Pantai Ngéden, The Falling Eden. Cantiknya seperti kamu

pantai ngeden pantai baru gunung kidul

Pantai Ngeden. Dari sisi timur. dok pribadi

Piknik lagi, piknik lagi. Setelah sebelumnya nglurug ke pantai Klayar, kali ini yang menjadi target kunjungan adalah pantai Ngeden. Belum banyak yang tahu pantai ini.

Seperti sebelum-sebelumnya, saya selalu mencari pinjaman motor untuk memuaskan hasrat mblusuk-mblusuk ini. Motor yang sehari-hari saya pakai adalah motor lawas yang kurang mampu untuk diajak naik turun gunung. Semoga saja ada rezeki nomplok menghampiri untuk membeli atau menggantinya dengan yang lebih baik. Atau mungkin ada yang berminat membiayai blusukan ini? Wah saya sangat senang menerimanya. 😀 😀

Pantai Ngeden ini belum banyak yang tahu, saya kira begitu. Waktu meminjam kendaraan, saya berkata akan digunakan untuk ke pantai Ngeden. Pemilik motor justru bertanya balik “dimana itu? Aku belum pernah dengar.”, Saya menjawab singkat “di Gunung Kidul”. Sama halnya dengan saat bertanya kepada mbah dukun Gugel tentang rute terdekat ke pantai Ngeden. Yang ditampilkan di laman pencarian adalah satu pantai dengan nama yang banyak. Ngedan/Ngeden/Ngaden muncul di gmaps dengan percaya diri. Wah, mbah gugel aja bingung nama aslinya yang mana.

Ternyata nama sebenarnya adalah Ngéden. Entah asal mula penamaannya bagaimana. Tapi yang jelas, Ngéden indah bak Eden yang jatuh ke bumi. Eh, mungkin itu kalik ya kata dasarnya. Mungkin dahulu kala ada seorang alim yang mampir ke pantai itu dan terpesona akan keindahannya. Kemudian ia berkata “Eden, Eden” sebagai ungkapan ketakjubannya. Kemudian penduduk lokal bertanya “Pripun pak?”. Orang alim itu menjawab “Ngeten pak, Ngeten” jawabnya sambil mengacungkan jempolnya. Ahahahahaha… kisah diatas hanya karangan saya saja lho. Jangan dipercaya sepenuhnya.

Tapi keindahan Ngéden patut anda percaya. Meski akses jalan menuju kesana cukup sulit, namun anda akan mendapatkan keindahan yang setimpal. Bahkan akan disuguhi pemandangan 3 pantai sekaligus. Sebut saja Pantai Ngéden 1 sebagai pantai utama. Pantai yang menyambut anda datang dan menjadi lokasi parkir kendaraan. Kemudian Pantai Ngéden 2 yang bisa dijumpai apabila anda menyisir jalan diatas bukit sebelah kanan pantai utama. Jika terus berjalan hingga ujung jalan, anda akan menjumpai Pantai Ngéden 3. Di pantai ketiga ini, ada sebuah gazebo di ujung tanjung. Gazebo yang akan menjadi saksi betapa narsisnya kita semua atau menjadi saksi betapa kita sangat kecil.

Yang saya sukai dari sebuah pantai bukan pesisirnya, melainkan bagaimana upaya untuk menikmati pantai dari atas bukit. Karena pemandangan pantai dari atas bukit jauh lebih cantik. Di Pantai Ngéden, kita mendapatkan pemandangan tersebut. Setelah menitipkan kendaraan, silakan mengikuti jalan yang sudah disediakan, susuri pinggir bukit. Saksikan perpaduan antara pemandangan laut, bukit yang hijau, langit biru serta semilir angin dan deburan ombak. Saya memang rakus, enggan hanya menikmati pesisir pantai.

Biota lautnya cukup beragam.Umumnya mereka bisa ditemukan di bawah batu karang. Bulu babi, keong, ikan, bintang ular, dapat anda cari di sela-sela karang. Beberapa kali sekelebatan ular laut di sana. Tapi kecil, mungkin cucunya ular laut. Terpesona boleh, tapi tetap waspada.

Pantai Ngéden ini belum sepenuhnya siap untuk menerima pengunjung yang terus berdatangan. Jika seorang kritikus datang, pasti ia akan berkata bahwa belum ada toilet/kamar kecil yang memadai. Saat tulisan ini dibuat, kamar kecil baru bisa ditemukan di Pantai Ngéden 2, itupun dengan air tadah hujan sebagai air utama. Sedangkan di pantai 1, terlihat satu unit kamar kecil belum selesai dibangun. Lebih-lebih di pantai 3, baru ada gazebo dan warung. Jadi jika saat menikmati panorama laut Pantai Ngéden yang keren, tiba-tiba kebelet beol, silahkan lari sekencangnya ke pantai 2 untuk bertapa dan ngeden di dalamnya. Semoga air tadah hujannya masih ada.
Dan tidak antri. :v Karena rest room-nya hanya satu.

Berbeda dengan beberapa tahun lalu, saat pertama kali berkunjung di pantai ini. Jalan penghubung pantai satu dan lainnya belum sebagus sekarang. Masih jalan setapak yang tidak memungkinkan untuk berlari jika kebelet. Itupun juga tidak tahu mau lari kemana, wong belum ada toilet. Juga belum ada gazebo, warung pop mi / mie ayam, dan penjaga parkir. Belum banyak orang yang datang yang artinya tidak ada sampah. Belum ada tempat sampah, meskipun sekarang juga belum ada. Dan permukaan jalan menuju pantai yang rusak parah.

Sekarang, jauh lebih bagus. Sepertinya ada perhatian dari pihak pemerintah. Beberapa kilometer jalan sudah beraspal baik, yang 2 kilometer-an masih sama rusaknya. Lahan parkir pinggir pantai sudah memadai, ada rest room, ada jalan penghubung pantai, dan ada warung buat yang lapar. Tinggal menyediakan mushola untuk pengunjung atau sepasang muda-mudi yang inget sholat.

Pantai Ngéden, the Falling Eden sedang bersolek. Berbenah demi menjadi pantai idola yang akan menyerap pengunjung dari berbagai kota. Pantai yang semoga tetap bersih, tidak bergeronjal lagi, dan tetap menawan hati.

Kapan kamu mau maen ke Pantai Ngéden?

~

Sponsor tulisan : —

 

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai