Harapan Dalam Secarik Kertas

Disebuah pagi yang indah. Wanita tua itu berjalan pelan. Seorang pria tambun memapahnya dengan sabar. “Bu, duduklah disini” ucapnya lirih. Sambil meraih selembar kertas kuning dari dalam sakunya ia berpesan “jika aku terlambat menjemputmu, berikan kertas ini kepada siapapun yang engkau temui.  Ia akan mengantarmu kepadaku ”

“Kau akan terlambat menjemputku nak?”
“Tidak, tidak. Hanya jika aku terlambat bu”. Lelaki itu menciumnya dan bergegas pergi. Ia meninggalkan sang ibu sendirian disebuah taman.

Waktu berlalu. Seorang pria berdasi datang menghampiri.

“Hai ibu. saya tinggal di apartemen itu.” sapanya ramah. “Pagi tadi saya melihat anda duduk disini. Seusai pulang kerjapun anda masih disini. Ada yang bisa saya bantu ibu?”
“Tidak, tidak perlu. Saya sedang menunggu anak saya menjemput” jawab ibu itu.
“Tidak apa bu. Apa yang ibu butuhkan?”
“emm, em. Bolehkah saya meminta air. Saya haus”
“oh, silahkan.” Ia menyerahkan sebotol air mineral miliknya. Dengan segera, wanita renta itu meneguknya hingga habis.

“Terima kasih nak. Oh ya, siapa namamu?” ucap ibu tersebut.
“Abdulllah bu. Putra ibu bekerja dimana?”
“Saya tidak tahu nak. Ini pertama kalinya saya ke kota. Karena sudah lama tidak berjumpa dengan anak saya. Kangen rasanya. Apalagi saya belum pernah melihat cucu saya. Ini fotonya” ucapnya sambil menyerahkan sebuah foto.
“Wah, cucu ibu menggemaskan”
“Iya kan. Hari ini akan menjadi hari pertama kami berjumpa. Semoga ia senang dengan oleh-oleh saya.”
“Ia akan suka ibu. Pasti suka. Omong-omong, ibu punya nomor telepon putra ibu.”
“Hmm, ia tadi memberi saya kertas. Ia bilang, agar memberikan kertas ini kepada siapa saja jika ia terlambat menjemput.”
“Mungkin itu nomor teleponnya. Akan saya terlepon untuk segera menjemput ibu”
“Jangan nak. Bagaimana jika ia sedang sibuk?”
“Tidak, tidak. Ini sudah diluar jam kerja bu. Ibu ingin segera bertemu dengan cucu ibu bukan?”

Ia mengangguk. Senyumnya mengembang. Terbayang betapa senangnya ia bertemu cucu yang paling ia rindukan. Perlahan, kertas itu berpindah tangan.  Dengan hati-hati Abdullah membukanya. Kertas itu bertuliskan kalimat yang sangat mengejutkan.

“Barang siapa yang menemukan wanita ini. Tolong antarkan ia ke panti jompo terdekat.”

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai