Pemimpin dan Keyakinan Umat

Ibn umar r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban  perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya. (bukhari, muslim)

Sebenarnya ini bukan wilayah saya untuk bicara. Namun keprihatinan saya-lah yang menggerakkan jari ini untuk mengetik huruf demi huruf. Saya benar-benar sedih, ketika membaca sebuah artikel berkaitan dengan hilal dan sidang hisab yang dilakukan pemerintah di salah satu portal berita. Dikabarkan bahwa salah satu tokoh islam di Indonesia mengatakan “Wilayah keyakinan bukan wewenang pemerintah. Pemerintah tidak boleh memasuki wilayah keyakinan. Dia hanya perlu mengayomi saja

Saya terdiam, tidak percaya dengan apa yang saya baca. Berharap bahwa ini hanya sekedar guyonan. Bagaimana tidak, saya, meski bukan pemimpin Indonesia atau pemimpin organisasi namun saya pemimpin rumah tangga saya. Saya membawahi istri dan anak-anak saya. Jika mereka “tersesat” maka Allah akan bertanya mengenai kepemimpinan saya. Bagaimana “rakyat” saya bisa tersesat. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya.

Itu dari satu hal kecil saja, meski ini bukan hal sederhana. Sedangkan yang diucapkan Beliau adalah hal yang sangat besar. Meliputi keyakinan banyak orang. Keyakinan rakyat suatu bangsa, meski tidak satu keyakinan yang sama. Pemimpin bangsa, akan ditanya perihal apa yang dipimpinnya. Dan jika rakyat yang dipimpin, “terjerembab kedalam lumpur” karena kesalahan suatu putusan perkara, sebuah kabar buruk bagi pemimpin bangsa tersebut.

Orang tua berhak mencambuk anaknya yang enggan sholat. Bukankah itu artinya orang tua memasuki keyakinan anaknya. Mereka berhak atas itu karena mereka pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban atas diri rakyatnya (baca : anaknya). Yang saya garis bawahi disini adalah “memasuki wilayah keyakinan“. Dan apakah seorang pemimpin bangsa tidak boleh memasuki wilayah keyakinan rakyatnya hanya karena sudah bukan bocah lagi? hanya karena mereka sudah pandai menentukan jalan sendiri?

Maha Suci wahai Engkau Pemilik Ilmu, ya Allah.

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai