Belajar Menemukan Jati Diri Pada Pesona Desa Dermaji

Dermaji yang mempesona

Saat membaca lokasi kunjungan kedua pada Juguran Blogger 2016 yang diadakan di Desa Dermaji, saya langsung mencari lokasi desa tersebut melalui Google Maps. Seketika juga, aplikasi gratisan tersebut menunjukkan balon lokasi di antara pegunungan-pegunungan. “Wow” hanya itu komentar saya.

Selebihnya, saya langsung masuk ke ruang imajinasi dan menemukan sebuah desa diantara bukit-bukit yang hijau. Sebuah desa dengan pematang sawahnya. Sebuah desa dengan kabut putihnya. Sebuah desa dengan aroma segar udara paginya.

Selama perjalanan menuju desa Dermaji, saya merasa imajinasi saya pelan-pelan terwujud. Kami melintasi kawasan hutan. Melintasi pinus-pinus yang tinggi. Melintasi daun-daun yang selalu menari.

Saya membuka jendela bis. Meletakkan dagu di tepiannya. Angin beramai-ramai menyapu wajah hingga terasa begitu dingin.

Dermaji, seperti apa ya desa ini?

Nama desa Dermaji berasal dari kata “Derma” dan “Aji”. Derma yang berarti “memberi” dan Aji yang berarti “kuat atau lebih”. Filosofinya kurang lebih, memberi kepada sesama dengan lebih.

Berada diantara perbukitan kapur, Dermaji memang dingin. Kamu perlu membawa jaket biar tidak kedinginan. Dengan luas 1302 hektar, desa yang berada diantara bukit-bukit yang hijau ini memiliki spot foto yang keren abis. Beberapa diantaranya sampai disebut “Ubud”-nya Dermaji.

ubud desa dermaji

berpose di “Ubud” desa Dermaji. foto by Rian

Dermaji juga punya curug yang keren, sob. Tapi kamu harus tracking dulu untuk menikmatinya. Memasuki hutan Wanasuta dan kemudian menjamah air terjunnya akan terasa sangat melegakan. Airnya dingin dan segar. Saya sampai ingin mandi dengannya.

curug wanasuta desa dermaji

Curug Wanasuta desa Dermaji. foto by Pradna

Selepas tracking, akan sangat menyenangkan apabila bisa menikmati segarnya air kelapa muda. Capek lelah akan hilang seketika bersama hembusan angin di hutan pinus yang lebat.

hutan wanasuta

Segarnya air kelapa muda setelah tracking di Hutan Wanasuta. foto dok pribadi.

Sintren Menyintren Hati

sintren desa dermaji

Sintren yang mistis. foto by Yugo.

Tidak hanya landskap alam yang cantik yang dimiliki oleh Dermaji. Dermaji juga tidak hanya Curug Wanasuta atau hutan pinus yang rimbun nan asri. Dermaji memiliki kesenian-kesenian yang digarap dengan serius dan ke depan akan membuat taman seni budaya. Dermaji juga ingin membuat sendratari babat Dermaji yang akan menampilkan sejarah Dermaji dalam bentuk tarian dan seni.

Salah satunya adalah kesenian Sintren. Apa itu Sintren? Sintren adalah salah satu kesenian tradisional masyarakat pesisir Jawa Tengah. Sintren diperankan oleh seorang gadis yang masih suci yang dibantu oleh pawang dengan diiringi gending selama pertunjukan berlangsung. Dalam pertunjukan tersebut, pawang memanggil roh Dewi Lanjar untuk masuk ke dalam penari Sintren. Bila roh Dewi Lanjar berhasil diundang dan merasuki penari Sintren, maka penari akan terlihat cantik dan tariannya akan lebih mempesona.

Gerakan penarinya terkesan monoton. Begitu juga dengan gending yang dimainkan. Namun kesan mistis sangat terasa selama pertunjukan itu berlangsung. Bagi kamu yang belum pernah menyaksikan kesenian Sintren ini, cobalah untuk meluangkan waktu melihat secara langsung. Kemudian rasakan perubahan atmosfer selama gending dimainkan dan sang penari menari.

Museum Naladipa

Pernah terpikirkah atau terbersit di kepala, kira-kira bagaimana keadaan anak cucu kita kelak apabila tidak mengenal leluhurnya dahulu? Kita, perlu untuk menggali dan belajar banyak pada sejarah. Untuk melihat jati diri dan semua itu untuk membangun masa depan yang lebih baik.

bayu setyo nugroho

dok pak Lurah

Atas dasar itulah, Lurah Desa Dermaji, Bayu Setyo Nugroho mendokumentasikan barang-barang kuno yang akan sangat sulit ditemukan di kemudian hari. Lebih-lebih pada waktu cucu cicit kita menjalani hidup mereka yang lebih modern. Dan akhirnya dibangunlah museum desa dengan nama NALADIPA. Nama kepala desa pertama di desa Dermaji.

museum naladipa dermaji

coba sebutin satu-satu tanpa baca captionnya. dok pribadi.

Museum Naladipa sering menjadi sumber belajar, khususnya Pelajar Sekolah Dasar dalam mengenal alat-alat yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Mereka bisa mengamati dan belajar secara langsung alat-alat yang pernah digunakan oleh masyarakat Dermaji. Seperti terlihat pada gambar diatas, ada Bokor Gagar Mayang yang dipajang di museum ini. Dulunya, masyarakat Dermaji menggunakan alat tersebut untuk digunakan dalam memperindah prosesi pernikahan. Coba kamu tebak, yang mana Bokor Gagar Mayang?

Portal Desa Dermaji

Diprakarsai oleh Bayu Setyo Nugroho, terbentuklah portal desa yang sangat bermanfaat untuk memberikan informasi kepada dunia luar akan perkembangan desa Dermaji yang tidak berhenti membangun. Kita juga bisa memonitor apa saja yang terjadi di sana dengan mengunjungi http://dermaji.desa.id/.

portal berita desa dermaji

portal berita Dermaji

Selain berita kegiatan atau laporan kegiatan yang dilakukan staf pemerintahan desa, portal berita juga memuat potensi desa yang unik dan beragam. Contohnya, Bowo yang merupakan penatah wayang kulit dari desa ini. Atau Warsono sang pembuat kerajinan dari bambu yang karyanya bisa memperindah rumah kita dan masih banyak lagi potensi yang lain.

Di bawah ini adalah tayangan dokumenter ALA INDONESIA di TVONE yang menampilkan Desa Dermaji dan Kepala Desanya yang fenomenal. Kepala desa termuda sekabupaten Banyumas tersebut pernah mendapat anugerah Inspiring Young Leader yang diserahkan langsung oleh Presiden Jokowi.

 

Pesona di Desa Dermaji, desa yang jauh dari hingar bingar perkotaan. Desa yang mungkin dipandang sebelah mata namun memiliki semangat yang tidak kalah dari desa manapun. Menemukan jati diri untuk membangun masa depan bukanlah pepesan kosong. Segepok agenda dan prestasi yang telah dicapai adalah bukti dari kesungguhan.

Derma Aji, memberi lebih kepada sesama, kepada generasi penerus bangsa.

Baca sebelumnya : Berkenalan dengan Gurihnya Kerupuk Ampas Tahu Kalisari

Jalan menuju desa Dermaji

Lantas, bagaimana jalan menuju desa Dermaji

 

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai