Dunia Ketigaku, Kau, dan Disabilitas

Ayah dan teman-temannya adalah sahabat disabilitasku. Mereka mengajarkan dunia ketiga padaku meski secara tidak langsung. Walaupun terlahir dengan kondisi yang tidak sempurna, meratap adalah bukan pilihan. Banyak pelajaran hidup yang dapat kita ambil hanya dengan berbaur  bersama mereka.

Pada mulanya ayah terlahir dengan panca indra yang lengkap. Namun penglihatannya rusak karena demam tinggi ketika masih kecil. Panas tubuh merusakkan jaringan di matanya dan membuatnya tidak mampu melihat kembali. Peristiwa itu membuat ayah sangat cemas ketika  anak-anaknya sakit panas. Berulang kali ayah mengingatkan sebab hilangnya penglihatannya. Hal tersebut dimaksud untuk menumbuhkan awareness akan bahaya sakit demam dengan panas tinggi.

Ayah juga selalu mengajak aku dalam komunitasnya yang menarik. Dikenalkan kepada seluruh teman-temannya  ketika menghadiri pengajian dan mendengar merdunya alunan ayat suci Al Quran dari sesamanya. Diajak berlatih band yang seluruh personelnya tidak kalah hebat dengan pemain normal. Hingga mengikuti latihan karawitan yang diadakan sekali sebulan.

Terpikir olehku kenapa seni  musik adalah yang paling banyak diminati oleh penyandang tuna netra setelah massage(1). Sepanjang hidup yang telah mereka jalani, mereka lalui dengan tanpa melihat. Walaupun memang beberapa diantaranya ada yang low vision(2),  namun musik adalah tetap pilihan kedua. Mereka terbiasa hidup tanpa melihat menggunakan mata, sebaliknya mereka terbiasa hidup dengan “melihat” menggunakan telinga. Dan ketika telinga digunakan lebih sering, maka perasaan akan sangat berperan. Kata-kata dapat menjadi sangat sensitif disini. Karena hal itulah, terkadang terjadi salah tafsir ditengah pergaulan mereka. Sedang musik sendiri adalah seni  yang menggunakan telinga lebih banyak daripada mata. Musik adalah sesuatu yang disuarakan dan dirasakan dengan hati. Dalam hal ini, mereka adalah jagoannya.

Perhatikan saat mereka memainkan alat musik. Terlihat betapa seriusnya mereka mengerahkan kemampuan mendengarnya demi menyerap not demi not. Memastikan tidak ada not yang fals, meski hanya sekedar stem alat musik. Saat mereka memainkan musik itulah aku menyadari bahwa musik tidak dimainkan dengan mata melainkan dimainkan dengan hati. Musik adalah didengar dan dirasakan.

Inilah dunia ketiga yang mereka ajarkan secara tidak langsung padaku. Dunia yang tidak hanya dijalani dengan polah tingkah, tidak hanya dijalani dengan tatapan dan berasumsi, namun juga dunia yang perlu didengar dan dirasakan.

Kelebihan yang kita miliki bukanlah untuk kita banggakan atau bahkan untuk mengkerdilkan mereka yang kekurangan. Kelebihan itu seyogyanya mampu menumbuhkan sikap “bisa merasa” kepada orang lain.  Cobalah bayangkan jika penglihatan tiba-tiba menghilang dan cahaya yang indah tidak lagi dapat kita nikmati. Sedang hidup harus terus berjalan mengikuti titah sang waktu. Bagaimana perasaanmu ketika membutuhkan sesuatu sedangkan harus menyeberangi  jalanan yang tidak kunjung sepi?

Menyeberang jalan adalah salah satu hal yang sulit bagi penyandang tuna netra. Dan disinilah salah satu momen untuk menunjukkan kita sebagai orang yang diberi kelebihan. Rasakan kesusahan mereka dan segera bantu. Setelah itu, bersyukurlah Tuhan tidak mencabut penglihatanmu.

**

(1): pijat
(2): daya lihat yang lemah namun tidak dapat dibantu dengan kacamata.

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai