Content is King vs Keyword Planner, Pilih Mana?

“Seandainya. yang saya tulis di artikel tersebut adalah sebuah produk, maka besar kemungkinan saya sudah mendapat income jutaan rupiah.”

Saya lupa tepatnya kapan, tapi yang pasti saat itu adalah hari Rabu di sebuah cafe di Kota Baru, Yogyakarta. Malam itu adalah malam RAUL. Dalam kamus bahasa Blogger Jogja, RAUL itu artinya Rabu Gaul, atau Rabu Ngumpul. Yang hadir saat itu salah satunya adalah mastah yang sekarang sedang mengemban tugas di Ibukota. Pada kesempatan tersebut, dirinya mengungkapkan bahwa ada blog yang visitornya HANYA 200an, namun mempunyai earning jutaan rupiah.

Mendengar hal tersebut, mata saya terbelalak. Hampir copot. Seandainya tidak saya lem, mungkin sudah lompat ke dalam gelas minuman yang beliau pesan. #lebe.

“Gimana caranya?” tanya saya. Dan tentu itu menjadi pertanyaan kamu juga bukan? Ternyata kita sehati!

Sosok tambun tersebut beringsut ke depan sambil setengah berbisik ia berkata. “Caranya adalah dengan menggunakan Keyword Planner dengan bijak.”

Wow.

“Menggunakan Keyword Planner” bisik saya pelan, “dengan bijak. hmmm”. Saya sempat terpana tadi. Terdiam sambil mengelus jenggot. “bagaimana itu suhu? tolong engkau jelaskan kepada muridmu ini?”

“Baiklah, muridku. Penulis blog berpenghasilan jutaan itu meriset kata kunci menggunakan Keyword Planner. Ia mencari kata kunci yang persaingannya rendah, namun pencarinya tinggi pada setiap bulannya. Sekaligus, nilai harga penawarannya tinggi. Ngga perlu SEO-SEOan. Hal tersebut menjadikan blognya ada di SERP puncak yang mana saingannya rendah namun bernilai tinggi.”

“alhasil nilai kliknya besar dan efisien ya, suhu?” sela saya.

“Lancang kamu, muridku. Jangan menyela omongan gurumu ini!”

“Ampun suhu. Ampuuun!” dan sayapun dicambuk.

Plethaak!!

—————————————————————————

Ilustrasi diatas hanyalah rekaan saya belaka. Namun tokoh, tempat, waktu kejadian, dan point yang dibicarakan benar adanya. Meski pembicaraannya ngga seperti diatas. Namun kurang lebih seperti itu.

Ya, menggunakan Keyword Planner adalah satu solusi yang bisa digunakan para penulis yang – bisa dikata- ngga melek SEO. Ngga bermaksud merendahkan, namun seperti halnya saya sendiri, saya juga ngga jago SEO. Beda halnya seperti kawan-kawan Blogger Jogja macam, Jeanot, Tomi, Chivas, Arief, Sutopo, dan masih banyak lagi para mastah SEO yang berkeliaran di KBJ. Nulis huruf “S-E-O” di postingan ini aja saya udah pusing. Bayangin tuh.

Setelah mendengar cara yang diisyaratkan guru saya tersebut. Saya mulai bereksplorasi. Saya pergi ke ke hutan, lari ke pantai, kemudian teriakku.

emm..

..

#MalahNgelindur.

Sory, terusin.

Saya membuka Keyword Planner yang menjadi bagian dari layanan GOOGLE, dan mulai mereka-reka kata kunci. Saya penginnya langsung eksekusi dengan sebuah produk yang laku dijual atau semacamnya, namun keinginan riset lebih tinggi.

Saya mencari kata kunci yang sesuai dengan blog saya. Karena kebanyakan isinya tentang blusukan, dolan ngga tentu arah, maen-maen ke pantai atau air terjun, maka saya mencoba keyword-keyword pariwisata. Salah satunya adalah Pantai Ngitun / Pantai Ngetun.

Jadi ceritanya adalah saya pengin mendokumentasikan perjalanan saya ke sebuah pantai, dalam hal ini adalah Pantai Ngitun/Pantai Ngetun. Menuliskannya di sebuah blog. Namun dengan harapan yang tinggi agar para pencari berita tentang pantai tersebut menemukan tulisan saya di SERP. Goal-nya adalah tulisan saya berada di Page One tanpa optimasi backlink apapun. Hanya tulis, lalu publis.

Bukankah hal ini sering kamu lakukan? Hanya sekedar menulis, kemudian publis?

Baiklah. Saya memulai pencarian kata kunci menggunakan keyword planner. Problem pertama, pantai target lebih dikenal dengan sebutan Pantai Ngetun, di Internet. Padahal saat saya berkunjung kesana, jika tidak salah lihat, papan penunjuk jalan yang kecil disana tertulis Pantai Ngitun. Saya mau pakai keyword yang mana.

Ini sama persis jika kita mau nulis tentang kopi. Akan menggunakan keyword Coffee atau Kopi? atau mungkin cofe? bisa juga dengan perumpamaan produk Cokelat. Mau pakai keyword Chocolate, cokelat atau Coklat? masing-masing memiliki trafiknya sendiri.

Problem Kedua. Saya meletakkan “pantai Ngitun / Ngetun” ini sebagai produk. Anggap saja produk yang bisa dijual bebas. Dibungkus kemudian masuk perusahaan kurir. Diterima dengan senang hati. Kemudian ada testimoni….bla bla bla. Berarti tujuan saya adalah LAKU ( Closing ), bukan trafik. Meskipun, jika banyak trafik kemungkinan laku lebih besar. Tapi yang saya maksud disini adalah targeting.

Kemudian saya menemukan bahwa :

pantai ngetun gunung kidul

Ternyata, kata kunci “pantai ngitun” dicari sebanyak 260 kali dalam sebulan dan persaingannya rendah. Sedikit ya yang nyari. Tapi jangan lupa, kita berniat menjual “produk”.

Kemudian saya menemukan hal menarik lagi :

pantai ngetun gunung kidul

Ternyata, kata kunci “pantai ngetun” dicari sebanyak 1.300 kali dalam sebulan. Wow, jumlahnya jauh lebih besar daripada kata kunci sebelumnya. Ini menarik. Saya mau pilih yang mana?. Disinilah kita harus memulai strategi. Saya mengandai-andai, apabila saya menggunakan kata kunci pantai ngetun, padahal kata itu yang populer di Internet, artinya suatu saat persaingan di kata kunci ini akan semakin meningkat. Bisa jadi dari LOW ke MEDIUM. Yang artinya persaingan menjadi lebih berat dari sebelumnya.

Tapi karena orientasi sebelumnya adalah LAKU / Closing, maka menggunakan keyword yang serupa ( Meski kurang populer di Internet, meski itu adalah nama pantai yang sebenarnya ) adalah satu strategi yang bisa digunakan. Ini seperti jika kita jualan kopi, maka kita tidak menggunakan keyword coffee atau kopi, melainkan cofe. Bisa juga tidak menggunakan “COKELAT manis” untuk produk tersebut melainkan kata kunci “COKLAT manis”.

Toh, barangnya sama kan. cmiiw

Mulailah saya membuat artikel dengan kata kunci Pantai NGITUN. Untuk target 260 pencarian dalam sebulan. Untuk menyenangkan hati saya, ah ngga dink, niatnya untuk lebih komplit lagi dalam hal kata kunci. Saya memilih kata kunci “Pantai Ngitun Gunung Kidul”.

Saya meletakkan kata kunci tersebut pada Judul, url, tag, dan di Konten. Pada konten, penerapannya biasanya di Header dan di bagian tulisan yang lain. Intinya, mengulang-ulang kata kunci yang menjadi target. Yakin deh, pasti gampang banget. Kamu pasti BISA.

Setelah publish, tunggu sampe tulisan diindek sama mbah gugel. Mengenai hal ini, saya ngga tahu seberapa cepat indeksnya. Saya nyubi akut. Hal ginian ngga tahu. Tahunya cuma ngabisin makanan yang dipesan para mastah sewaktu RAUL. Mereka sibuk ngomong ini itu, ngejelasin teknik satu per satu. Saya yang ada cuma….MAKAAAANN :v 😀

Setelah kira-kira sudah di indeks sama simbah, saatnya test. Untuk test pertama, kita coba kata kunci “pantai NGETUN gunung kidul”.

Bagaimana hasilnya?

“ZOOOONNK”

Ga ada sama sekali tulisan saya. Monggo silakan njenengan juga mencoba mencari. Adakah blog ini muncul di page one? Engga!!!

Lalu kita coba kata kunci lainnya, “Pantai NGITUN”. Bagaimana hasilnya?

pantai ngitun gunung kidul

Nah kan, gugel taunya pantai Ngetun kan. Dibilangin og. Harusnya ada pertanyaan, “emangnya ini di Page One?”. Kalau ada pertanyaan itu, saya hanya bisa jawab, “tolong dicek sendiri. tapi harus mampir di nomor 1 dan 3 lho ya.” Yang pinter ya yang nomor dua itu. Pake url dua keyword. Jadi dapet dua-duanya.

Bagaimana dengan kata kunci yang lain, “pantai ngitun gunung kidul”?. Oke deh, kita cek.

pantai ngitun gunung kidul

Nah kan, gugel masih aja kenalnya pantai ngetun. Tapi ga papa. Nyang penting, dua blog saya nangkring di atas sendiri. Terserah mau klik yang mana. Dua-duanya punya sayah. Seandainya. yang saya tulis di artikel tersebut adalah sebuah produk, maka besar kemungkinan saya sudah mendapat income jutaan rupiah. Tinggal diduplikasi sekitar 10 hingga 20 blog, maka page one dan page two punya saya semua. Buueebass buanget mau ngeklik yang mana. Semuanyah punyak sayaaah!!. Wow. Spammer langsung beraksi.

Menulis dengan cara seperti yang saya paparkan diatas, kemudian ditambahi CTA ( call to action ), jadi deh. Kok rasanya ngegampangin banget yak?

Emang gampang. Lha wong tinggal ATM aja. Amati Tiru Modifikasi. Banyak mastah berkeliaran di komunitas-komunitas. Nangkring aja disitu. Sedot ilmunya. Ajak ke angkringan, ngopi-ngopi.

Betewe, ilmu yang barusan kamu baca, saya dapatkan gara-gara ikutan KBJ dan suka nangkring pas RAUL. Ngga perlu ikutan seminar berbayar manapun. Bukankah banyak silaturahmi membuat banyak rezeki. Itu yang membuat saya semangat banget ikut RAUl. :v :v :v :v :v

Makanya, Ngumpul dooong. 😀 😀 😀 #nggaya

—————————————————–

“eeemm, perihal Content is King-nya mana?”

—————————————————–

hhmmm, saya nulis gitu ya? Masa sih?
Baiklah, baiklah.
Keterkaitannya kurang lebih gini. Kita terkadang beranggapan bahwa cukup menulis saja, tanpa merisaukan tentang SEO dan tetek bengeknya. Seringkali kita beralasan dibalik kata “Content is King”.

Masalahnya, kontenmu yang King tadi siapa yang baca? Ada dimana?

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai