Pada Suatu Ketika

Matahari belum tinggi benar, namun cahayanya mampu membuat orang-orang di jalanan membuka gas lebih lebar dan memacu kendaraannya lebih cepat. Andai saja mereka membuka keran “bangun lebih pagi” dan “menyiapkan lebih awal” mungkin ketergesa-gesaan itu tidak perlu ada. Wajah-wajah kalut dengan tingkat ego level akut membuat kondisi jalanan semakin semrawut. Meliuk-liuk di jalanan yang tidak rapi, seakan ingin mengatakan “Akulah yang paling berkepentingan disini !!”.

Ada juga wajah “orang penting yang sibuk” yang menomor-satukanĀ  membalas SMS daripada nyawanya ketika berkendara. Seakan jika terjadi adegan terjatuh berguling dan mencium aspal, ia akan menggunakan jasa Stuntman untuk scene tersebut. Orang tipe inilah yang benar-benar menghayati bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara.

Ada juga beberapa pengendara yang mungkin terlalu lama di Luar Negeri. Yang menjalankan kendaraannya di sebelah kanan. Dan setiap yang berpapasan akan membunyikan satu-satunya alat musik di kendaraan mereka. Klakson

Tiba-tiba, “Bruaaaakkkk!!”
Sebuah suara memecah ketakzimanku memperhatikan egoisme pagi hari. Beberapa orang terbaring di tengah jalan dan merintih kesakitan. Tak butuh waktu yang lama, untuk merubah jalanan yang sempit tersebut penuh dengan masyarakat yang ingin menolong maupun hanya melihat-lihat. Mendadak mereka bak seorang profesional dengan analisisnya yang kerap mengundang tanda tanya. Ada yang berkata begini, ada yang berkata begitu. Semua muncul berdasarkan sudut pandangnya sendiri.

Para “Aktor” yang ternyata tidak menggunakan jasa Stuntman dan telah membuktikan bahwa aspal ternyata Keras, mampu melukai siku, paha dan beberapa bagian tubuh mereka, tidak mau kalah. Mereka merasa masing-masing benar. Karena “benar”-nya mereka atas dasar standar yang ditetapkan oleh dirinya sendiri. Namun sang pengadil datang. Sosok yang mengenakan seragam coklat dengan rompi hijau menyala tersebut tiba disaat yang “tepat”. Disaat penjual soto memungut 2 mangkok kotor sisa sarapan pagi mereka.

Jalanan makin padat, karena pandangan mata pengendara bukan untuk memperhatikan arah jalan. Melainkan menyaksikan kejadian itu dengan kecepatan rendah. Dan mungkin bisa menjadi bahan cerita di kantor nanti.

Beberapa tampak tidak mempedulikan apa yang terjadi, dan berlalu begitu saja dengan kecepatan tinggi. Melibas tikungan dengan matic garputalanya yang telah dimodif sedemikian rupa. Kekreatifannya bahkan menyentuh ukuran Ban. Seakan semakin kecil ukuran semakin seksi tampilannya. Melupakan fakta bahwa nyawa mereka berada diatas roda yang hanya beberapa centi. Ah..andai kata semua orang mau mencoba menghitung ukuran sebenarnya bagian sebuah ban yang menapak di jalanan. Mereka akan mendapati hanya beberapa centi saja.

Sudahlah, semangkuk bubur kacang hijau ini terlihat “menantang” dan ingin di “hajar” untuk perut yang lapar.

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai