Bukankah Setan Dipenjara Saat Ramadhan??

“Lalu bagaimana bisa, dia dipenjara tetapi manusia masih saja melakukan dosa???”

Mari kita jalan-jalan sebentar. Menengok kebun yang rimbun dengan berbagai tumbuhan disana. Beberapa daun mulai menguning diantara lebatnya yang hijau. Batang-batang yang kokoh seakan kontras dengan lemahnya rumput yang tumbuh dibawahnya. Meskipun begitu, ia memberi warna sendiri dalam riuhnya alam raya. Pelankan langkahmu, hirup dan nikmati segarnya udara. Didepan sana ada potongan batang pohon. Mari kita duduk barang sebentar. Sekedar mengistirahatkan kaki dan sedikit mempelajari apa yang ingin disampaikan oleh alam. Hey lihatlah, biji pohon mangga yang kamu pendam sudah mulai bertunas. Jika ada umur panjang, mungkin kita akan memanennya bersama.

Seseorang pernah bersamaku disini, ia pun duduk ditempat yang sama denganmu. Bahkan ia mencabut rumput seperti yang kamu lakukan saat ini sambil bertanya “Jika setan dipenjara, dikurung oleh Allah pada bulan Ramadhan. Lantas kenapa manusia masih melakukan perbuatan dosa di bulan itu?”. “Bukankah jika setan dipenjara maka tidak ada lagi penggoda yang akan mengganggu manusia? Artinya semua pihak akan merasa tenang dan melakukan aktivitasnya dengan lurus tanpa ada bisik-bisik negatif dari musuh nyata manusia ini.” tanya dia. Ini seperti deja vu. Kamu bertanya persis hingga intonasinya juga.

Seperti rumput yang kamu cabut. Godaan setan itu pasti memiliki awal. Ia menanam benih. Menyiramnya setiap hari. Memupuknya agar tumbuh subur. Ia berharap benih yang ia tanam kelak akan menjadi pohon yang besar lagi kokoh. Tidak mudah goyah dan patah. Tidak mudah tercerabut dari hati manusia. Ya, seperti rumput yang kamu cabut. Mudah sekali bahkan tidak perlu usaha yang besar.

Bandingkan dengan pohon pinus yang ada dibelakangmu itu. Tingginya bahkan melebihimu. Mampukah kamu mencabutnya dari tanah seperti rumput tadi? Tentu tidak mudah. Mungkin mendekati “tidak mungkin/imposible”. Kita butuh alat untuk melakukannya. Bisa dengan gergaji, namun hanya memotongnya sebagian. Akarnya masih berada didalam. Mudah baginya untuk tumbuh lagi. Bisa dengan alat berat dan tentunya merusak tanah yang berada disekitar ia berdiri.

Tunas pohon mangga itu juga sama. Saat ini dengan mudah kita bisa memotong batangnya bahkan hanya dengan kuku jari. Bisa memindahkannya kemanapun kita suka. Bisa membelokkan batangnya seperti bonsai. Bisa juga dipadukan dengan pohon buah lain agar menghasilkan varietas baru. Semua bisa dilakukan sebelum ia menjadi sangat besar dan berbatang keras.

Demikian juga dengan benih setan yang ia tanam dalam hati manusia. Dari kanak-kanak pasti sudah dibisiki olehnya. Karena itulah mengenalkan siapa Tuhannya adalah perlu. Mengenalkan tentang Dzikir juga perlu. Mengenalkan AlQuran dari dini, penting agar ia mampu menghadapi.

Ramadhan memang bulan dimana setan terpasung. Namun bukan berarti tunas dan pohon yang ia tanam otomatis tercerabut. Semua kembali kepada pemilik hati tempat dimana pohon itu ditanam. Jika ia memangkas sedikit demi sedikit setiap detik dengan dzikirullah, niscaya setan akan kesal. Memotongnya dengan Sholat dan Mengaji pasti akan membuat setan meradang. Ditambah lagi dengan alat berat berupa Puasa Daud, wah bagaimana ekspresi setan saat itu ya.

Setan bukanlah sosok yang mudah menyerah. Salut buat sikap pantang menyerahnya. Ia akan berusaha mencari celah agar dapat masuk dan menyiram kembali pohon yang baru saja kita tebang agar rimbun lagi. Tidak lupa ia akan menyisipkan beberapa benih baru. Terus begitu hingga akhir hayat kita nanti. Karena itu kita tidak boleh lengah, Jangan sampai setan malah berleha-leha karena pohon yang ia tanam menghujam sangat dalam dan tumbuh dengan sangat subur di dalam hati manusia. Jika seperti itu keadaannya, Ramadhan sepanjang tahun tidak akan mengubah apa-apa.

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai