Tega, Dijamu Cappucino Kadaluarsa Oleh Progo Rafting

Dijamu Cappucino Kadaluarsa Oleh Progo Rafting

Bagaimana perasaanmu ketika diajak Arung jeram tapi kamunya ngga bisa berenang? Ada mupeng plus khawatir kan? Nah itu juga yang saya rasakan sewaktu tim Progo Rafting mengajak Blogger-blogger ketemuan dengan sungai Progo beberapa waktu lalu. Mereka bilang, mau ngajakin rafting progo atas.

Tepatnya tanggal 24 Januari 2016, ada sekelompok muda mudi dan mantan pemuda pemudi mendatangi markas Progo Rafting yang berada di kompleks Hotel Puri Asri Magelang. Kedatangan mereka ini – yang dilakukan secara sadar – adalah untuk menguji seberapa nikmat menu cappucino yang mereka tawarkan. Hebatnya lagi, cappucino tersebut disuguhkan sepanjang 9 kilometer dan harus dinikmati selama dua jam menggunakan perahu rafting.

Saya melihat barisan peralatan arung jeram yang tertata rapi di pinggir sungai Progo. Kekhawatiran itu semakin membuncah. Lha ngga bisa renang, kok nekat ikut arung jeram. Gimana kalau nanti tenggelam? Mau dikemanakan kegantenganku?

Tapi setelah diberitahu bahwa pelampung yang kami pakai sanggup mengangkat seberat 100kg lebih, kekhawatiran itu perlahan menyusut. Berat badan saya kurang lebih 45 kilo, jadi pasti tidak akan menjadi masalah. Kalaupun nanti nyebur, ngga butuh waktu lama, saya pasti segera muncul ke permukaan. Pikir saya.

Saya kenakan pelampung dengan ketat. Semua tali terpasang dengan rapih. Helm merah bertuliskan “Progo Rafting” nempel di kepala. Kaca mata ngga lupa saya ikat biar ngga jatuh. Harusnya saya sudah terlihat mirip Arung Jeramers, tapi malah lebih mirip penyanyi nDangdut jaman dahulu.

arung jeram progo rafting progo atas

“Aku bukan pengemis cintaaaaaaaaaaa”

Dan ketika kelompok yang saya ikuti sudah harus segera menuju ke kapal, saat itulah jantung saya berirama rock and roll. Mungkin lebih pas disebut underground dengan dobel pedalnya daripada rock and roll. Saat berjalan ke arah perahu, pohon kelapanya seakan berkata “Modar cocote” sambil head banging mengikuti irama underground di dada saya. Selang beberapa langkah, rumput-rumput mengejek “takut yaaaaaaa”. Batu-batu dan riak sungai justru tertawa lepas “cekakakakakakakaka”.

arung jeram progo rafting progo atas 1

Jika ku tak kembali, ingatlah…. kamu utang padaku.

 

Ketika kaki pertama naik ke kapal, “Duuuh, beneran nih? Aman ga nih?”
Setelah kaki ke dua naik kapal, “Jiah, udah ga bisa mundur lagi. Bismillah. Beneran aman ga sih ini?”

Saya duduk paling depan. Saya sudah membayangkan sensasi naik roller coaster di kursi terdepan. Di dalam pikiran saya, jeramnya tuh sangat mengerikan. Sanggup menghempaskan kapal dan membaliknya sedemikian rupa sehingga saya, yang ganteng ini, harus berjibaku dengan arus dan meminum hidangan cappucino kadaluarsa. Ah, sungguh tega Progo Rafting, sungguh tega.

Kapal biru itu dikayuh. Mulai mengarungi sungai dengan tenangnya. Langit biru dengan awan putih diatas sana memaksa sang mentari mencari celah untuk mengintip kekhawatiranku. Angin dingin menyentuh seperti ujung jari yang meraba pelan. Pepohonan rindang nan hijau serta sesekali kicau burung bertengger di ranting muda mengisi bagian melodi diantara gemuruh dobel pedal di jantung. “Sial, saya belum nulis surat wasiat”.

Keheningan pada meter pertama di sungai Progo bagi saya, waktu itu, adalah pencitraan Progo Rafting. Itu hanya untuk menenangkan saya saja. Pasti di depan, jeram menakutkan sudah menunggu. Bagaimana jika saya jatuh? Saya tidak bisa berenang lho. Bagaimana jika ada buaya? Masa buaya melawan buaya.

Oh tidak. Itu dia sekelompok jeram pertama. Macam berwajah garang dengan kumis dipelintir di kiri dan kanan. Senyumnya ngga ada indah-indahnya sama sekali. Menyeringai dengan gigi yang tajam. “Modyar koe!!”. Dia tidak sedang ngomong sama saya kan? Arrrrggggghh.

Saya siap untuk berteriak lebih kencang daripada pesawat jet terbang rendah. Saya siap menjerit lebih keras daripada petir yang cetar membahana. Dia datang, dia datang. Dua meter lagi. Duuh, siapa sih yang naruh jeram disini. Ga tau ya ada laki ganteng mau lewat.

Satu meter lagi. Jeram itu meringis. Riak airnya seperti tangan yang menggapai-gapai. Ia ingin meraihku. Oh tidaaak!!.

“Perahu biru yang baik, kita temenan kan? Antar aku sampai titik akhir tanpa njempalik ya. Kamu ganteng deh.”

Entah sejak kapan saya bisa ngomong sama perahu, mehong pula. Sepertinya dunia semakin aneh saja. Ini pasti gara-gara virus dari Thom, Aqied, Tunjung, dan Irman yang duduk di belakang.

arung jeram progo rafting progo atas 2

“Woooooo!!! Hell Yeaaaahh!” Jeram-jeram pertama sudah terlewati. Goncangannya tidak seberapa. Cuma itu kemampuan mereka. Huh, jeram-jeram nista. Ternyata kau tidak ada apa-apanya. Kalian belum tahu siapa aku. Aku adalah..

“Huwaaaa!! ada jeram-jeram lagi”. Mereka lebih besar, mungkin kakaknya. Oh, ini curang. Ini ngga sportif. Mereka memanggil klan jeram. Mereka pasti kakak kedua. Atau kakak pertama. Ah, siapapun mereka, saya sudah siap. Akan kuhadapi dengan teriakan semangat dan senyum terhebat.
#senyum kok terhebat?

 

arung jeram progo rafting atas

Kata pemandunya, Rafting progo atas yang kami lakukan adalah kelas wisata arung jeram. Artinya, aman dilakukan bahkan untuk anak usia 7 tahun. Selama mengikuti aba-aba pemandu dan mengenakan peralatan pengaman, maka insya allah tidak akan terjadi hal-hal yang selama ini dikhawatirkan.

Ah, dasar pembual. Pandai sekali dia berbicara. Tidak terjadi hal yang dikhawatirkan apanya? Kemarin saya khawatir ketagihan. Buktinya, sekarang saya ketagihan. Saya jadi pengin lagi.

 

sponsor tulisan : Progo Rafting

 

Baca juga : Gowes sampai Parangtritis? Ga takut. Tapi dengkulkuuuuu

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai