Ketika Keringat Berubah Wujud

Disebuah warung yang menggunakan teknologi canggih itu, Yanto menempelkan jarinya diatas kaca sambil berkata “Ini mba”. Saat itu juga keluarlah ayam goreng. Kemudian ia beralih ke sebelahnya, kembali ia tempelkan jarinya dan keluarlah  seporsi sayur lodeh. Tak lupa ia letakkan lagi jarinya sambil berkata “dua aja” dan keluarlah dua tempe goreng.

“Keren ya ini warung” ucapku ketika ia duduk disampingku.
“Keren darimananya?” jawabnya sambil mengunyah, nasinya terbang kemana-mana.
“Pakai teknologi Touchscreen”
“Maksudmu?”
“Liat tuh pembeli berbaju coklat. Tempelkan jari di kaca, trus keluar telor dadar”
“Hahaha..kirain apaan”.
Untung saja sudah pasang kuda-kuda ketika dia ketawa. Kalau engga, bakalan kena hujan nasi dari mulutnya.

“Lho kok udah?”
Yanto mengambil tisu dan membersihkan mulutnya. Diminumnya teh hangat hingga habis tanpa sisa.
“Udah kenyang, engga habis aku”
“Mau dibungkus??”
“Engga usah”
“Terus? mau diapain itu?” tanyaku
“Biarin aja. Kalau laper beli lagi”
“Jangan begitu, itu rezeki dari Allah dan melalui keringatmu. Kalau bukan kamu yang menghargai, lalu siapa?”

**

Seperti liburan biasanya, aku habiskan di kota asal. Berkeliling kota dengan gadisku yang selalu berusaha langsing. Menikmati kebersamaan sambil menyantap nasi goreng di pinggir jalan Parangtritis.

“Pak We, nasi goreng dua”
“Baik mas, telornya di ceplok atau dicampur?”
“Campur aja”
“Mmm, pak We” gadisku menimpali, “yang satu, setengah aja”
“Jadi, satu dan setengah porsi nih?” tanya pak We
Dia mengangguk. Aku sembunyikan senyumku.

Malam berikutnya, karena masakan Pak We cocok di lidah, kami kembali menikmati nasi goreng buatannya.
“Pak We, dua” pesanku sambil mengacungkan dua jariku.
“Nggih mas, dicampur telurnya?”
“Ya”
Kali ini aku menunggu interupsi dari gadisku yang sudah duduk lesehan. Namun hingga Pak We selesai meracik dan memasak untuk kami, ia tidak juga melakukannya.

“Kok ngga diabisin nasinya?” tanyaku
“Udah kenyang”
“Ya udah sini, aku habisin”
“Jangan!”
“Kenapa?”
“Masa mas habisin makanan sisaku”
“Aku engga habisin makanan sisamu ” sambil mengambil piringnya “tapi menghargai keringatku”

Dia terdiam

Sejurus kemudian, ia mengambil piringnya yang masih penuh dengan nasi sambil berkata “Jangan, akan aku habiskan”

Waktu berganti, bulan berjalan mengikuti titahNya. Mantan gadisku sekarang gendut sekali.

Habiskan makananmu, hargai hasil keringat itu

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai