Gelar Budaya Desa Sendangagung : Menuju Desa Budaya

Gelar Budaya Desa Sendangagung

 

gelar budaya desa sendangagung

Someday, I will be like her

Tanggal 1 Oktober 2016 kemarin adalah hari yang dinanti oleh warga Sendangagung, khususnya para pegiat seni yang bermukim di sana. Bagaimana tidak, tanggal tersebut adalah tanggal dimana dilangsungkannya sebuah gelaran yang menentukan berhasil tidaknya langkah mereka meraih title Desa Budaya. Ya, saat itu Gelar Budaya Desa Sendangagung diadakan dan dihadiri oleh pemangku dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta selaku tim penilai.

Pada kesempatan itu, Desa Sendangagung menampilkan aneka Seni pementasan, Kuliner serta Kerajinan yang muncul dari tangan-tangan kreatif. Menariknya, hampir semua peraga seni di panggung adalah anak-anak yang memang dibutuhkan untuk meneruskan tongkat estafet budaya setempat agar lekang dan tidak tergerus oleh perubahan zaman.

Sebut saja salah satunya adalah Kethoprak Bocah. Sesuai namanya, Kethoprak Bocah ini dimainkan oleh anak-anak (bocah) yang menggemaskan. Yang ditampilkan saat itu adalah lakon Rara Jongrang dan Bandung Bandawasa yang mana tentu saja pemerannya masih anak-anak. Lebih-lebih saat adegan Bandung Bandawasa membutuhkan bantuan untuk membangun seribu candi permintaan Rara Jongrang. Datanglah banyak jin yang imut dan lucu-lucu. Bahkan ada yang masih sering menoleh ke arah penonton, mungkin mencari anggota keluarganya. Adegan ini berhasil memancing gelak tawa masyarakat yang hadir tumpah ruah kala itu.

gelar budaya desa sendangagung

Adegan Bandung Bondowoso memanggil Jin. Yang datang jin imut lucu menggemaskan.

Selain Kethoprak Bocah, seni budaya yang turut meramaikan Gelar Budaya Desa Sendangagung antara lain adalah Macapat, Kuntulan, Jeber Jues, Dolanan Bocah, Badui, Tayub, Shalawatan, Tradisi Wiwitan, Tradisi Nyadran, Untuk lima seni yang kami sebut pertama, penampilnya adalah bocah dan remaja. Hal ini sungguh melegakan. Mengingat sekarang ini generasi muda cenderung memilih untuk memperagakan budaya asing yang bahkan mungkin tidak mereka ketahui nilai filosofi dan manfaatnya. Sangat kontras dengan apa yang terlihat di Desa Sendangagung ini, Macapat misalnya. Seni budaya ini dibawakan oleh seorang anak perempuan sekira umur 8-9 tahun. Berjalan jongkok (laku timpuh) mulai dari pinggir panggung hingga ke tengah panggung. Membawakan tembang Macapat dengan lancar. Setelahnya, ia kembali berjalan jongkok untuk turun panggung. Sungguh, applaus kami selalu paling keras untuk sebuah lompatan besar ini.

Lihat gambar di bawah ini.

gelar budaya desa sendangagung

kamu bisa mocopat? anak dalam gambar itu bisa.

Demikian juga dari sisi kerajinan yang turut meramaikan gelaran ini. Di sana dipamerkan miniatur Menara Eiffel yang terbuat dari bonggol jagung. Lebih tepatnya bonggol jagung kecil atau kerap disebut janggel. Berawal dari kekhawatirannya akan limbah jagung yang menumpuk dan sulit terurai oleh tanah, Stefanus Indri Sujatmiko berinisiatif mengubah sampah tersebut menjadi sebuah karya yang bernilai ekspor.

A video posted by Wawan Jogja (@wawanjogja) on

Produk dari janggel jagung ini dijamin tahan rayap, tahan cuaca, sehingga awet dan tahan lama. Sementara untuk masalah jamur, pria yang disapa pak Indri ini menegaskan hal tersebut tergantung dari kondisi kelembaban masing-masing tempat display. Namun jika menilik dari kondisi desa Sendangagung yang cukup dingin, cukup meyakinkan bahwa produk ini juga tahan jamur.

batik shibori

Ganteng tho …… Sarung Shiborinya?

Selain kerajinan Bonggol Jagung karya pak Indri, masih ada juga seorang warga yang patut diacungi jempol. Pak Kiyat namanya, pengrajin Shibori yang sudah banyak menghasilkan karya serupa batik. Disebutnya Batik Shibori, sebuah karya yang dihasilkan dengan metode tie-dye pada medium kain. Produk batik Shibori ini sudah kerap dipesan oleh orang manca negara. Jepang adalah salah satu negara yang kerap memesan karya beliau. Motif yang muncul adalah motif “tidak sengaja” yang cantik dan selalu istimewa. Disebut Istimewa karena dipastikan hanya satu-satunya dan tidak bisa diulangi lagi. Meski kain bahan dilipat dan diikat dengan cara sama, dicelup di warna yang sama pula, dipastikan hasil yang akan muncul pasti berbeda. Mungkin motif yang terlihat adalah sama. Namun pasti kecantikan motifnya berbeda dan hal ini membuat bingung pecintanya.

Cek gambar Instagram di bawah ini, cantik kan karya pak Kiyat?

A photo posted by Wawan Jogja (@wawanjogja) on

Tidak hanya kerajinan dan Seni saja yang dipertunjukkan di Gelar Budaya Desa Sendangagung. Pada kesempatan itu, ditampilkan juga kuliner yang diproduksi oleh warga desa setempat. Wader Presto demikian mereka menyebut. Wader yang digunakan adalah wader yang terpilih dan besar-besar. Wader Presto ini terasa lembut ketika digigit. Bahkan ketika kami menggigit dan mengunyahnya, serasa tidak menggigit ikan, malah lebih mirip menggigit brownis atau semacamnya. Duri-durinya sudah empuk dan tidak terasa. Sangat cocok untuk lauk sekeluarga.

Lihat gambar di bawah ini. Wader Presto yang ada pada gambar adalah Wader Presto dengan bumbu bacem.

A photo posted by Wawan Jogja (@wawanjogja) on

Fotonya sih hanya satu wader presto saja. Tapi sebenarnya saya ambil tiga ekor. Karena empuk dan gampang dikunyah jadi rasanya seperti makan satu ekor saja. #alibi

 

Coba cari yang mana saya.

A photo posted by Wawan Jogja (@wawanjogja) on

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai