Kenapa Saya Memilih Sekolah Full Day Untuk Anak Saya?

Ketika bapak pengampu pendidikan di negeri ini melemparkan wacana untuk me-full day-kan sistem pendidikan di Indonesia khususnya jenjang sekolah dasar dan menengah pertama, maka sontak time line jejaring sosial yang saya miliki menunjukkan gejala yang kontra dengan wacana kebijakan tersebut.

Alasan yang dikemukakan untuk menanggapi wacana pak menteri rata-rata sama. Kurang lebih terkait dengan berkurangnya waktu bermain untuk anak-anak. Karena dikhawatirkan dengan bersekolah full day, dimulai dari pukul 07.30 hingga pukul 15.30, anak-anak akan cenderung kelelahan ketimbang bergembira saat mereka pulang sekolah.

Jelas, alasan ini bukanlah alasan yang dibuat-buat. Alasan ini tepat adanya. Karena jika anak-anak bersekolah full day maka setibanya di rumah, kemungkinan besar mereka hanya ganti baju dan rebahan. Untuk apa? istirahat setelah seharian bersekolah.

Belum lagi jika mereka perlu membantu orang tua masing-masing. Entah apapun tujuan membantu orang tua ini, yang pasti akan menambah beban murid. Kelelahan akan menumpuk dan mengakibatkan hal yang tidak baik. Setuju?

PR (pekerjaan rumah) yang diberikan oleh guru kelas diakui atau tidak akan menambah kelelahan murid. Fine, jika kita membantah dengan mengatakan “PR bisa dikerjakan secepatnya kok. Jadi ngga menguras terlalu banyak tenaga”. Okay. Tapi jangan lupa bahwa si anak sudah bersekolah full day sebelum ia mengerjakan PR. Capek? Tentu.

Tapi kenapa ada juga orang tua yang memilih menyekolahkan si anak di sekolah yang full day? Pasti mereka memiliki alasan yang telah benar-benar dipertimbangkan sebelumnya, bukan?

Tidak lama setelah bapak menteri menyampaikan wacananya, saya menanyai beberapa orang yang telah menyekolahkan anaknya di sekolah full day. Hal ini saya lakukan karena ingin membuat tulisan ini dengan dua sudut pandang. Yang pertama saya tulis pihak kontra, bagian kedua saya tulis pihak pro. Harus ada alasannya, kenapa pro.

Ada sebagian yang menyekolahkan anaknya di sekolah full day karena memang ia dan pasangannya bekerja penuh waktu. Berangkat pagi sedangkan pulangnya sore. Harapannya adalah dengan sekolah full day, si anak tidak menghabiskan sisa waktu setelah pulang sekolah hingga orang tuanya datang dengan bermain tanpa pengawasan. Hal ini sungguh membuat khawatir orang tua si anak. Dengan sekolah full day, anak akan menghabiskan selisih waktu (apabila bersekolah reguler) dengan kegiatan yang positif serta diawasi oleh guru dan sekolah.

Alasan sebagian besar koresponden adalah keprihatinan akan buruknya pergaulan anak di lingkungan mereka sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi putra-putrinya. Oleh karenanya diputuskan untuk menyekolahkan mereka di sekolah full day. Bukan ingin mengatakan bahwa dunia ini penuh kejahatan atau keburukan maka perlu menyembunyikan anak dari wajah dunia, melainkan ingin menjaga anak dari mencontoh perbuatan dan atau perkataan yang tidak baik.

Seperti yang kita ketahui, anak adalah mesin fotocopy paling canggih di dunia. Tanpa bermaksud menyamakan anak dengan mesin, namun kemampuan meniru mereka lebih hebat daripada mesin fotocopy. Mesin fotocopy hanya menduplikasi apa yang dihadapkan kepada mereka. Jika diletakkan kertas bertuliskan huruf A, maka ia akan mencetak duplikat dari kertas bertuliskan A tadi. Sedangkan anak akan meniru semuanya. Melalui suara ia akan meniru perkataan. Melalui mata mereka akan meniru perbuatan. Melalui percakapan ia akan meniru pola pikir. Bisa dibayangkan apabila si anak bergaul dengan orang-orang yang tidak tepat. Maka ia akan meniru hal-hal yang tidak tepat pula.

Bukan rahasia lagi, ada anak SD SMP yang sudah merokok. Ada juga yang gemar berkata-kata negatif. Mencaci maki, sumpah serapah, cinta-cintaan. Coba tebak ia meniru siapa? Tentu meniru orang di sekitarnya. Bayangkan apabila anak kita bergaul dengan anak tipikal seperti itu. Salah satu contoh : Pulang sekolah dalam keadaan lapar sedangkan ia tidak menemukan makanan di meja dapur, kemudian berkata “Bajingan. Ngga ada makanan. ASU”

Lantas apakah hal itu menjadi dasar pembenaran memilih sekolah full day untuk anak?

Jika hal tersebut ditanyakan kepada orang tua, maka akan muncul pertanyaan balik. Memangnya ada pilihan lain?

Saat kita belanja detergen atau produk berbahan kimia lain, serta membeli minuman dan makanan bersamaan. Biasanya kasir akan memisahkan dua produk tersebut. Produk berbahan kimia dalam satu wadah, sedangkan makanan dan minuman di wadah yang lain. Tujuannya kenapa?
Agar aroma bahan kimia yang tajam tidak mempengaruhi cita rasa minuman dan makanan yang sudah dibeli.

Saya tidak sedang ingin menyamakan anak dengan produk pabrik seperti contoh diatas, namun diakui atau tidak mereka memiliki kesamaan. Jika si anak berlama-lama bersama dengan seseorang yang negatif, ia akan tercampuri hal negatif tersebut.

Ah, siapa bilang. Saya menaruh minuman mineral kemasan dalam satu wadah bersama detergen ngga ngaruh tuh rasanya.

Karena ada perlindungan tahap pertama dari pihak pabrik minuman mineral dengan memberinya KEMASAN. Sedangkan kasir memberi perlindungan tahap dua dengan cara memisahkannya. Maka seyogyanya, kita ngga menaruh detergen di atas meja makan.

Memberikan perlindungan, itu inti dari memilih sekolah full day untuk si anak bagi orang tua yang memiliki keterbatasan. Mungkin keterbatasan waktu atau mungkin lingkungan yang tidak kondusif.

Apakah cukup itu saja?

Tidak.
Orang tua juga seyogyanya memperhatikan banyak hal sebelum memutuskan keputusan penting ini. Salah satunya adalah sistem pembelajaran sekolah full day yang dimaksud. Bagaimana metode pengajarannya, bagaimana lingkungan sekolahnya. Banyak hal yang perlu ditanyakan. Apakah PR diberikan setiap hari? Istirahatnya berapa kali? Bagaimana memanage kebosanan dan kelelahan anak? Bagaimana memanage kebosanan dan kelelahan guru dan karyawan? karena jangan sampai ketika guru lelah yang mengakibatkan emosi tidak stabil kemudian murid yang menjadi korbannya. Karena jika sampai itu terjadi, maka akan menjadi hal yang ngga asik banget bagi orang tua di manapun. Sebab ia telah menitipkan “selembar kertas putih” dan dipercayakan kepada guru untuk diisi dengan tulisan yang bermakna.

Pada intinya, pemilihan sekolah full day adalah upaya perlindungan dan pemanfaatan waktu agar lebih bermanfaat untuk anak serta lebih aman karena ada pengawasan dari guru dan sekolah yang dipercaya.

Nah, karena bersekolah di sekolah full day atau reguler hanyalah sebuah opsi, maka yang seharusnya ditanyakan kepada pak menteri adalah “Semua sekolah atau cuma sebagian aja pak? yakin pak mau di-full day-in tuh semua sekolah?”

Tapi karena isunya sudah mereda, maka kembali ke kita aja. Mau pilih yang mana, monggo. Yang penting pelajari semuanya. Baik buruknya.

Sekedar info, sekolah anak saya belajar dari jenjang kelas 1 hingga kelas 3 masih menggunakan metode yang hampir sama dengan sekolah TK. Mendengarkan cerita/dongeng dari guru, membaca buku (anak bebas memilih buku apa yang ingin ia baca) kemudian anak diminta menceritakan kembali isi cerita, tentu dengan bahasa anak-anak, sholawatan, nyanyi bersama, bermain bersama, istirahat di kelas, membuat origami yang kemudian di origami tersebut ditulisi angka atau huruf. PR hanya diberikan pada hari Jumat. Hari lain tidak. Sabtu Minggu libur. Tidak ada tukang jualan di depan sekolah. Ada snack dan makan siang. Sholat Dhuhur dan Ashar wajib.

sekolah full day

sepertinya sedang membuat karya seni

makan siang sekolah full day

Makan siang dulu pak bu.

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai