Melangkah Menuju Yogyakarta the Cyber Province

Melangkah Menuju Yogyakarta the Cyber Province

kota yogyakarta

foto by Humas DIY

Membicarakan kota Yogyakarta rasanya membutuhkan berjuta lembar untuk menuliskan semua hal yang ada padanya. Sebagaimana kota yang begitu romantis dan istimewa, ada juga sisi abu-abu yang membalut kota berslogan Berhati Nyaman ini.

Beberapa waktu yang lalu, Netizen Jogja diundang untuk berdiskusi bersama Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X di Bangsal Kepatihan Yogya. Tema yang dibincangkan adalah hal-hal mengenai Yogyakarta. Permasalahan tentang kota dan tentu saja bagaimana jalan keluarnya. Tentu waktu yang terbatas tidak cukup untuk membahas semua masalah yang ada. Namun diharapkan dengan adanya perjumpaan itu, menjadi embrio dari perjumpaan-perjumpaan selanjutnya.

Pada kesempatan itu, Sri Sultan yang menjadi panelist menuturkan bahwa Yogya adalah Yogya. Ia tidak akan bertransformasi menjadi seperti kota lain. Tidak akan menjadi seperti London, Leiden, dan lain sebagainya.

Yogyakarta bukanlah kota yang sempurna. Sudah pasti akan mudah ditemukan kesalahan dan kekurangan. Namun seperti yang disampaikan mas Antok, founder ICJ, “Marilah kita sama sama bekerja. Jalin komunikasi antara semua pihak.” Hal tersebut disampaikan terkait pelayanan beberapa SKPD yang dirasa kurang responsif dan masih hobi menunggu laporan dari masyarakat.

Masih banyak masyarakat yang ketika memiliki masalah, mereka tidak tahu harus berjalan kemana. Justru informasi penyelesaian masalah, mereka dapatkan dari sebuah komunitas yang tidak ada hubungan terhadap SKPD terkait. Hal ini tentu menimbulkan kegeraman.

Terkait hal tersebut, Sri Sultan mengatakan bahwa memang masih ada banyak kekurangan. Salah satu pengganjalnya adalah faktor kenaikan pangkat yang tidak boleh dua kali dalam satu SKPD. Sehingga jika hal ini terjadi pada sektor IT, maka personel IT tersebut musti berpindah ke dinas lain. Tentu saja hal ini menimbulkan kekosongan informasi yang pastinya mengganggu suply informasi kepada masyarakat.

Problem yang sering muncul adalah personel IT baru yang menggantikan personel IT lama belum menguasai materi informasi yang hendak disampaikan ke masyarakat. Akibatnya sering terjadi miskomunikasi bahkan buntu informasi dan berujung pada ketidak puasan.

Pada kesempatan itu, Gubernur DIY meminta kritik dan saran terkait permasalahan tersebut serta mengajak untuk melakukan pertemuan-pertemuan semacam ini dan dapat diregulerkan. Sebuah ajakan baik yang disambut dengan antusias oleh para hadirin malam penuh semangat tersebut.

Sekilas kehadiran Admin Satusatuen.com pada acara tersebut

Kehadiran admin pada malam khusyuk tersebut tidak lain karena undangan yang ditujukan kepada Komunitas Blogger Jogja. Saya dan Lusi diminta untuk menjadi wakil dari komunitas yang menampung blogger-blogger Jogja tersebut.

Beberapa menit sebelum acara dimulai, kami mendapat pesan bahwa nanti kami diminta untuk memperkenalkan Komunitas Blogger Jogja. Siapa kami, bagaimana kami, dan tentu saja apa kegiatan kami. Kami menjadi sedikit gugup dan nervous meskipun hingga akhir acara, moderator tidak kunjung menyebut keberadaan kami.

Tidak mengapa. Kami baik-baik saja.

Tentang Komunitas Blogger Jogja.

Komunitas Blogger Jogja lahir pada tanggal 25 Juni 2011. Komunitas ini lahir untuk mewadahi blogger-blogger Jogja yang ada di Jogja ataupun berada di luar Jogja. Komunitas ini juga terbuka bagi pendatang di Jogja maupun mereka yang bukan asli Jogja namun memiliki keterkaitan terhadap kota berjuluk Kota Gudeg ini.

Komunitas ini terbuka bagi segala Genre atau Niche blog. Blog tutorial, blog kecantikan, otomotif, sekedar curhat, personal blog, atau bahkan monetize blog dapat bergabung di komunitas Blogger Jogja. Tidak ada syarat yang memberatkan.

Aktifitas kami didominasi dengan aksi-aksi promosi berkisar tentang Jogja. Promosi hotel, restoran, produk, dan tidak lupa pariwisata Jogja itu sendiri. Namun ada satu kegiatan atau kampanye yang pernah dilakukan oleh Blogger Jogja – demikian kami sering disebut – yang sangat sayang untuk dihentikan.

Kampanye tersebut adalah Kampanye Sapu Bersih Konten Negatif.

Seperti yang kita ketahui, di ranah dunia maya, banyak tersebar konten negatif. Salah satunya mendompleng nama Jogja. Kata kuncinya adalah “ABG JOGJA”. Jika Anda ketikkan kata kunci tersebut di halaman Google, maka hasil pencarian yang muncul akan didominasi konten-konten negatif. Prostitusi online atau Video saru, misalnya.

Blogger Jogja prihatin akan hal ini karena merusak imej kota Jogja di ranah dunia maya. Blogger Jogja berniat untuk menyapu bersih konten-konten tersebut. Kami kemudian mengadakan kampanye Sapu Bersih Konten Negatif. Caranya adalah kami menuliskan informasi mengenai ABG JOGJA yang berpusat pada berita positif. Misalnya kegiatan positif anak-anak muda Jogja, Karang Taruna yang ada di dalamnya, Prestasi-prestasi yang ditorehkan dan lain sebagainya.

Kegiatan ini sukses menggeser keberadaan konten negatif tersebut. Meski untuk beberapa minggu saja. Kami menghentikan aksi tersebut dikarenakan ada “korban”.

Seperti yang sudah kami singgung sebelumnya, member Blogger Jogja tidak hanya berNiche personal blog. Ada juga mereka yang memonetize blog sehingga mendapatkan penghasilan dari blog tersebut. Rata-rata cara memonetize blog tersebut adalah dengan Google Adsense.

Mereka mengikuti kampanye yang diadakan Blogger Jogja. Padahal, kata kunci yang digunakan pada kampanye tersebut adalah kata kunci yang sensitif. Kata kunci yang tentu saja melanggar TOS Google Adsense. Penalty yang dijatuhkan tidak main-main, Banned.

Jujur, blog ini pernah mengikuti kampanye tersebut dan sesaat setelah mengetahui insiden itu, tulisan mengenai “ABG JOGJA” terpaksa harus diturunkan. Silakan dicermati, blog ini juga menggunakan Adsense sebagai penyambung nyawa keberlangsungan blog.

Dilema memang. Sebagai warga DIY yang tentu saja sebuah kebanggaan, harus melihat kenyataan bahwa nama Jogja digunakan sebagai salah satu produk konten negatif. Namun disaat yang bersamaan kami harus mempertahankan periuk nasi kami.

Semisal kampanye ini ingin diadakan kembali, Blogger Jogja tentu saja akan berbangga hati bersedia untuk melakukan kembali. Namun langkahnya seperti apa dan bagaimana tanpa harus mempertaruhkan cawan anggur kami.

Demikian sekilas acara dan sekilas kisah Komunitas Blogger Jogja.

Terima kasih.

 

 

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai