Ruang Kelas Kehidupan

ajarkan musik pada anak
bermain etnik musik dengan Mbah Kung

Disini saya tidak akan bicara ilmiah. Seperti penelitian-penelitian yang sudah dilakukan oleh para ilmuan. Mereka sudah memberikan yang terbaik dari apa yang mereka sanggup.

Saya akan berbicara, sejauh apa yang saya tahu dari apa yang saya alami dengan anak saya sendiri. Karena bagi saya, tingkah polah anak adalah Guru dan orang tua adalah Murid. Murid dari kelas kesabaran, kelas introspeksi diri, kelas ketekunan, kelas berbagi, dan banyak kelas yang bisa dimasuki asal kita mau membuka diri untuk belajar.

Ketika anak marah atau ngambek misalnya. Kita langsung memasuki kelas kesabaran. Kita belajar sabar, bahkan ekstra sabar. Karena yang kita hadapi bukanlah seorang yang logikanya sudah berjalan sempurna. Bukan seorang yang mampu memahami keadaan orang tuanya. Contoh : kata “nanti”. Ia tidak akan mendengar dengan tenang dan melaksanakan dengan taat. Yang ia ingin adalah “sekarang”. Jika kita dalam kondisi yang sangat tidak memungkinkan untuk melakukannya “sekarang” maka hal yang paling mungkin adalah kesal, jengkel, bahkan marah. Disini kita dituntut untuk belajar sabar. Kita menjadi Murid di kelas Kesabaran.

Bisa juga dianalogikan sebagai Pelatih dan Atlet. Seorang anak bisa kita sebut Pelatih dan orang tua sebagai Atlet. Sedikit contoh bisa saya berikan. Waktu Irul tiduran sambil melihat video kereta api di hape, saya hampiri. Sebelumnya saya mencomot kue dan memakannya. Sambil mengunyah saya rebah disampingnya. Irul berkata “Kalo maem jangan sambil bobok ya, ntar hok” (*hok bs.jawa = muntah).

Memang berulang kali kami selaku orang tua memperingatkan Irul, jika maem sambil bobok, ntar hok alias muntah. Dan pesan itu ternyata di ingatnya dengan baik. Segera saya masuki “ruang Atlet Konsekuen”. Saya berkata “oh iya” dan segera bangun, duduk dan memakannya hingga selesai.

Bisa digambarkan sebagai Perajin Perak dan Emas. Yang harus menyaring berkali-kali, memanaskan berkali-kali dengan kesabaran dan ketekunan. Tak kenal letih serta lelah. Hingga mendapatkan hasil terbaik.

Anak tidak hanya bagaikan selembar kertas putih, mereka bahkan bagaikan selembar kertas transparan. Yang akan berwarna sesuai dengan warna kehidupannya, dan bertuliskan seperti yang mereka dengar.

Related posts

6 Thoughts to “Ruang Kelas Kehidupan”

  1. Evi

    Anak dan orang tua adalah kelas kehidupan paling intens. Kedua subjek bergantian jd guru dan murid. Dan kesuksesan anak sbg murid tergantung pada orang tuanya

    1. Satusatuen

      setuju Bu

  2. Tuliskanlah sesuatu yang baik untuknya…. 😀

    1. Satusatuen

      yang indah dan bermanfaaat

  3. mmm.. semakin terbukti bahwa irul lebih pintar dari ayahnya.. lebih bisa mengajarkan arti kehidupan daripada ayahnya, bahkan ia (irul) justru mengajarkan “ilmu kasampurnaning dumadi” itu kepada ayahnya.. whahaha.. maka sepatutnyalah si ayah irul bangun dari kehidupannya selama ini yang bak mimpi saja –> irul says: ayah anun.. ayah anun.. ayah anun.. ups maas ya ayah..

    1. Satusatuen

      dasar wong edyan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: