Secuil Kisah Blogger Nusantara 2013

Event Blogger Nusantara 2013 memang telah usai. Namun hingga tulisan ini dipublikasi, masih terasa dengungnya. Apalagi di kedua telinga saya. Karena selama tiga hari berturut-turut, masing-masing disumpal dengan earphone handphone dan earphone HT. Tidak perlu dibayangkan hahahaha.

Semangat membara sudah berkobar sejak pertama kali diberi kabar bahwa akan diadakan di Yogya. Perasaan yang timbul persis seperti ketika akan naik panggung dan memainkan beberapa lagu. Memburu dan ingin segera tampil. Ingin rasanya mendepak penampil sebelumnya lalu merebut panggung mereka. Tapi apa mungkin merobek kalender?

Bertajuk “Blogger Nusantara, Blogger Istimewa”, BN kali ini berusaha mempersembahkan sesuatu yang sangat spesial. Pagelaran sebagai venue pembuka. Namun apa daya, satu dan lain hal membuat rencana ini berubah. Pagelaran urung menjadi venue dalam acara #BN2013 ini. Hanya dalam semalam, kami harus menjalankan plan B dan menyiapkan skenario. Semua divisi dilanda kepanikan. Setiap panitia dicekam kekhawatiran. Perintah untuk tetap tenang pun terdengar. Kami harus tetap tersenyum, tidak menunjukkan apa-apa. Dengan berdasar banyak pertimbangan akhirnya diputuskan venue pembuka dilaksanankan di Joglo Abang.

Fight for the Pride

Keputusan telah dibuat. Semua pihak segera melaksanakan apa yang telah diskenariokan. Bagian yang sudah dirancang dengan rapi harus rela diacak-acak lagi. Penjemputan yang sedianya dilaksanakan sabtu sore harus segera diubah menjadi sabtu pagi. Divisi dekorasi dilebur kedalam transport dan perlengkapan. Pembatalan beberapa pemesanan item perkap serta pemindahan drop point. Divisi acara pusing tujuh keliling karena harus merubah susunan rundown yang telah ada. Berlari, berlari tanpa berhenti. Fight for the Pride.

Jalan tak berujung

Kesana kemari, mondar-mandir Β seperti orang bingung mencari dompetnya yang hilang. Seperti itulah aktivitas panitia saat berada di lokasi. Event mana saja pasti terlihat seperti itu juga ya *tepok jidat. Jika jalanan yang dilewati bisa protes, mungkin ia akan komplain karena bosan melihat wajah yang sama. Beberapa terlihat sambil menenteng HT sementara yang lain menyimpannya sedemikian rupa sehingga mirip dengan intel yang menyamar. Kru Dokumentasi membidikkan kameranya kearah peserta – biasanya cewek cakep – yang tidak sadar telah menjadi model dadakan. Pose konyolpun tak lepas dari jepretan para juru kamera. LO juga tidak kalah. Mereka berjalan kesana kemari demi menjalankan amanah yang telah dibebankan kepada mereka. Sebagai ujung tombak pelayanan, mereka harus senantiasa dekat dengan para peserta. Dua hari blogger nusantara rasanya jalanan seperti tidak berujung.

Kopdar yang tidak Kopi Darat

Menyaksikan banyaknya peserta yang datang dari penjuru Indonesia, jantung ini berdebar lebih kencang. Terbayang nama-nama besar dari dunia blog. Para artis perbloggeran muncul di list peserta kopdar. Sebut saja Pakdhe Abdul Cholik, Kang Ndop, Gus Mul, Om NH, Bang Lozz cs, dan banyak dan banyak dan banyak lagi. Ada keinginan untuk berbincang lama dengan beliau-beliau ini namun panggilan tidak pernah berhenti melalui telinga sebelah kanan. Telepon dan sms juga tidak pernah surut. Alhasil mata hanya menatap layar handphone dan sesekali menyahut panggilan kawan panitia via HT. Hanya bisa sekedar “say hi” jika benar-benar longgar. Kopdar kali ini sepertinya bukan untukku, Kopdar yang tidak kopi darat.

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai