Dibawah Dua Pelangi

“Ayaah, ada pelangi” seru istriku dari samping rumah kami. Rintik hujan siang ini ternyata tidak hanya memaksa berlomba menyelamatkan jemuran namun juga memberikan sebuah keindahan yang jarang terlihat. Kuletakkan tumpukan jemuran didalam kamar lantas kuhampiri Irul yang sedang asik corat-coret.

“Ayo liat pelangi” ucapku sambil menyentuh punggungnya. Ia menoleh, memperlihatkan mata bulatnya yang bening dan begitu bercahaya. Ada kepolosan disana, yang menarikku kedalam sebuah lorong waktu.

**

“Aqua dingin, aqua dingin” teriak seorang anak kecil di sudut persimpangan menawarkan dagangannya kepada setiap orang yang berhenti disana. Wajahnya kuyu, butir keringat bercampur dengan debu ibukota membuatnya tampak kotor. Baju lusuhnya menjadi tempatnya mengelap keringat. Kakinya berjingkat-jingkat melawan panasnya aspal siang itu.

“Aqua om?” ucapnya sambil menyodorkan sebotol aqua kearahku ketika langkahku mulai mendekati persimpangan.

“Berapa satu?” tanyaku. “3000 om” jawabnya secepat kilat. Kuserahkan uang 5000 sambil menerima sebotol aqua darinya. “Untukmu saja kembaliannya” ucapku  disambut dengan tatapan yang dalam darinya. Ah..wajahnya

Setelah mengucap terima kasih, ia kembali dalam rutinitasnya. Berjibaku dengan panasnya kota, menantang ganasnya kehidupan dengan tubuh sekecil itu. Kubuka dan kuminum air yang sudah tak dingin tersebut sambil kuedarkan mataku mengamati orang-orang yang ada disekelilingku. Mereka semua tenggelam dalam urusannya masing-masing. Mengejar waktu yang seakan mencekik erat lehernya.

Mataku menangkap seorang lelaki yang tengah duduk diseberang jalan. Tangannya menggenggam sesuatu,dan sikap tubuhnya tidak sedang menunggu seseorang karena janji. Ia mengamati gerak laku beberapa bocah dipersimpangan termasuk anak tadi. Siapa dia? tanyaku dalam hati.

**

Suara gesekan rel membangunkanku dari tidur malam itu. Sebuah perjalanan yang panjang. Kulihat pemandangan dari balik jendela sambil kurengangkan kembali otot-otot di tubuhku. “Sepertinya sebentar lagi sampai” ucap lelaki di sampingku entah kepada siapa. “Iya, sebentar lagi sampai di Stasiun Tugu” ucapnya lagi. Kuperhatikan orang itu yang ternyata memiliki tujuan yang sama denganku. “Maaf mas” ucapnya kepadaku sambil menutup lubang mic di handsfreenya setelah sadar aku perhatikan. Aku mengangguk dan kembali menikmati pemandangan diluar sana. “Nanti adek sama Ibu jemput Ayah? duh senangnya” ucap lelaki tersebut.

**

Kususuri jalan Malioboro, kali itu aku ingin pulang jalan kaki. Meski masih jauh, tapi tak mengapa. Karena jarang-jarang kereta tepat waktu dan aku sampai disini subuh. Kutuntaskan rinduku akan wajah kotaku, kunikmati segar udaranya sebelum racun dari knalpot memenuhi isi kota. Kuedarkan pandanganku dan kudapati beberapa anak jalanan tidur di emperan toko. Beralaskan kardus,berselimutkan dingin. Beberapa bersama orang tuanya, sebagian yang lain berteman sepi. Mereka masih kecil. Ah..lagi lagi.

Aku tahu apa yang akan KAU katakan bila aku bertanya mengapa KAU bingkai hidup mereka seperti itu. Dan aku tahu jawabannya jika aku meminta agar Engkau rubah hidup mereka. KAU pasti berkata “Aku sudah berbuat banyak. Aku sudah ciptakan engkau”

**

“Ayah, coba perhatiin. Kayaknya ada pelangi lagi deh” ucap Istriku. Aku amati dengan seksama pelangi yang terlihat jelas di sebelah timur rumah kami. Terlihat semburat tipis di atas pelangi, ada pelangi lagi. Berjarak.

“Mana Yah? Mana eyanginya” tanya irul kepadaku.

“Tuh” jawabku sambil menunjuk arah dua pelangi di atas kami. Aku semakin erat memeluknya dan berharap ia akan baik-baik saja hingga waktuku tiba. Aku tidak bercita-cita menjadi orang hebat dalam sejarah manusia. Aku juga tidak berharap semua orang mengenalku. Aku tidak menginginkan pangkat jabatan yang hanya memisahkan aku dengannya,bersembunyi dibalik “profesionalisme”,dibalik “tuntutan pekerjaan”.

Aku akan mejauhkannya dari tangan keji yang hanya mengeksploitasinya. Mengamankannya dari segala tindak kejahatan,mengamankan dari bujuk rayu setan.

Akan kuperas keringatku agar dia hangat. Kuselimuti dengan kasih sayang, akan ku peluk ketika ia menginginkanya.

Karena untuk pelangiku, tak mengapa aku tak menjadi orang hebat, asal menjadi ayah yang hebat.

**fin**

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai