Karena Allah Engga Akbar Dihati

Seseorang pernah bertanya “Kenapa meskipun rajin melakukan sholat tetapi gosip tetap aktif, Jual beli tetap mengurangi timbangan, Sikut sana sikut sini mengejar materi. Bahkan tak jarang berkata ‘nyari yang haram aja susah apalagi yang halal’. Bagaimana itu?”. Waduh, belum juga air putih sukses masuk kerongkongan sepenuhnya, udah ditodong pertanyaan seperti ini. Berasa jadi ustad aja. Setelah selesai minum dan ambil nafas, tauziah dari orang gila segera dimulai. hehehe

“Kira-kira bagaimana motivasi seseorang ketika ikut workshop kepengusahaan? contoh saja : cara gila menjadi pengusaha.”  tanya saya.
“yaaa, kurang lebih mereka akan termotivasi. Menggebu-gebu” jawabnya.
“ok. lantas pasca workshop dan setelah mencoba sendiri ilmu yang mereka dapatkan. Bagaimana?” tanya saya lagi.
“Mungkin ada yang sudah tidak menggebu, masih menggebu, atau malah sudah down”
“Sip. Berarti variatif ya. Sekarang ganti. Bagaimana jika seseorang membaca buku berisi propaganda akan sesuatu hal?”
“Hmmm, ia akan terprovokasi. secara tidak langsung terdoktrin akan sesuatu hal tersebut. Sedikit banyak akan merubah motivasi hidupnya atau pilihan hidupnya” jawabnya panjang lebar.
“Pokok bahasan dari yang kita bahas ini adalah mengenai motivasi diri.” lanjut saya. “Kaitannya dengan masalah yang kamu sampaikan adalah bahwa sebenarnya saat sholat, kita mengucapkan ‘AllahuAkbar’ berkali-kali hingga akhir sholat. Nah, seharusnya hal itu dapat memotivasi kita lebih dalam. Coba kamu hitung berapa kali kita takbir dalam sholat selama satu hari.”

“Bentar-bentar, aku buka kalkulator dulu” ucapnya sambil membuka aplikasi kalkulator di telepon genggamnya.
“Sip. Aku tunggu.”
Lantas ia komat-kamit menghitung berapa banyak jumlah takbir dalam satu kali sholat. Menjumlahkannya dan mengkalinya.

“Subuh ada 11 lalu Dhuhur ada 21 kemudian Ashar 21 takbir trus maghrib 17 terakhir Isya ada 21. Jumlah takbir dalam sholat satu hari ada 91 takbir. Ada apa dengan itu?”
“Udah baca buku tentang kiat mendidik anak? Bagaimana jadinya jika seorang anak dicaci maki sebanyak 91 kali dalam sehari?”
“Ia akan menjadi anak yang keras nantinya”
“Bagaimana jika seorang anak diberi semangat sebanyak 91 kali dalam sehari?”
“Ia akan belajar percaya diri”
“Bagaimana jadinya jika seseorang mendengar kalimat provokatif sebanyak 91 kali dalam sehari?”
“Jelas ia akan terprovokasi”
“Bagaimana jadinya jika seseorang meminum obat sebanyak 91 kali dalam sehari?”
“Over dosis dong. Mati”
“Kamu tahu kan, arti dari AllahuAkbar?”
“Allah Maha Besar kan”
“Betul. Bagaimana jadinya jika kita mengucapkan kata “AllahuAkbar” yang berarti Allah Maha Besar itu sebanyak 91 kali dalam sehari??”

“Seharusnya ke-Maha Besar-an Allah dalam diri kita over dosis”

“Tepat sekali” ucap saya sambil menjentikkan jari. Ia diam. Mencoba merenungi sesuatu. Digaruknya kulit kepala sambil meringis. “Apakah itu berarti ke-maha besar-an Allah tidak merasuk kedalam hati mereka meski telah sholat?” ucapnya.

“Hal itu bisa dikarenakan sholat mereka tidak khusyu, bisa juga karena niat sholat yang melenceng. Bukan karena Allah tapi karena sesuatu hal. Bisa jadi karena godaan syetan yang lebih kuat. Banyak variabel yang lain. ” sahut saya.
“Apapun itu, hal tersebut membuat Allah Engga Akbar Dihati. Perlu kita mengevaluasi sholat yang telah dilakukan agar menjadi lebih baik”

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai