Sebelum engkau lahir

Kedua telapak tanganku saling kugesekkan. Seperti waktu aku kedinginan. Namun kali ini, mereka aku letakkan di perut Istriku yang sudah membuncit. Dengan lembut aku usap perutnya memutar seperti layaknya dua pesawat terbang.

“eh, aku mau coba sesuatu?” tiba-tiba terlintas ide di dalam otakku.

“Coba apa Yah?”

“Sesuatu. Kalo memang bisa seperti itu, mungkin… ah coba aja”

“Ayah mau ngapain sih??” Tanya Istriku penasaran. Ia letakkan buku cara cepat hamil yang tadi ada dalam genggamannya.

Aku diam saja. Masih dengan meletakkan telapak tanganku di atas perutnya, aku memejam mata. Berusaha tenang dengan mengatur nafas yang ada. Mengirupnya dan mengeluarkannya lagi. Terus secara konstan.

“Ayah ngapaiiin??” Tanya Istriku.

Aku biarkan Istriku penasaran. Setelah benar-benar merasa tenang, aku mulai mengucapkan sesuatu, namun kali ini kuucapkan dalam hati.

“Kalau kamu perempuan, tendang tangan kanan Ayah” Batinku.

Aku menunggu reaksi yang akhir-akhir ini makin meningkat. Kehamilannya sudah berusia 9 bulan. Tinggal menunggu kelahiran yang diprediksi dokter sekitar 25 Desember. “wah, kok bareng Natal ya” ucap Istriku waktu itu.

Aku menunggu cukup lama, namun aku tetap sabar. Karena memang terkadang ia tidak bergerak seharian. Hey.. aku merasakan tendangannya di tangan kananku!!!

Aku membelalakkan mata, dan dengan wajah bodoh aku pandangi Istriku. “Ayah kenapa sih??”
“Coba lagi” Ucapku mantab.

“Kalau kamu perempuan, tendang tangan kanan Ayah”

Lagi..!! aku rasakan tendangannya di tangan kananku lagi !!

“waaahh, coba lagi” Aku ketagihan. Kali ini aku rubah permintaanku. Aku ulang permintaanku hanya saja aku rubah menjadi ‘tangan kiri’. Tetap dengan kedua telapak tangan menempel di perutnya, aku berkata dalam hati.

“Kalau kamu perempuan, tendang tangan kiri Ayah”

Yes !! Dia menendang tangan kiriku !! hahahaha..aku kegirangan. Sedang Istriku dengan muka aneh memandangiku sedari tadi, seperti hendak berkata “Aku menikahi orang yang salah apa ya??”

“Coba lagi, tapi geser. Tadi disinikan, sekarang disini” Ucapku sambil menggeser dua telapak tangan,tentu tanpa mengangkatnya. Tidak kuhiraukan wajah penasaran Istriku. “Ahh, Ibu tahu. Dedek lagi maen sama Ayah, tapi ngga ngajak Ibu ya?” Ucapnya.

Aku tersenyum seraya berjanji akan menceritakannya nanti. Aku kembali menyampaikan permintaan yang sama kepada malaikat kecil ini .

“Kalau kamu perempuan, tendang tangan kanan Ayah.”

Dia menendang lagi dan ke tangan yang kanan. Reaksi kali ini cukup cepat. Aku segera mengulanginya lagi. Dengan agak keras ia menendang dimana tangan kananku berada. “Aduh, keras banget sih nendangnya” ucap Istriku.
Ah, sekarang ganti ke tangan kiri. “Kalau kamu perempuan, tendang tangan kiri Ayah”

Yess!! Sukses, tangan kiriku ditendangnya. Aku tersenyum sangat lebar, melebihi sungai Amazon mungkin. Tapi Amazon yang kering tanpa ‘air sungai’ yang tumpah ruah darinya. Kali ini aku memenuhi janji untuk menceritakan maksud dan tujuanku melakukan hal aneh ini. Semua kuceritakan, dari awal hingga akhir. Istriku diam hingga selesai aku bercerita.
“Masa sih bisa seperti itu, bisa tahu jenis kelamin hanya dengan komunikasi dengan bayi” tanyanya.
“Ya engga tahu, namanya juga eksperiment, kalo bener ya mungkin kebetulan, kalo betul ya mungkin..”

“Kebenaran” potong Istriku. Kami tertawa bersama. Buku cara cepat hamil itu ia ambil kembali.

“Eh Yah, aku pengen mie ayam” ucapnya dengan manja.
“Hadee, ini pasti hasrat pribadi atas nama ngidam” selorohku.
“Engga, ini yang minta dedek bayi”
“Masa sih, kok tadi engga bilang langsung sama Ayah ya?”
“Ayaaaahh, beliin yaaaa??” rengeknya sambil memukulkan buku itu di bahuku.

Berdasar pengalaman yang sudah-sudah, selama sebelum hamil, 9 bulan hamil dan selama pacaran. Permintaannya sudah seperti itu, persis seperti Ibu Ngidam. Harus dibeliin. Kalo engga bakalan ada teror di rumah, dengan anchor text sesuai keinginan. Kalau engga ingin denger kata “mie ayaaaam, mie ayaaaam ” sepanjang hari di seluruh sudut rumah, kuncinya – ini Pengalaman memenuhi keinginan ngidamnya ibu hamil hehehe- adalah : Segera di beli. Kalaupun harus di tunda, tunda dengan jangka waktu yang pendek. Misal kejadian sore, tunda sampai malam.

Tapi kalau minta sewaktu dini hari atau hujan, biasanya aku tolak. “Ayaaah ga sayang ya!!!” itu kalimat yang biasa Istriku ucapkan. Trus aku jawab “Iya”
Dan .. BUkkkkk jurus guling terbang bantal terbang.. tapi ga papa. Dari pada hujan-hujan terus masuk angin.

***

Tulisan ini di ikut sertakan dalam Giveaway Awal Maret 2012 : Pengalaman yang berkaitan dengan kehamilan

Kereta Api Idonesia

Ternyata lahir seorang anak laki-laki yang ganteng, seganteng Ayahnya.

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai