain, karena mungkin orang yang kita anggap tidak-lebih-baik tersebut memiliki point yang sengaja Allah sembunyikan dari diri kita untuk kita gali lebih lanjut.

Silaturahmi.

Ini sudah pasti kita ketahui dari dulu. Shalat jamaah bisa membangkitkan silaturahmi yang mungkin lama terputus. Sering bertemu teman yang baru pulang dari merantau justru ketika Shalat Subuh berjamaah, atau bertemu teman lain yang juga sangat lama tidak bersua ketika Shalat Jum’at.

Membuat kita jadi lebih percaya diri

Entah hanya perasaanku saja atau memang begitu adanya, teman-teman yang jarang maju sebagai Imam, adalah teman-teman yang enggan mengutarakan ide atau segala bentuk kreatifitasnya. Mereka adalah teman yang selalu ikut di belakang. “Aku ikut ajalah” atau “Nurutttt..” adalah kalimat yang menjadi andalan mereka ketika sebuah ide di sampaikan ke forum.

Dengan menjadi Imam, kita belajar memimpin. Namun memang, yang kita pimpin adalah jamaah yang sedang menghadap Tuhan. Tidak main-main. Dan berat konsekuensinya. Tapi cobalah kita lihat dari segi pembelajarannya, siapapun bisa jadi Imam. Tinggal menepuk bahunya 3x, seseorang yang sedang shalat fardu sendirian bisa jadi Imam kita.  Dari situ kita yang mendadak Imam, bisa belajar memimpin.

Akui kesalahan dengan jujur

Apa yang terjadi ketika seorang makmum kentut ketika ia shalat berjamaah? Apa yang di lakukan Imam ketika dirinya kentut ketika memimpin shalat tersebut?
Mereka harus undur diri dan kembali setelah mensucikan diri mereka (wudhu).

Kenapa harus mundur? Bukankah tidak ada yang tahu karena kentut sangat pelan dan pasti tidak ada yang mendengar. Bahkan mungkin saja tidak berbau?? Jadi tidak ada yang mendengar dan mencium bau-nya.

Disinilah kita diajarkan untuk mengakui kesalahan kita walau kesalahan itu sangat kecil dan hanya kita yang tahu. eits..bukan hanya kita yang tahu. Melainkan Allah juga tahu. Kita di ajari untuk menyadari bahwa kesalahan kita – yang tidak kembali berwudhu – akan membatalkan seluruh jamaah. Karena ini berdampak pada jamaah, maka kita wajib untuk memperbaiki diri dengan kembali bersuci.

Aku yakin, masih banyak manfaat dari shalat berjamaah. Ini hanya sekelumit kecil darinya.

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai