Juguran Blogger 2016, Kisah Yang Panjang

Juguran Blogger 2016

Joglokerto? atau Jomblokerto?

Berbekal sebuah kecupan mesra, saya memasuki halaman stasiun Lempuyangan yang pagi itu tampak lenggang. Hanya beberapa pasang orang yang duduk di kursi tunggu. Serta selusin, mungkin, tukang ojek dan becak yang ngobrol entah membicarakan apa.

Lambaian tangan kecilnya sudah ditelan persimpangan, saat saya coba melihat kembali jejak dua roda yang membawa mereka pulang. Dua hari, waktu yang cukup lama untuk menumbuhkan kuncup rindu akan tawa dan rengek manja si penggemar boboi boy itu. Meski sebenarnya, ada sedikit keraguan. Yang dia rindukan sebenarnya ayahnya atau gadget dan kuota internet milik ayahnya?

Setiap langkah yang saya jejakkan di stasiun, sejumlah itulah saya merasakan sensasi yang pernah saya rasakan sebelumnya. Sudah lama sekali, saya tidak melakukan ini. Perjalanan jauh beberapa hari menggunakan moda transportasi kereta api dengan tas ransel yang berat dipenuhi kaos untuk ganti, si manusia yang mudah berkeringat ini.

Saking lamanya saya tidak menggunakan moda kereta api, saya mencatat banyak sekali perubahan. Selain pengecekan nama tiket yang harus sesuai kartu identitas, tiket juga harus discan menggunakan barcode reader atau semacamnya. Mungkin ada yang bertanya, “lhoh, memangnya sudah seberapa lama kamu ngga naik kereta? sampai-sampai hal seperti itu engga tahu”

Saya akan menjawab kurang lebih begini, “sejak Flinstone naik haji bareng tukang bubur”

Tiga tiket. Discan oleh sang penjaga. Tiket milik Rian, kemudian tiket milik Ndop, baru kemudian tiket milik saya. Setelah itu kami diperbolehkan memasuki area stasiun. Tiga lelaki berada di stasiun Lempuyangan menunggu kedatangan ular besi yang akan mengantar kami ke tempat tujuan.

Oh, maaf. Ralat. Bukan tiga lelaki. Melainkan dua lelaki dan satu wanita yang seringkali dipanggil dengan panggilan “Mas Rian”. :v

jadwal kereta di stasiun lempuyangan

Suasana Lempuyangan pagi hari. dokumen pribadi

Satu per satu calon penumpang berdatangan. Memenuhi ruang kosong stasiun yang tersisa. Ada yang menyeret koper, ada juga yang menenteng tas jinjingnya. Sementara kami, berasik masyuk bertiga. Ketawa-tawa seolah tidak ada problema yang sanggup membuat tangisan duka. Sesekali terdengar suara dari speaker stasiun yang mengingatkan adanya kereta yang datang dan pergi. Suara yang kerempeng, nyaring dan tidak ngebass sama sekali.

Ah, itu dia yang kami tunggu. Sekilas dengar, dia yang kami tunggu terdengar seperti Jomblokerto. Mungkin karena yang mendengar adalah jomblo akut. Padahal kereta yang kami tumpangi adalah serangkaian kereta bernama Joglokerto. Jogja Solo Purwokerto. Kota yang kami tuju, adalah tujuan terakhir si ular besi pengantar kami.

juguran blogger 2016

foto milik Rian. IG : @atanasia_rian

Hari Pertama

Lukisan Tak Berbingkai

Juguran Blogger 2016. Menurut para mastah yang kami tanyai saat itu, Juguran ini kurang lebih berarti Gathering kalau dalam bahasa Jawanya. Kalau dalam bahasa Inggris, artinya kurang lebih ngumpul, ngobrol ngalor ngidul, bertukar fikiran atau ide, makan dan lain sebagainya.

Bertempat di dua desa. Kalisari dan Dermaji. Juguran Blogger 2016 berlangsung dengan seru. Blogger-blogger dari luar Banyumas turut serta menyemarakkannya. Sangat menyenangkan mengenal teman-teman baru serta melihat tempat-tempat baru.

Dalam bayangan dan imajinasi saya, ketika rundown acara dibagikan, kami akan menelusuri seluruh desa untuk melihat potensi dan tentu saja pemandangan khas pedesaan. Point itulah yang menjadi penyemangat utama saya mengikuti acara ini. Ekspektasi saya, saya akan dimanjakan dengan pemandangan gunung atau perbukitan hijau serta kabut dan cahaya matahari. Menelusuri pematang sawah diantara gemulai padi yang menari. Seperti secuil kisah masa kecil yang pernah terjadi. Saat itu.

Di Kalisari, saya harus puas dengan pemandangan pagi hari yang tidak sengaja saya dapatkan. Awalnya, rasa penasaranlah yang menuntun saya. Air di kamar mandi, tidak pernah dimatikan. Mengalir deras dan selalu penuh. Pikiran sosok orang kota saya berkata, “apa ngga rugi nih?”

pipa air desa kalisari

pipa yang mengular. dok pribadi

Demi mengejar jawaban, saya menelusuri pipa yang menjulur. Mengarah ke rumpun bambu yang berada di depan rumah singgah tempat kami menginap. Semakin dekat, semakin banyak pipa yang ada di sana. Saya menemukan jawabannya. Namun saat itu juga, jawaban itu menjadi tidak begitu menarik. Sebuah lukisan tak berbingkai tepat berada di hadapan mata.

Desa penghasil TAHU.

juru potret Yanto. IG : @pulaumadura

Cantik banget kan. Keren kan.

 

Desa Kalisari penghasil tahu

Pagi yang indah. Foto milik Yugo. IG : @bentara.id

 

Desa Kalisari penghasil tahu

Penuh dedikasi. foto by Yugo. IG : @bentara.id. model : @wawanjogja

 

Suasana pagi yang indah di Kalisari. Sepertinya, sebuah awal yang terlalu sulit untuk dilupakan dan sepertinya sebuah awal yang baik untuk memulai perjalanan seharian di desa penghasil tahu ini.

Next : Ingin TAHU? ke Kalisari aja

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai