Review vs Rupiah

Menyiasati Harga Review Yang Murah.

Beberapa waktu lalu, saya mengamati sebuah thread di grup yang biasa saya ikuti. Di thread tersebut sedang membahas harga postingan dalam blog. Rata-rata mengeluhkan harga yang ditawarkan pihak penyelenggara terlalu murah. Ada yang mematok rp 200rb dan mungkin ada yang lebih tinggi. Sehingga di thread tersebut banyak pihak yang menolak bahkan sudah menurunkan artikel yang telah ia buat.

Sah-sah saja ketika kita mematok standar harga atas jasa yang kita berikan. Seperti halnya servis AC misalnya. Ganti freon berapa ribu, perbaikan berapa ribu, dan lain-lain. Itu boleh. Urusan blog juga seperti itu. Menulis 400 karakter berapa ribu, 800 karakter berapa ribu, 1000 karakter keatas berapa ribu. Rasanya sama saja, lha wong masuknya ke ranah bisnis jasa.

Yang jadi persoalan adalah ketika pengguna jasa hanya mematok 100 ribu untuk satu review, misalnya. Lantas bagaimana menyiasatinya jika ternyata njenengan, blogger, menginginkan lebih dari itu?

Mungkin ide ini bisa diterapkan atau bahkan mungkin ada yang sudah menerapkan. Semoga saja berguna. Begini, saat saya membaca thread tersebut, saya teringat seorang kawan pernah mengatakan bahwa hotel A (inisial hotel terkenal) juga memiliki hotel-hotel yang berbintang lebih kecil. Tiba-tiba saya juga teringat harga beras yang dijual di warung. Hotel dan beras tersebut memiliki persamaan. Harga dan spesifikasi yang bertingkat.

Hotel A yang berbintang empat, memiliki anak perusahaan sebut saja hotel B yang berbintang tiga dan seterusnya. Dagangan Beras di warung juga demikian. Ada yang seharga 10 ribu keatas dengan kondisi yang bagus, utuh-utuh lagi pulen, wangi dan sebagainya. Ada juga yang seharga 9 ribu ke bawah dengan kondisi yang seadanya, patah-patah, pulen, tidak wangi dan seterusnya.

Pelanggan yang akan menentukan sendiri. Yang ingin menginap di hotel, dompet terbatas, tentu akan memilih yang sesuai isi kantong. Hotel A akan merekomendasikan hotel B atau C atau D. Yang butuh beras akan memilah sesuai selera, namun jika seleranya ternyata tidak cocok di dompet, tawaran akan diarahkan ke beras yang sesuai budgetnya. Sama persis dengan bidang jasa atau barang konsumtif yang lain. Coba hampiri SPG/SPB yang senyum-senyum di konter handphone terdekat. Ia akan menawarkan banyak handphone dengan harga dan spesifikasi yang berbeda, setelah menyapa “silahkan kakak, lihat-lihat juga boleh”. 😀

Mungkin ini bisa diterapkan oleh Blogger-blogger yang budiman. Kelola banyak blog dengan spesifikasi berbeda. Bukan niche lho ya. Yang satu PR 0, berikutnya PR 1, kemudian PR 2, dan seterusnya. Masing-masing dengan trafiknya yang berbeda. Tentu masing-masing dengan patokan harga yang berbeda pula.

Nah, memiliki banyak blog dengan keunggulan dan kekurangan masing-masing, tentu akan lebih mudah menawarkan kepada calon pengguna jasa. Budget anda sekian, maka ini tawaran saya. Kurang lebih begitu. Sisanya tinggal bagaimana closing.

“Mengelola banyak blog? Sepertinya sulit. Iya, pasti sulit. Butuh waktu yang lama inih”.

Rasa-rasanya hal tersebut bukan perkara yang sulit bagi blogger. Kecuali njenengan blogger yang penyendiri dan tidak tahu adanya blogger lain yang telah mengelola banyak blog. Yang dibutuhkan akhirnya adalah jari yang mau mengetik.

Em, last word. Rezeki jangan ditolak. 😀

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai