javascript hit counter

Juguran Blogger 2016, Kisah Yang Panjang

Ingin tahu? Ke Kalisari saja

Setelah bergumul mesra dengan sawah dan pematangnya, serta nyanyian beberapa ayam dan burung-burung, saya dan rekan bersiap menuju tempat tujuan pertama kunjungan Juguran Blogger 2016 di Desa Kalisari.

Di desa penghasil tahu ini, sepertinya diterapkan sebuah sistem yang memanfaatkan sebuah produk dari hulu hingga hilir. Dari kedelai dibuatlah produk Tahu yang nikmat lagi menyehatkan. Tahu-tahu ini beraneka ragam. Mulai dari tahu kotak, tahu bolo-bolo, dan beraneka macam tahu lainnya.

Proses pembuatan tahu tersebut pastilah menyisakan ampas yang banyak dan hanya akan menjadi limbah apabila tidak dimanfaatkan. Pemanfaatan yang lazim adalah sebagai pakan ternak atau membuatnya menjadi Gembus, yaitu ampas tahu yang difermentasikan. Namun berbeda dengan desa Kalisari. Mereka justru membuat produk turunan yang krispy, gurih dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Kerupuk Ampas Tahu, namanya.

Sedangkan limbah cair yang dihasilkan dari proses pembuatan tahu, dialirkan dan dikumpulkan ke tangki-tangki yang telah disediakan dan diolah sedemikian rupa hingga menjadi gas yang mempu menghemat anggaran belanja masyarakat. “TOP BANGET” itu komentar saya.

Siapa sih Lurahnyaaaa?
Ngga usah dibahas. Kita ceritain aja produk-produknya.
:v :v

Roda bus membawa kami ke sebuah rumah warga pembuat tahu. Saat kedatangan kami, disana sedang dilakukan proses pembuatan tahu. Mulai dari perebusan, penyaringan hingga cetak-mencetak tahu agar bentuknya menjadi kotak. Jujur saja, penjelasan pemilik usaha tidak sepenuhnya bisa saya cerna. Sesuatu yang berbau teknis rada-rada sulit saya pahami. Saya terlalu jenius memang.

Tempat pembuatan tahu, sejauh yang saya lihat, cukup higienis. Artinya, tidak ada sampah yang bertebaran. Pembuangan limbah cair sudah dibuatkan tempat khusus. Kata pemilik usaha, limbah cair tersebut mengalir langsung menuju tangki penampungan dan turut serta diubah menjadi biogas yang dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

dipress, biar airnya keluar. Foto by Yugo. IG : @bentara.id

dipotong biar simetris. Foto by Yugo. IG : idem

Pembakaran masih menggunakan kayu. Ketika ditanya perihal penggunaan biogas, ternyata memang sudah menggunakan biogas namun jumlahnya sangat terbatas. Mengingat tekanan yang dihasilkan biogas tidak cukup kuat untuk skala produksi. Namun jika untuk masyarakat dengan penggunaan memasak biasa, sudah sangat mencukupi. Lebih-lebih, setelah menggunakan kayu bakar, muncullah rasa yang unik pada produk tahu yang dihasilkan. Ada sedap-sedap gimana gitu saat kita mengunyah.

Istimewa, dibungkus. foto by Yugo. IG : idem

Kedelai yang digunakan memang sebagian besar memakai produk luar negeri. Bukan berarti tidak peduli dengan produk lokal, melainkan keputusan tersebut diambil karena menghindari sintimen pasar. Konsumen kerap salah menduga bahwa tahu yang keras adalah hasil penggunaan formalin yang ditambahkan ke dalam adonan agar tetap awet. Ternyata, menurut pengakuan pemilik usaha, tahu yang keras tersebut dikarenakan penggunaan kedelai lokal. Demi menjaga tetap berdirinya badan usaha yang telah dirintis, kedelai lokal terpaksa harus melipir sementara dan digantikan kedelai import. Setelah beralih menggunakan kedelai import, tahu yang dihasilkan menjadi empuk dan lembut digigit.

tahunya sudah jadi. Siap goreng. Foto by Yugo. @bentara.id

Terdengar miris sebenarnya. Bagaimana tidak, misalkan kita sebagai konsumen lebih bijak dalam menyikapi setiap informasi yang didapat melalui media apapun, terlebih sosial media, maka kondisi seperti ini tidak perlu terjadi. Kita bisa dengan bangga menggunakan produk dalam negeri apapun hasilnya. Tahunya keras, ya sudah biarkan saja. Bukankah setelah direbus ia akan menjadi empuk. Anggap saja kita sedang membantu petani Indonesia untuk bertahan hidup. Kedelai kita tidak kalah dengan kedelai mereka. Giliran petani kedelai Indonesia tersisih dan terbuang, kita teriak-teriak seakan kita paling nasionalis. Lha tahumu yang empuk tadi kemana??

Yuk sebarkan berita ini. Lebih bijak dalam mengelola informasi.

Juguran Blogger 2016

Next : Berkenalan dengan gurihnya Kerupuk Ampas Tahu

This post was last modified on 06/06/2016 16:03

Previous 2 of 2

Wawan: Member dari Komunitas Blogger Jogja. Sedang belajar menjadi blogger yang baik meski banyak gagalnya. Kadang masih suka ngojol, tapi banyakan ngojolnya sih. Gambar lelaki tampan di sebelah kiri mengenakan jaket army look itu, saya, saat negara api belum menyerang. Kalo di bawah ini, icon share. Klik aja buat tahu cara kerjanya. Di bawahnya lagi, iklan.