Hukum operasi kecantikan

hukum melaksanakan operasi kecantikan dan hukum mempelajari ilmu kecantikan? Bagi para wanita,silahkan dipelajari kajian berikut ini.

Operasi kecantikan (plastik) ini ada dua macam. Pertama, operasi kecantikan untuk menghilangkan cacat yang karena kecelakaan atau yang lainnya. Operasi seperti ini boleh dilakukan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan izin kepada seorang lelaki–yang terpotong hidungnya dalam peperangan–untuk membuat hidung palsu dari emas. Kedua, operasi yang dilakukan bukan untuk menghilangkan cacat, namun hanya untuk menambah kecantikan (supaya bertambah cantik). Operasi ini hukumnya haram, tidak boleh dilakukan, karena dalam sebuah hadis (disebutkan),

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْ صِلَةَوَالَوَاشِمَةَوَالْمَسْتَوْشِمَةَ

Rasulullah melaknat orang yang menyambung rambut, orang yang minta disambung rambutnya, orang yang membuat tato, dan orang yang minta dibuatkan tato.’ (H.R. Bukhari)

Alasannya, adalah karena operasi seperti ini akan membuat keindahan yang baru, dan bukan untuk menghilangkan cacat.

Adapun berkaitan dengan siswa yang diharuskan untuk mempelajari operasi kecantikan (plastik) dalam kurikulum pelajarannya, maka dia boleh mempelajarinya, tetapi tidak boleh digunakan untuk operasi yang haram. Bahkan, semestinya, dia memberikan nasihat kepada orang yang memintanya melakukan operasi yang diharamkan (itu) agar menjauhi operasi ini, karena hukumnya haram. Mungkin, nasihat dari dokter lebih diterima oleh pasien.” (Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, hlm. 478–479)

Sumber: Majalah As-Sunnah, edisi 5, tahun IX, 1426 H/2005 M

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai