Bukan Bidadari Dari Surga

Bukan. Dia bukan bidadari yang turun dari surga. Dia bukan malaikat yang tercipta dari cahaya. Dia juga bukan sri ratu yang selalu tampil mempesona. Malah dia sering sekali bau keringat. Apalagi ketika setelah belanja di pasar dan kemudian menjualnya di warung. Tapi dia tidak terlihat lelah. Entah kenapa?

Aku mencoba mencari tanda S di dadanya. Mungkin dia Superman. Eh ternyata tidak ada, malah tato gambar emping di bahu. Aku coba cari kostum Wonder Woman di lemari bajunya. Dan sepertinya juga tidak ada. Padahal isi lemarinya sudah berhamburan kemana saja. Aku coba melihat baterai apa yang terpasang di tubuhnya. Tapi dia malah memberiku ember untuk diisi penuh. Ya sudah, aku isi dulu ember itu.

Piring dan gelas berdenting ketika bersentuhan di dalam ember hitam besar yang ku isi dengan air dari emberku. Seperti triangle yang dipukul bersamaan. Cetang ceting cetang ceting. Bersamaan dengan lincahnya sepasang tangan yang mengusap sabun ke permukaan piring dan gelas tersebut. Ku cari ikon baterai di atas kepalanya, siapa tahu kelihatan tinggal berapa persen. Tapi dia malah beranjak pergi dan menyiapkan ember besar yang lain untuk mencuci baju sambil menyuruhku meneruskan cuci piring. Aku pura-pura mati.

Terdengar suara dari arah warung. Sepertinya pelanggan kami ingin membeli sesuatu. Segera ia tinggalkan ember penuh baju kotor itu dan memulai transaksi. Mau tak mau aku melanjutkan mencuci piring yang ia tinggalkan. Bukan aku namanya jika tidak cekatan. Buktinya, busa-busa sabun itu bisa menjadi seperti ice cream di dalam gelas yang kupegang. Aku terampil sekali. Hanya menggunakan satu sendok saja, sudah kubuat 3 gelas es krim dengan sabun cucian.

Suara peluit terdengar dari dalam rumah. Tuuiiiiiiiiittttt. Panjang sekali. Lalu ada langkah kaki tergesa ke arah dapur. Tiba-tiba suara peluit itu hilang setelah bunyi ceklik. Aku tak tahu itu apa. Tapi yang jelas aku tidak bisa diganggu. Aku sedang membuat proyek mutakhir. Gelas ke 4 dengan sabun sebagai es krim-nya.

Transaksinya sudah selesai. Suara pelanggan warung sudah tidak terdengar. Dia ada di sampingku dengan senyumnya. Aku juga tersenyum. Ku sodorkan gelas isi es krim yang telah kubuat tadi. Dia bilang enak sekali padahal yang aku tahu, itu kan sabun. Dia tertawa dan mengelus kepalaku. Akhirnya dia selesaikan sendiri cucian piringnya. Tahu gitu, aku kan tidak perlu pura-pura mati.

Setelah selesai mencuci piring. Dia menyuruhku segera makan. Tahu saja kalau aku belum makan. Aku bergegas menuju rak piring. Masih basah memang, tapi aku lapar. Peduli amat dengan piring basah. Ku ambil satu piring dan sebuah sendok. Percayalah, aku tidak pernah bisa makan sendok dan piringnya. Hanya nasi dan lauknya saja.

Aku makan di samping dia yang sedang mencuci baju. Sesekali aku mencoba menyuapinya. Tapi selalu dia jawab bahwa dia sudah makan. Akhirnya aku percaya saja dan meneruskan makanku. Sepertinya dia ahli menebak kesukaanku. Kepala ayam ini sungguh enak sekali dan entah kenapa, dia bilang tidak suka. Aneh.

Ketika kuletakkan piring kotorku, aku tidak melihat piring kotor lain selain punyaku. Katanya dia sudah makan. Tapi kok tidak ada piring kotornya. Ah, mungkin dia sangat rajin. Langsung dicuci barangkali.

Aku lihat dirinya yang sedang memeras celana ayah. Sekilas seperti ada gurat lelah di wajahnya. Namun entah kenapa tiba-tiba hilang ketika ia menatapku. Sambil tersenyum ia berkata “Mau bantu Ibu?”. Aku menatap wajahnya, kami sama-sama tersenyum.  Kemudian aku mengangguk dan berlari kearahnya.

Dia memang bukan bidadari, juga bukan malaikat. Tidak ada semacam sayap kupu-kupu atau kekuatan super di tubuhnya. Dia hanya manusia biasa yang mengajarkan aku untuk tetap tersenyum walau lelah. Walaupun lelah yang sangat.

—0—

 

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai