Pattaya-nya @JogjaParadise Seperti Bunga

Pattaya-nya Jogja Paradise seperti bunga

Terkadang, makan tidak hanya sekedar memasukkan makanan kedalam mulut,mengunyah kemudian menelannya. Seringnya, kita menjadi ahli kuliner dadakan ketika makanan dan minuman disajikan di hadapan kita. Semua menggunakan standar lidah masing-masing. Pastinya menggunakan standar suka-tidak suka.

Persis saat ketika makanan pesanan tiba di hadapan kami. Nasi Goreng Pattaya ala Jogja Paradise hadir dan menantang untuk segera dihabisi. Namun jatah itu bukan untuk kami, melainkan untuk bocah kecil yang dari siang hanya mengisi perutnya sangat sedikit. Yang waktunya habis untuk bermain ituh.

Irul menatapnya dengan suka cita. Sangat mungkin ia berharap, si Ayah yang rupawan yang dari tadi menatap Pattayanya untuk tidak mengurangi porsinya barang sesendok saja. Agak ragu, ia bertanya, “Nasi Gorengnya engga pedes tho bu?”

Momen yang tepat harus dimanfaatkan dengan bijak. Si Ayah mengambil sendok dan berucap, “biar ayah cicipi dulu, pedes apa engga”. Satu suapan berhasil dengan selamat dan rasa pedas meluncur sukses. Namun, karena ngga ingin membuat ia menunggu lebih lama, dijawablah, “Cuma pedas merica kok mas”.

Pattaya-nya menarik. Telor dadar yang biasa disajikan untuk membungkus nasi goreng dibuat dengan cara menyerupai kelopak bunga. Irul sangat tertarik dengan itu. Ia memandangi terus menerus dan berupaya untuk tidak merusaknya saat menyendok nasi goreng tersebut.

nasi goreng pattaya ala jogja paradise

Irul dan Pattayanya

Seperti yang diduga, keringatnya bercucuran. Ia terlihat kepedasan. Namun karena kami berkata itu pedas merica yang bagus buat menghangatkan tubuh, ia berusaha bertahan dan menghabiskan Pattaya miliknya. Es Lidah Buaya yang menemaninya menjadi tandingan rasa pedas yang ia rasakan. Setiap 3 suapan nasi goreng, es yang berwarna hijau tersebut diseruputnya dengan cepat.

Sementara itu, ibunya sedang berjibaku dengan Nasi Gudeg Mercon yang tiba tak lama setelah pesanan irul. Sebagai seorang yang suka pedas, ia berharap menu lokal tersebut memuaskan hasratnya ber-huhah-huhah ria. Harapannya, dengan menyandang nama “Mercon” rasa pedasnya nampol di lidah.

Satu dua suapan masuk ke mulut, namun tak lama ia menatap lelaki tampan di hadapannya. Dengan mimik wajah yang sedikit kurang puas ia berkata “Engga pedes, Yah”. Gudegnya enak, tapi engga pedas. Krecek dan oseng tempenya memang pedas tapi buatnya terasa kurang. Spontan kuarahkan sendokku ke arah gudegnya. Tapi ia buru-buru menangkis sambil menjelaskan bahwa tingkat kepedasan Nasi Gudeg Mercon ala Jogja Paradise memang tidak cukup pedas baginya tapi cukup untuk membuat aku melompat ke kamar kecil dan memesan susu guna menyembuhkan mencret.

Tak apalah. Tidak mencicipi Nasi Gudeg Mercon juga ngga apa. Masih ada Sup Iga yang menjadi pelampiasan malam itu. Seperti yang menjadi kesukaanku, Sup iga-nya berkuah cukup banyak. Biasanya, ditempat lain kuahnya tidak cukup banyak hingga bisa menyenangkanku. Sudah menjadi kebiasaan, yang pertama dinikmati adalah kuahnya. Satu sendok makan kuah itu engga cukup. Perlu bersendok-sendok dan berkuah-kuah. :v Tapi sendok makannya masih sendok makan manusia kok.

menu makan jogja paradise

Sebelum

Rasanya mantab. Kalo aku bilang, chefnya engga pelit. Pemberani. Kan ada tuh, makanan yang rasanya agak gimanaa gitu. Seperti orang yang ragu-ragu pas mau masukin bumbu. Jadinya malah kelebihan ini kurang itu. Tapi sepertinya engga di Sup Iga ala Jogja Paradise yang lagi kusedot kuahnya. Dagingnya empuk. Cukup pake sendok, satu, di tangan kanan, aku bisa misahin daging dari tulangnya. Satu porsi Sup Iga plus nasinya cukup mengenyangkanku.

Irul terlihat sangat kepedasan. Keringatnya udah segede biji jagung. Kami jadi kasihan. Nasi Goreng Pattaya akhirnya engga dihabiskan. Sebagai gantinya, kami memesan Nila Goreng Krispi plus nasi. Wah firasat buruk ini. Biasanya kalo Irul ngga habis makan, pasti dioper ke aku. Padahal aku udah kenyang. Ya, agak jaim dikit lah. Meski sebenarnya perut bisa digeser dan diisi 2 menu lagi di dalamnya. :v

Sambil mengunggu pesanan, Irul sangat menikmati Es Lidah Buaya. Segar, katanya. Lidah buaya yang biasa digunakan sebagai sampo itu ternyata enak juga dikonsumsi. Kenyal-kenyal gitu. Ibunya sampai pengen nyoba. Es Teler pilihannya dipinggirkan sejenak. Irul mengawasi ibu yang kini menguasai sendok es miliknya. Engga sampai 3 sendok, ia langsung teriak “Sudaah”. Dan terjadilah perebutan sengit antara ibu dan anak. Hanya karena kesegaran Es Lidah Buaya Jogja Paradise.

es lidah buaya ala jogja paradise

Segarnya jadi rebutan

Jogja Paradise itu cukup luas. Lokasinya ada di Jalan Magelang. Utaranya TVRI. Tempatnya selain luas juga asik. Ada perosotan anak juga. Jadi kalau anak-anak bosan nunggu mama papanya kelamaan makan, mereka bisa main perosotan atau panjat jaring. Atau malah mama papanya nungguin anaknya kelamaan main, bisa sambil wifi-an gratis disana.

Asiknya, di Jogja Paradise suka ngasih kejutan yang bikin terkejut. #yaiyalah. Kadang ngasih diskon buat pengunjung yang bajunya sama. Kadang juga ngasih diskon buat pengunjung yang bawa seluruh keluarganya. Kadang juga diskon buat yang lagi pacaran atau nembak disana. Semoga aja, pas makan disana kami dapet diskon karena Irul punya ayah yang ganteng. 🙂

Kalau soal parkir, di Jogja Paradise itu engga jadi masalah. Lahan parkir di luar luas, mau parkir di dalam juga bisa. Pastinya aman. Makan enak, parkir aman, anak senang, dompet nyaman.

Wow, pesanan kami datang. Nila Goreng Krispi buat Irul yang sudah engga sabar. Mari makaaan.

menu makanan di jogja paradise

Sesudah

Sponsor tulisan : Jogja Paradise

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai