Kartini-an itu apa?

“Bbrrrrmmmmmm” rangkaian kereta mini melintas dijalanan yang tidak sepi. Dengan penumpang berbaju warna-warni. Didominasi anak-anak kecil mengenakan kebaya dan berkonde yang tersenyum dan melihat kesana kemari. Irul antusias melihat kereta mini tersebut. Ia berteriak sambil mengangkat tangannya. “Kayak pak kepala stasiun” katanya. Matanya terus mengikuti arah kereta mini itu hingga hilang bersama debu jalanan.

“Ayah, tadi kakak-kakak mau kemana e?” tanya Irul.
“Kakak-kakak itu mau jalan-jalan”.
“Kok pake baju warna-warni, mau ke pantai?” tanyanya lagi.
“Engga, kalo kepantai ga pake baju itu.”
“Trus kakak-kakak mau kemana?”
“Mau Kartini-an”
“Kartini-an itu apa e?”

Nah loh.. bingung saya jawabnya. Kartini-an itu apa? atau yang lebih tepatnya “hari kartini itu apa?”. Apakah hanya sekedar memperingati hari lahir Kartini? Ataukah mengingatkan kepada khalayak bahwa “ada pahlawan bernama Kartini”? Ataukah hanya sebagai “hari spesial dimana anak-anak diajak berkeliling menggunakan kereta mini dengan berpakaian kebaya warna-warni”?
Ataukah hanya “momen tepat menggelar lomba kebaya dengan pelajar SMP/A sebagai pesertanya”?

Saya tidak ambil pusing, mau Kartini itu dianggap pahlawan atau tidak, seperti beberapa artikel yang menulis demikian. Yang penting, jika memang ingin menyampaikan sesuatu lewat hari Kartini, jangan melakukan sesuatu yang justru mengaburkan makna atau pesan yang ingin disampaikan. Misal, (seperti pengalaman penulis saat masih menjadi pelajar) pesan yang ingin disampaikan pada hari kartini biasanya adalah Emansipasi Wanita. Wanita tidak hanya di dapur, tidak hanya urus “Kasur”, dan urus “sumur”. Tetapi diharapkan wanita mampu berada di garis yang sama dengan lelaki. Jika lelaki bisa menjadi pemimpin maka wanita juga harus memiliki kesempatan yang sama. Diatas adalah salah satu contoh pesan yang disampaikan lewat hari kartini.

Lantas dimana bagian kurang tepatnya, atau pengaburan pesannya?
Pada awalnya memang disampaikan secara jelas dan gamblang. Emansipasi wanita bla bla bla bla, wanita harus bla bla bla. Tapi setelah itu, apa yang terjadi? Dari kecil (Tk) perayaan hari kartini adalah lomba “kostum”, mengenakan baju kebaya atau baju daerah. Sampai dewasa (SMP/A) lomba tetap sama yaitu lomba “kostum”. Karena anak yang dulu ikut lomba kostum, hanya memiliki ide “mengadakan lomba kostum” ketika ia menjabat sebagai panitia hari kartini saat SMP/A.

Bukan, bukan. Tidak ada yang salah dengan lomba kostum. Hanya saja, apakah itu yang benar-benar ingin disampaikan pada hari yang selalu dikaitkan buku Habis Gelap Terbitlah Terang ini?. Bahkan orang tua harus merogoh kantong lebih dalam untuk menyewa kostum karena harga sewa pasti naik berlipat demi hari spesial ini. Hanya demi satu hari dalam setahun ini.

Bukankah pesan yang ingin disampaikan adalah berupa “ajaran”. Maka menurut hemat penulis, bukan lomba seperti itu yang perlu diulang tiap tahunnya. Melainkan lomba yang memantik leadership lebih kuat dalam diri wanita serta sesuai dan searah dengan “ajaran” yang ingin disampaikan. Sehingga mereka setiap hari kartini, dapat “panen” ilmu dan pengembangan diri secara maksimal.

“Kartini-an itu apa Yah?” tanya Irul, menyadarkan saya.
“Hmm, apa ya? Ayah tanya pembaca dulu ya?”

Bisa minta tolong jawab pertanyaan anak saya? Kartini-an itu apa ya menurut anda?

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai