Ketika JemariNya Melukis

Adzan subuh sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Udara yang sangat dingin membekap begitu erat, membuat pendengarnya terasa berat untuk membuka mata dan beranjak dari pembaringan. Aku beringsut, berusaha melawan sambil meniupkan nafas ke telapak tanganku yang terkatup. Kugesekkan beberapa kali kemudian kutempelkan ke pipi. Memungut kehangatan walau sedikit. Pintu tenda kusibakkan. Sejurus mataku menangkap ember penuh air di sebelah kananku. Ada sedikit keraguan untuk langsung menggunakannya. Karena udara yang sangat dingin pasti membuat air tersebut laksana es yang mencair. Benar saja, dingin yang teramat sangat langsung terasa setelah kumasukkan jariku kedalamnya. Brrr, sepertinya aku tidak sanggup jika harus berwudhu dengan air es.

Kurapikan beberapa ranting kayu yang tidak begitu basah. Dengan kertas yang tidak begitu lebar, kusulut api dari korek gasku. Api pun menyala, menyambar ranting dibawahnya. Asap putih mengepul namun api tidak kunjung membesar. Angin bertiup, mematikan api yang lemah. Kugesek-gesekkan telapak tanganku, kutiupkan nafas dan menempelkannya kepipi. Mencari sedikit kehangatan. Sepertinya aku memang harus berjibaku dengan air dingin bagai es itu.

Iqomah mulai sayup terdengar saat aku mengambil wudhu. Percikan air mengirimkan sejuta rasa dingin yang teramat sangat. Namun niat sudah terpatri. Tak akan goyah lagi. Toh nun jauh sana ada saudaraku yang setiap hari harus melawan hawa dingin untuk mendirikan shalat. Apakah aku harus kalah? Aku rasa tidak.

Dengan jaket yang tebal, ia sudah ku dirikan. Setelah salam, aku beranjak untuk menunaikan jiwa penasarannku. Aku ingin sekedar melihat keadaan. Bagaimana wajah kaki gunung yang katanya paling aktif sedunia ini di waktu subuh. Berbekal ingatan kemarin siang, aku berjalan pelan menyusuri medan disekitarku. Tenda-tenda yang pemiliknya masih terlelap kulewati. Dengan menggoyangkannya sedikit aku berseru “Subuh, subuh, banguun”. Aku tersenyum, seruanku telah dijawab meski hanya gumaman.

Sinar matahari mulai memberi warna di langit. Aku sudah duduk tak jauh dari bibir jurang. Sejauh mataku memandang hanya kabut putih yang terlihat. Angin dingin berkali-kali menyapu wajahku. Jika bisa bicara, mungkin sesungguhnya mereka ingin bertanya “ngapain kamu disini”. Untuk kesekian kalinya aku gesekkan telapak tangan sebelum kupeluk kedua kakiku. Kabut perlahan memudar.

Pelan-pelan kusaksikan kabut mulai menghilang seiring cahaya surya menggantikan tempatnya. Disebelah kananku ia gagah berdiri. Menjadi cerobong asap bagi dapur bumi. Warna hijaunya sudah mulai terlihat dengan puncaknya yang menjulang ke angkasa. Begitu kokoh, gagah, tinggi namun cantik. Mataku merayapinya, seakan ingin mencumbui inci demi inci. Dengan sumber cahaya tepat dibelakangku, ku nikmati pemandangan lembah yang maha indahnya. Sebuah lukisan tak berbingkai yang terpampang jelas di hadapanku.

Sebuah lembah dengan gemericik air dibawah sana. Rimbunan pohon bambu yang menghijau dengan kabut masih memeluknya. Garis-garis sinar mentari menembus sela-sela dedaunan. Membuatku melebur dan melemah seketika. Tidak butuh kata-kata untuk merumuskan keagungannya, IA telah menunjukkannya. Tepat didepan mata.

“Allah tuh keren ya” ucap kawanku pelan. Ia turut duduk disampingku. Menikmati pertunjukan alam yang sedang dimainkan dengan cahaya. Lewat jemariNYA.

 

-fin-

 

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway ‘Sweet Moment’ yang diselenggarakan oleh UnTu”

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai