Sebuah Review : Bumbu Persatuan

Sebuah Review Artikel dari Artikel berjudul  Bumbu Persatuan Rasa Tawuran dari Pakdhe Cholik.

Gamblang. Sangat lugas disampaikan kepada para pembaca mengenai kondisi masyarakat yang gemar berkelahi, tawur, berperang namun bukan kepada kaum yang memang pantas diperangi melainkan kepada bangsa sendiri, kepada saudara sendiri. Terlebih melihat kenyataan yang ada dilapangan, mereka berkelahi, tawur saling bunuh kepada saudara seiman.

Hanya dengan masalah sepele dapat mengakibatkan tumpahnya darah yang tidak perlu. Hanya beda pendapat nyawa melayang, hanya beda klub sepakbola terjadi pembantaian. Dimana rasa kasih yang seharusnya ada di setiap hati manusia?

Benar. Bumbu persatuan harus saling mengerti, saling menghormati, saling menghargai. Mengertilah bahwa tidak semua orang sama pendapatnya, hormatilah perbedaan yang ada antara keduanya, dan hargailah meski dia bukan siapa siapamu.

Pakdhe telah menuliskan dengan gamblang, dengan jelas. Melihat dengan jernih akar permasalahan, merasakan dengan hati yang sedih sebuah wajah generasi. Generasi yang akan memimpin bangsa beberapa tahun lagi. Generasi yang seharusnya bersatu mengisi hasil tumpahnya darah pahlawan. Mengisinya dengan karya yang nyata, karya yang dapat dibanggakan dengan dada membusung. Sambil berkata “Aku Cinta Indonesiaku yang Bersatu”

Ingatlah pesan Pakdhe, Bumbu Persatuan Bukanlah Tawuran.

**

Artikel  ini untuk menanggapi artikel BlogCamp berjudul Bumbu Persatuan Rasa Tawuran tanggal 16 Juni 2012

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai