Nilai Bukan Kepandaian

Nilai rapor.

Hehehehehe.. beberapa namun pasti banyak ,sedang membahasnya. Ada yang dengan pasti mengatakan..”aah, gampang. Pasti bagus” Ada juga yang dengan pesimis sambil dilipat mukanya berujar, “Ayah Ibu pasti marah besar nih. Aku ga belajar kemaren”. Ada yang berharap cemas “duuuuh nilaiku berapa ya??” karena ia juga ikut program Bimbel di kotanya.

Terlepas dari itu semua. Saya ingin menuliskan disini, sedikit perasaan masa lalu baik itu diri sendiri maupun teman-teman saya dahulu. Yang ternyata juga dialami oleh siswa-siswi kebanyakan. Yang mana ternyata kalo di dalami, hal ini menyangkut Cara Didik.

Sebagai anak pertama dari keluarga tidak mampu. Ada semacam gengsi, apabila mampu menyelesaikan ujian dengan nilai memuaskan, baik itu ujian caturwulan maupun ujian akhir. Saya belajar mati-matian. Sebelum tidur dan sesudahnya. Kira-kira di waktu subuh. Hal ini di ulangi hingga menjelang ujian. Bahkan lebih intensif dari sebelum hari H ujian datang. Waktu itu yang saya tahu hanyalah, belajar karena mengejar bea siswa. Karena memang itu yang dikatakan orang tua. Kalo tidak belajar, tidak pintar, jadi tidak dapat bea siswa, kalo tidak dapat beasiswa tidak dapat sekolah, orang tua tidak dapat membiayai. Dan yang mengejutkan, beberapa teman juga meng-amini hal itu. Mereka mengatakan hal yang sama. Berarti orang tuanya juga mengatakan hal yang sama.

Dan tahukah apa perasaan kami ketika kami menjalani ujian tersebut???

Beban Mental, Yang sangat berat. Ketika pertanyaan satu demi satu di jawab, yang mudah mungkin dengan cepat terselesaikan. Namun ketika sampai pada yang menurut kami sulit, waaah bukan main godaannya saat itu. Nyontek, tanya teman, jawab asal-asalan, semua muncul di kepala kami. Karena MENGEJAR NILAI. Nilai bagus? Masuk Rangking. Rangking bagus? dapat Beasiswa. Dapat beasiswa? Bisa lanjut sekolah, Orang tua bangga. Ketika ada tetangga bertanya, “Wawan dapat rangking berapa?“. Dengan bangga orang tua menjawab “Rangking Satu“. Wajah saya dan orang tua ceria. Tetangga menambahkan “wah PINTAR yaa. Si fulan CUMA dapat rangking dua. Ga belajar sih “. Tetangga lain nimbrung “Mending itu jeng, anakku BODO banget.” Masih dengan muka kusut, beliau berkata “Gara-gara main sepak bola nilainya jelek banget, RANGKING terakhir dia“. Senyum saya hilang, saya flashback ke beberapa bulan sebelumnya. Dimana saya belajar IPA melalui fulan, dan anak yang dapat rangking terakhir tadi lebih jago main sepak bola dari pada saya yang cuma bisa nonton di pinggir lapangan. Berarti mereka berdua juga PINTAR kan?? Hanya saja mungkin bagi fulan, IPA jauh lebih mudah dan menyenangkan dari pada PPKN dan mata pelajaran lain. Ia lebih cenderung di bidang sains. Dan teman yang satu lagi, lebih suka di bidang olahraga daripada┬á pelajaran akademis. Apalagi ditunjang dengan postur tubuh yang ideal untuk menjadi atlet. Mereka terlanjur di cap BODOH bahkan pertama kali oleh orang tua sendiri.

Menyedihkan.

Semasa SMP dan SMA, saya tidak lagi terbebani dengan beasiswa. Karena udah ga peduli lagi, Mau sekolah atau engga. Tapi bukan berarti tidak belajar, hanya tidak se-intensif waktu SD. Saya sudah berfikiran bahwa setiap anak memiliki kecenderungan tersendiri waktu itu. Saya melihat hal itu dan mencari bukti-buktinya yang lain. Beberapa teman yang jago Basket ada yang tidak naik kelas, bahkan ada seorang teman yang pandai bermusik, rela tidak masuk kelas demi festival band di luar kota, dan ternyata nilainya memang jeblok. Beberapa anak orang kaya kedapatan berusaha membeli bocoran soal. Yang sudah pasti karena tertekan dengan NILAI dan mungkin kalo di cari benang merahnya akan berakhir pada IMAGE orang tua.

Lalu jalan keluarnya bagaimana?

Saya tidak tahu. Saya tidak bisa melakukannya. Namun kita bisa.

Setidaknya jangan membandingkan anak anda dengan kepandaian anak orang lain. Jangan selalu mengaitkan nilai dengan kepandaian. Jangan jadikan nilai sebagai standar utama pandai bodohnya seseorang.

Saya pernah memperhatikan wajah seorang anak SD yang memiliki nilai dibawah rata-rata dan dimarahi Ibunya. Sangat tertekan. Saya iba melihatnya. Saya yakin anak itu telah berusaha dengan sekuat tenaga. Semaksimal mungkin. Orang tualah yang meremehkannya.

Para orang tua…. Tolong sadarlah..

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai