Cara agar sedekah jadi kebiasaan.

Belum tinggi Mentari siang ini sewaktu seorang kawan datang dari tanah perjuangannya (pasar). Dengan senyum dia menyampaikan salam,dan dengan senyum yang sama kami membalas salamnya. Setelah beberapa barang dagangannya di turunkan,ia mulai melangkah mendekati kami yang tak beranjak dari tempat duduk. Kami malah senyum-senyum melihat kehadirannya. “Alhamdulillah inget juga” ucapku sambil menjabat tangannya dengan erat. “Ya engga lupa laah, masa buat silaturahmi aja lupa” jawabnya pelan.

Dia bercerita tentang perdagangannya yang akhir-akhir ini sedikit mengalami penurunan omzet. Meski sudah di upayakan di berbagai sektor namun sepertinya memang keadaan lebih sulit untuk kali ini. Namun ia percaya bahwa semua ini cobaan untuk menguji seberapa Istiqomah dirinya. “Ini akan menjadi Ibadah dan insya Allah berpahala karena ke-Istiqomah-an tadi” katanya seraya meminum susu kedelai yang kuletakkan di barisan depan dagangan warungku. “Berapa?” Tanyanya sambilĀ  merogoh dompet. “Seribu” ucapku. Kuterima uang seribu darinya dan kumasukkan ke dalam kantong penyimpanan.

Saat itu tiba-tiba aku teringat sebuah pertanyaan yang beberapa hari lalu muncul di benakku. Mumpung dia ada di sini sekalian saja kutanyakan masalah itu.

“Ga buru-buru kan??” tanyaku

“Ga sih, ada apa?”

“Kita udah sering denger tutorial,udah sering denger tips-tips. Tapi sulit banget meng-aplikasikan semua itu ke dalam keseharian kita. Misalkan sedekah,sampai ke hal kewirausahaan. Semua pasti terasa berat umtuk memulainya.” tanyaku. Aku langsung ke pokok pertanyaan yang pengen ku tanyain ke dia. Toh dia sering menerima pertanyaan dariku yang langsung, ga pake basa-basi.

“Semua itu emang perlu di biasakan. Biasakan untuk sedekah setiap ngeliat pengemis. Setiap ada orang datang minta tolong,biasakan menyambutnya dan membantu. Bentuk pola pikir bagaimana untuk terus bersedekah.”

“Mengawalinya selalu sulit kan?” tanyaku

“Benar. Karena itulah di sebut kebiasaan. Karena di ulang-ulang,maka menjadi lumrah bagi orang itu dan akan menjadi mindset. Apabila tidak di lakukan maka akan ada sesuatu yang kurang darinya”

“Motivasinya bagaimana?”

“Boleh karena ingin mendapat pahala, boleh untuk mendapatkan ampunan di akherat,boleh juga untuk menghindari adzab. Asal bukan untuk pamer aja, jadinya riya ntar” jawabnya

“Bentar dulu, sementara aku artiin gini : Kita boleh mengharapkan pahala dari sedekah yang kita lakukan karena hal tersebut bisa menjadi motivasi dan dengan harapan lebih jauh akan menjadi kebiasaan.”

“Betul, karena kalau – hanya mengharapkan cinta Ilahi- sepertinya itu level para Sufi.”

“Kalo soal balasan. Terkadang kita ingin di Balas di Dunia, udah nunggu lama tapi belum datang juga balasannya. Namun -karena kita ga tau maunya Tuhan- mungkin dibalas di akherat. Bagaimana ini?”

“Istiqomah. Namun ada lagi yang perlu di ketahui. Andai kita tanam Padi, pasti tumbuh rumput. Tapi kalo kita tanam Rumput,apakah lantas tumbuh Padi??”

“Tidak.”

“Itulah. Kalo kita mengejar Akherat,Duniapun akan di beri. Kalo kita mengejar Dunia,Akherat akan menjauh. Allah akan memberi Akherat dalam satu paket dengan Dunia”

Pembicaraan kami terpaksa di akhiri karena dia harus antar stok dagangannya sekaligus belanja untuk stok bahan bakunya. Setelah mengucapkan salam, ia nyalakan motornya dan melesat menembus keramaian jalan siang ini.

 

 

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai