For me, You are an Angel.

Pada selembar foto, yang kau yakini diambil 30 tahun yang lalu. Aku melihat betapa gendut dan chubby-nya dirimu. Kuperkirakan beratmu sekitar 80 kilo saat itu, meski kau tidak meng-iyakannya. Namun aku dengan sangat yakin kau memang seberat itu. Engkau hanya tertawa.

Lembar berikutnya, terlihat engkau sedang duduk sambil meminum minuman ringan dalam kemasan kotak. Terlihat cantik dengan dandanan yang elegan. Seperti bukan engkau. Saat itu aku menebak berat badanmu. Sekitar 70 kilo. Kau hanya tertawa lagi.

Setelah itu kau balik menertawakan gayaku di foto usang yang kau bilang diambil di kota Palu. Dimana aku mengenakan kacamata dan menenteng pistol plastik bergaya angkatan laut, namun segera lari begitu kereta api mainan engkau nyalakan. Aku takut karena gerakannya lebih mirip ular daripada kendaraan angkut. Kali ini tawamu terhenti sambil memegangi perut.

Di foto berikutnya, terpampang foto keluarga di sebuah studio kecil milik seorang tetangga dahulu. Kau terlihat pucat dan mengenakan baju warna hitam. Entah apa maksudmu mengenakannya. Yang kuingat saat itu engkau tengah menderita sakit dan memaksa Ayah untuk berfoto bersama meski harus berjalan sangat pelan. Kalo tidak salah tumor atau mungkin kista. Ah aku lupa. Tapi di foto ini, engkau kurus sekali. Mungkin tidak lebih dari 50 kilo.

Disamping foto itu, ada senyum dua adik kecilku. Yang satu tengah bangun tidur dan yang lain sedang tertawa. Sedang Ayah hanya bergaya sekedarnya. Kita tertawa melihat gigi depannya yang hilang. Terekam dalam foto amatir yang entah siapa pembuatnya. Kau menghentikan lagi tawamu dan memegang perutmu.

Aku jadi teringat akan sebuah foto yang ada di hapeku, yang seharusnya kucetak beberapa hari yang lalu. Disana engkau memangku cucumu yang tengah lelap sehabis bermain bersamaku. Di warung kecil dekat rumah kita. Rumah yang baru satu tahun kita tempati namun harus segera di kosongkan karena pemiliknya tidak merestui lebih lama lagi.

Ah..aku baru sadar. Engkau belum minum obatmu pagi ini. Kata Dokter, engkau seharusnya tidak boleh beraktivitas selama beberapa bulan sampai bekas operasimu mengering dan benar-benar sembuh. Apalagi sudah dua kali di operasi. Namun engkau benar-benar bandel. Seorang nenek yang ngeyel dan suka memaksa kehendak sendiri sampai harus berulang kali kecapekan hingga tidak mampu beraktivitas. Kadang kau juga seenaknya ngomong, asal bicara, tanpa memperhatikan perasaan orang. Dan tak jarang hal itu membuat keributan di dalam rumah.

Meski demikian, bagiku engkau tetap seorang bidadari. Entah apa nama yang Tuhan berikan padamu. Aku memanggilmu…. IBU.

 

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai