My Grandpa My Hero

Diujung desa, dua letusan terdengar. Satu pemuda terkapar. Beberapa pemuda lari tunggang langgang. Senapan yang ditentengnya tidak mampu memberikan keberanian. Lubang di bahu rekan lainnya cukup memberikan pukulan di mental dan mampu membuat mereka tidak bangkit melawan.

Dari arah berlawanan, seorang pemuda menghampiri. “Londo kui ditembak! ora ditinggal mlayu!” serunya. Sekumpulan pemuda itu masih dengan wajah ketakutan mencoba menggenggam kembali senapannya yang hampir terlupa. “Tapi jumlahe akeh tenan” ucap salah satunya. “dibedhil rak yo mati”. Balas pemuda itu.

Namun seruan itu tidak cukup membuat nyali yang telah menciut, mengembang kembali. Ia lekas bersembunyi di sungai tak jauh dari ia berdiri. Sungai yang cukup dalam untuk menyembunyikan tubuhnya. Ia menahan nafas selama mungkin saat Tentara Belanda menyisir pinggirannya. Pemuda itu merapatkan tubuhnya di pinggir sungai sambil tetap menyelam. Beruntung, tentara itu tidak menemukannya. Tidak puas akan hasil yang dilihatnya, tentara-tentara itu menembaki sungai membabi-buta. Sang pemuda semakin merapatkan tubuhnya. Sebuah aba-aba terdengar. Tembakan dihentikan. Mereka melanjutkan penyisiran.

Setelah memastikan keadaan aman, pemuda itu keluar dari air. Ia merayap. Naik menuju jalan tak jauh darinya. Dilihatnya 7 orang tentara Belanda sedang mengawasi rimbunan pohon. Satu dari mereka memberi kode. Peluru dimuntahkan kearah pohon tadi. Tidak terjadi apa-apa. Pemuda itu merasa lega. Kawan-kawannya tidak berada disana.

Beberapa menit berlalu. Ia terus menguntit. Sambil menyiapkan dua pistol ditangannya. Ia menunggu waktu yang tepat. Langkahnya dibuat sesenyap mungkin. Salah satu dari mereka berbicara sambil mengalungkan senapan. Beberapa yang lain menyulut rokoknya. Entah apa yang dibicarakan namun mereka semua tertawa. Mereka berjalan dengan langkah santai.

Setelah berhitung segala kemungkinan, pemuda itu membulatkan tekad. Dua pucuk pistol telah siap dalam genggamannya. Secara tiba-tiba ia menembaki 7 tentara Belanda itu dari belakang. Dua langsung tewas seketika. Disusul tiga yang lain dengan beberapa peluru bersarang di dadanya. Belum sempat menyiapkan senapannya, satu orang lagi tumbang. Timah panas menembus dahi. Satu tersisa. Ia menembaki pemuda itu. Namun itu seperti yang diperhitungkan. Pemuda itu sudah bersembunyi dalam lebatnya hutan. Ia menang tempat. Desa itu adalan tempat ia dilahirkan. Desa yang menjadi tempat bermainnya. Seluk beluk hutan sudah ia hafal.

Ia dapat melihat dengan jelas, tanpa diketahui keberadaannya. Sedangkan musuh kebingungan mencari tempat pemuda itu bersembunyi. Nafasnya memburu, keringat membasahi sekujur tubuh. Ia berkali-kali memutar badannya. Mengawasi semua arah sendirian. Jari kanan siap menarik pelatuk. Moncong senapan tepat kearah depan. Pemuda itu tidak mau gegabah. Ia terus diam mengawasi.

Tentara itu mulai ketakutan. Ditembaknya segala penjuru hutan. Mungkin ia merasa nyawanya sudah berada di ujung tanduk. Tiba-tiba senapannya macet. Pelurunya habis. Ia harus mengisinya lagi.

Dorr!!!! Dorr!! Dorr!! Dorr!! terdengar tembakan beruntun. Tentara itu terjerembab berkalang tanah. Kepala dada dan perutnya berlubang.

“eh Kek, biasanya kan pejuang bawa senapan. Kok kakek Pistol?” tanya ku setelah kakek bercerita panjang lebar.
“Pistolkan saat itu dipegang komandan tho?” lanjutku.
“Kakek juga punya senapan, tapi kurang suka. Karena itu kakek merampas pistol yang dibawa”
“Merampas komandannya?”
“iya”
“Pakai senapan?”
“Engga, bunuh pakai pisau”

Ah kakek, seandainya mereka tahu betapa keras perjuangan engkau dan kawan-kawan pejuangmu. Mereka pasti tidak akan menjual negara ini. Semoga kau tenang dalam pusaramu.

 

———-

Londo kui ditembak! ora ditinggal mlayu!” : “Belanda itu ditembak, bukannya ditinggal lari.”
“Tapi jumlahe akeh tenan” :  “Tapi jumlahnya banyak banget”
“dibedhil rak yo mati” :  “ditembak pasti mati”.

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai