Bukti Kita Di Indonesia

Setelah turun dari pesawat, aku berencana untuk mencari koran. Mataku mengawasi setiap orang yang berlalu lalang, berharap ada yang menenteng koran dan boleh untuk dipinjam beberapa saat. Namun hingga sampai di luar, tidak satupun kudapati sedang menenteng koran. Akhirnya, terpaksalah membeli satu. Dengan cekatan, kusibak lembaran demi lembaran. Mataku memperhatikan setiap halaman dengan tajam. Senyum mengembang. Setengah bergumam aku berkata “Aku sudah sampai di Indonesia rupanya”.

Aku menunggu shuttle bus dengan sabar. Duduk di kursi yang telah disediakan dengan santai. Telingaku menangkap pembicaraan dua orang disamping. Kuambil berhala kecil berlayar sentuh dan kunyalakan sambil mencermati apa yang mereka bicarakan.
Pria setengah baya berkata “udah baca berita terbaru terupdate?”
Pria berbaju coklat menjawab “Hari ini aku belum baca koran.”
“Jiah kupdet lu. Ada berita lucu. Gara-gara adzan berkumandang, seorang Menteri Agama ngambeg pidatonya terhenti dan memilih tidak berjamaah lalu pulang dengan helikopter.” lanjut pria setengah baya tersebut.
“hahaha, kekanak-kanakan banget ya. Terus ada berita apa lagi?” tanya pria berbaju coklat.
“Kamu udah denger vonis kasus Simulator SIM?”
“Belum tuh”
“Tuntutannya 18 tahun, tapi dia divonis 10 tahun. 8 tahun lebih ringan. Itupun pengacara masih akan mengajukan banding.”
“Walah, ringan banget ya. Yang maling sandal aja 5 tahun.”
“Kamu lama di Mars ya? Itu bukti kita masih di Indonesia”

Mendengar percakapan itu, aku merasa seakan mendengar banyak orang berteriak kepadaku “Selamat Datang Di Indonesia, Wahai Makhluk Mars!!”. Layar didepanku juga menampilkan berita yang sama. Serta beberapa artikel mengenai kekecewaan KPK perihal vonis tersebut.
Ternyata aku betul-betul sudah tiba di Indonesia.

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai