Dolan Bareng Blogger Jogja ke Jogja Lantai 2 part II

Dolan Bareng Blogger Jogja part II

Batu Kembar dan Pantai Mungil nan Privat

dolan bareng blogger jogja

Pantai Ngobaran. Ada candinyaaaaa

Seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya ( #DolanBareng Part I ), kami menemukan sepasang batu yang unik di dalam goa di balik celah patahan bukit. Batu tersebut seolah kembar disana. Bagaimana tidak, mereka berada di cekungan yang berisi air di dasar goa. Warnanya putih. Saya bertanya dengan setengah bercanda, “kira-kira bisa dibuat batu cincin engga ya? hahaha”. Saya bertanya demikian karena saat tulisan ini dibuat, pasar sedang dilanda demam batu cincin. Tak jarang kita temui muda-mudi yang mengenakan batu cincin di jari mereka. Ada yang batu akik, ruby, kalimaya dan sebagainya. Mungkin saya merasa batu kembar tersebut bisa diolah sedemikian rupa menjadi batu cincin yang indah. Ngigau kali ya.

dolan bareng blogger jogja

jadiin batu akik coba. sapa tahu bisa. Sapa tauuuu

Namun saya tidak lebih tertarik akan hal tersebut. Apakah anda juga? Saya lebih tertarik bagaimana melewati celah batu untuk menuju pantai mungil yang ada di baliknya. Saya mengamati medan yang ada. Saya mencoba membuat rute yang aman untuk saya lewati dan juga teman-teman di belakang saya.

Dengan hati-hati, kami menyusuri pinggir celah. Tidak boleh salah langkah. Karena tepat di bawah kaki, kedalaman airnya lumayan dalam untuk berenang. Ibarat kata, goa tersebut memiliki kolam renang di depannya yang bisa digunakan berendam seharian. Tertutup dari pandangan mata pengunjung lain karena di balik patahan batu.

dolan bareng blogger jogja

Bukan bermaksud pamer bumper. Tapi demikian adanya. :v

Setelah sukses menyusuri celah batu, kami mendapati pantai mungil yang tidak ada penghuninya. Saya bilang tidak ada penghuninya karena biasanya tempat semacam itu selalu dipilih oleh sepasang muda mudi yang sedang berpacaran. Jika tidak percaya, silakan bertanya kepada Dany dan Mutia, sepasang merpati yang entah berada dimana saat kami menikmati pantai mungil itu secara privat.

dolan bareng blogger jogja

Berasa pantai privat. Cuma milikkuuuuh. rasanya pengin gitu

Aji Saka menjadi most wanted person di sana. Bukan karena ketampanan atau berkawat gigi, melainkan karena benda yang menggantung di lehernya. Ya, satu unit DSLR yang selalu ia pegang. Begitu kami tiba di lokasi tersembunyi itu, masing-masing langsung request untuk difoto. Dan karena ia most wanted person itulah, Aji Saka selalu dikhawatirkan. Dicemaskan keselamatannya. Bukan, bukan, bukan orangnya. Melainkan keselamatan DSLR miliknya. Semua orang mengkhawatirkan hal tersebut. Pemiliknya? Biarkan saja. :v :v :v

Dia pun berteriak “Wooooooooowwww”

Bukan saya, jika tidak tertarik untuk memanjat batu besar di pinggir pantai. Sebuah bongkahan batu besar tinggi yang pasti akan menjadi tempat menarik untuk melihat wajah samudra biru. Trek menuju ujung batu kurang lebih sama dengan yang menuju tebing. Dipenuhi dengan runcingnya permukaan batu selayak duri. Sialnya, saya tidak mengenakan sepatu seperti sebelumnya. Karena agar tidak basah saat berada di celah batu tadi. Imbasnya, saya harus meringis-meringis menahan sakit saat menginjak permukaan batu yang sangat tidak rata tersebut.

dolan bareng blogger jogja

Saya udah di atas batu. Tuh mas Tomi lagi mau nyusul

Namun rasa sakit itu mendadak hilang. Ia lenyap seketika saat saya sampai di ujung batu. Dari sana, samudra biru terpampang luas. Terpampang jelas. Saya seperti menaiki sebuah kapal pesiar dan berada di ujungnya, mirip dengan sebuah film Box Office beberapa tahun yang lalu tetapi minus seorang bidadari di pelukan. Malah justru seorang pria tambun yang menyusul saya. Tomi Purba pelan-pelan menuju tempat saya duduk menikmati angin laut dan ombak yang berdatangan. Ia juga terlihat meringis-meringis saat memanjat. Namun ketika sampai di samping saya dan melihat pemandangan di depan matanya, spontan ia berteriak “Wooooooowwww”.

dolan bareng blogger jogja

Pemandangan dari atas batu. Jangan lompat

Foto-foto? Tentu saja. Kami mengabadikan momen saat berada di atas batu tersebut. Mas Putra, Setia Adi, yang juga menyusul Tomi Purba pun tidak ingin ketinggalan. Karena berada di tempat yang sempit di atas ketinggian, maka sesi pemotretan digilir. Pindah kesana geser kesini, semua dilakukan dengan slow motion.

dolan bareng blogger jogja

Heiiii, itu akuuuu. Heiiii

Blogger Yang Kehausan

Pernah melihat Blogger kehausan dan begitu hausnya sampai rela menunggu tetesan air tanah jatuh? Saya pernah. Hal tu terjadi setelah kami turun dari batu dan kembali menikmati pantai mungil bersama-sama. Om Tomi merasa sangat kehausan. Tenggorokannya terasa kering seakan ingin meneguk semua air laut dihadapannya. Saya berkata “Ini air tanah, dan pasti rasanya tawar” sambil menunjuk langit-langit tebing yang terus menerus meneteskan air dari atas. Rere lantas mendongak dan membuka mulutnya untuk bersiap menerima kiriman air dari langit-langit tebing. Beberapa saat kemudian, “hmm, iya. Airnya tawar” serunya setelah mendapatkan setetes air. Saya lantas mencari om Tomi. Saya melihat sisi kiri dimana sebelumnya dia berada. Ternyata beliau sudah berada di sebelah kanan saya sambil mendongak ke atas. Perhatikan foto.

dolan bareng blogger jogja

Rereeee, kasian amat yaaak

dolan bareng blogger jogja

haus baaaang??

Seperti yang terlihat diatas. Rere dan Tomi sedang menunggu rembesan air tanah dari tebing. Lucunya, om Tomi menepuk-nepuk dinding tebing dengan maksud supaya rembesan air lekas terkumpul dan jatuh tepat di dalam mulutnya. Dia pikir…. hahaha.. kasian banget yaa.

Emange teh celup?

Kami belum capek tapi hanya haus dan lapar saja yang terasa saat itu. Dua hal tersebut memang tidak bisa ditutupi dengan kebahagiaan. Seseneng, segembira apapun, haus dan lapar tetap terasa. Tapi “capek”, bisa kalah atau bahkan hilang karena keceriaan saat di pantai kala itu. Kami pun memutuskan untuk kembali ke rombongan. Menempuh rute semula, melalui celah yang tadi dilewati. Tak lupa menyiram Retna Mudiasih terlebih dulu. Pengennya sih mencelup Retna di kolam dalam goa hingga bener-bener basah. Tapi tak apa. Menyiramnya adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Hahaha… #Emange teh celup, mau dicelup di kolam goa.

Kami kembali ke rombongan. Tempat dimana sebelumnya menyewa payung pantai ( saya lupa ngga nanya harga sewanya ) untuk meletakkan tas-tas kami. Terima kasih buat mba Rini Rindawati yang bersedia menunggui harta para peserta #DolanBareng ini. Padahal mungkin sebenarnya isi dari tas itu adalah celana pendek, kaos dalam, boxer, cemilan dan cancut. Meskipun Blogger, sepertinya mana mungkin membawa laptop ke pantai yang notabene adalah kumpulan air dan berbahaya untuk si lepi. Kecuali mba Sekar, beliau adakah marketing apa aja yang mBlogger yang sukanya tiduran dan gulung-gulung di pasir pantai. :v :v :v

Mari (menuju) makaaaan

Cemilan, minuman mineral, semua sudah dikeluarkan dari tas mba Sekar, kantong plastik mba Rini dan tas rekan-rekan. Segarnya air kelapa muda pun sudah dipesan. Harganya saat itu adalah Rp. 8000. Tidak perlu ditawar, kenapa? Karena disana bukan pasar Beringharjo. :v :v

dolan bareng blogger jogja

Serunyaaa

Semua rekan sibuk. Jarwadi dan saya sibuk nyemil cracker, Setia Adi sibuk nyeruput kelapa muda, Aji Saka sibuk motret model seganteng saya, Mini GK dan Retna sibuk melototin #GGS yang lagi maen bola di pasir, mba Sekar dan suami + Rian dan Tomi sibuk menghabiskan kelapa muda dan cemilan di hadapan mereka, Dany Suktiawan sibuk nempel lengket sama Mutia kekasih barunya #eh, Mba Rini Rindawati + Budi Seplawan dan istri + Rere + mas Putra entah bercerita apa di bawah payung pantai mereka, Yudha sibuk membicarakan masa depan dengan idaman hatinya, Arief Ramadhan sibuk meeting dengan timnya, dan yang paling aneh adalah si Firdhaus sibuk galau kenapa Jakarta Bekasi bisa 12 jam. :v :v

Tapi kesibukan itu harus segera berakhir, karena sudah saatnya makan. Kami bersiap dan segera menuju ke pantai Ngobaran. Kami memilih makan disana karena lebih dekat dengan parkiran. Hash, alesan ngaco.
Sudahlah, mari (menuju) Makaaaan.

YKM, Yuk Kita Makaaaaan

Jarak Nguyahan dan Ngobaran tidak jauh, jalan kaki bisa. Namun bagi mereka penyandang disabilitas, seperti mba Rini, memang cukup menyusahkan. Apalagi jalan tersebut belum ramah disabilitas. Karena itu, Rian memilih untuk mengambil kendaraan dan menjemput mba Rini. Ah, mba Rian memang besar semuanya. Hatinya maksudnyaaah. #janganLemparKulitDuren lho.

dolan bareng blogger jogja

Ayo ke Ngobaraaaaaan

Teman-teman perhatikan, di Pantai Nguyahan telah ada penunjuk arah jalur evakuasi tsunami. Alhamdulillah, ada penunjuk semacam itu. Seperti pantai-pantai lainnya. Itu artinya jika terjadi tsunami, pengunjung tahu kemana arah evakuasi menuju tempat yang aman. Meski bagi saya, masih ada pertanyaan yang sangat mengganjal. Bagaimana caranya kita, pengunjung, tahu akan terjadi tsunami? Adakah semacam sirine yang akan berbunyi dan dapat didengar dari semua sudut pantai? Jika ada, sudah terpasangkah pengeras suaranya? Bagaimana mengetahui akan ada tsunami, secara tidak terlihat di pantai ada semacam detektor tsunami?

dolan bareng blogger jogja

Alhamdulillah, Belok sini pemirsah. awas ada tanjakan

Ah sudahlah, kami sudah berada di tempat makan dan memesan ikan bakar plus ikan goreng beserta nasinya. Kita biarkan pertanyaan-pertanyaan tadi diurus sama yang berwenang. Kita tunggu saja pesanannya datang. Sambil foto-foto tentunya.

dolan bareng blogger jogja

Becanda dulu nunggu pesanan datang

Saya lupa tidak memotret rincian tagihan kami. Namun seingat saya, totalnya adalah Rp. 331.000. Meski tidak bisa dibilang maknyus, namun lumayan buat mengganjal perut yang lapar.

Overall, #DolanBareng adalah ajang untuk maen bareng KBJ yang keren bingits, terbuka diikuti siapa saja, member non member, karena menggunakan dana pribadi. So, gabung aja di #DolanBareng berikutnya ya.

Next, kemana enaknya nih??

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai