Cinta Yang Lebih Romantis

Cinta Yang Lebih Romantis

Menulis postingan kali ini ditemani oleh beberapa lagu cinta yang dibawakan oleh beberapa band kenamaan di Indonesia. Ada yang berisi puja-puji terhadap pasangannya, ada yang berjanji sepenuh hati  tidak akan terpisah, ada yang tidak akan berpaling dan masih banyak lagi. Beberapa mampu membawakan lagu tersebut hingga membuat pendengarnya terbuai dan larut dalam nuansa romantis.

Mendengar lagu romantis dan kemudian membayangkan pujaan hati yang baru saja menutup telponnya dengan kalimat “selamat tidur, mimpiin aku yaa” serasa klop dengan situasi yang ada.

Atau mendengarkannya di sela-sela obrolan yang mesra di bawah temaramnya cahaya cafe yang sederhana. Atau mungkin sambil menikmati candlelight dinner di sebuah hotel yang telah dipesan beberapa hari yang lalu.

Atau nuansa romantis sederhana, berbincang mengenai masa depan sambil menikmati cahaya bintang di teras rumah pasangan dengan sedikit backsound suara dehem sang Ayah ketika tangan mulai berpegangan.

Kira-kira nuansa romantis yang mana yang pernah Anda alami?

Ada sebuah cerita yang penulis dengar dari acara di televisi yang sudah lama sekali. Bercerita tentang Didi Kempot sebelum sukses menjadi penyanyi. Saat itu dirinya masih mengamen.

Konon ia berjalan kaki menuju kost wanita yang dicintainya hanya untuk memberikan rambutan yang hanya satu butir saja. Kita tidak akan menangkap “ketulusan” jika melihat “jumlah” , lain halnya jika kita melihat dari “kerelaan” dan yang muncul adalah sisi romantis yang sederhana namun kuat. Apakah ini cerita yang paling romantis?

Tidak.

Saya yakin setiap orang mengalami sebuah kejadian yang menurut mereka adalah paling romantis. Namun tanpa kita sadari ada sebuah cinta yang paling romantis dari segala kisah romantis yang pernah ada. Semua kisah yang pernah saya baca – dan mungkin anda juga baca – selalu melibatkan 2 orang yang sudah bertemu, mengenal dan atau menjalin hubungan yang lama sebelumnya. Coba simak penggalan syair lagu ini :

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terpera
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya suarga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Di syair tersebut, diungkapkan kerinduan kepada seorang Rosul. Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW. Yang pastinya pengarang lagu belum pernah bertemu. Jangankan bertemu bertatap muka, mendengar suaranya saja pasti belum pernah.

Namun ada semacam rindu yang kuat untuk bertemu, ada cinta yang besar menggelora didalam dada. Ia gusar, bagaimana caranya untuk membalas besarnya cinta dengan cara yang bersahaja.

Ya. Cinta kepada Rosul, rindu kepada Rosul-lah yang lebih Romantis. Melebihi keromantisan cerita novel atau film yang pernah dibuat. Belum pernah bertemu, bertegur sapa dan berbincang namun sebait rindu terselip dalam untaian doa-doa umat muslim. Belum pernah melihat wajah, melihat postur tubuh dan mendengar suara, namun kata yang Beliau ucapkan diujung nafas adalah “umatku, umatku, umatku”.

Sepantasnya kita – umatnya –¬† membalas keromantisan yang Beliau berikan. Dengan selalu mengamalkan ajarannya, mengirimkan salam dan doa untuknya dan tidak terlena keromantisan ala barat yang sesungguhnya tidak perlu ditiru.

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai