Mudahnya Melupakan

Sering kali dihadapkan dengan rencana-rencana Tuhan yang kita tidak mengetahui dan sesering itu pula kita lupa dengan tersenyum. Entah bagaimana seakan tersenyum menjadi sangat asing dan sangat sulit dilakukan. Lantas menghitung kembali sejumlah kegagalan dan lupa keberhasilan yang telah diraih. Mudah pula melupakan syukur ketika rezeki berlimpah ruah namun begitu mudahnya mengeluh ketika kesulitan berada dihadapan mata. Mengapa lebih memilih untuk melupakan?

Sangat mudah untuk melupakan Cinta. Jutaan cinta yang diberikan setiap hari begitu mudah dilupakan hanya karena sebuah kesalahan. Lebih memilih Amarah daripada Memaafkan. Satu kesalahan menjadi begitu besar dan menutupi semua kebaikan yang pernah dilakukan. Seakan butuh hari khusus danĀ papan tulis raksasa untuk mengingat jasa dan kebaikan. Hari Ibu misalnya.

Omong kosong yang mengatakan “mencintai ibu ada di setiap hari”. Bullshit yang mengatakan “mencintai ibu tidak hanya di Hari Ibu saja”. Lihatlah kedalam. Berapa banyak waktu yang terbuang untuk diri sendiri?
Berapa banyak waktu yang terbuang dengan pacar?
Berapa banyak waktu yang terbuang untuk memuaskan hobi dan kesukaan?
Lebih memilih update status di jejaring sosial ketimbang berbincang dengannya. Seberapa sering memikirkan kondisi kekasih daripada Ibu? Berapa persen ruang ingatan untuk kebaikan Ibu dan kebaikan pacar kesayangan? Begitu mudahnya menghapus dan melupakan kebaikan. Begitu mudahnya mengingat kesalahan. Begitu mudahnya memilih Kemarahan. Begitu sulitnya mengingat Maaf dan Senyuman. Buta betapa besar nilainya.

Cintai setiap hari. Sadari betapa besar nilainya sebelum tidak lagi di sisi.

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai