Boleh kok, tapi….

Siang hari.
“Mas, anter ke kondangan dong”
“Waduh, aku engga ada persiapan nih. Masa seperti ini.”
“Engga apa-apa. Udah gitu aja.”
“Ini kan mau ke kondangan, bukan ke pasar”

Sebuah dialog hari itu membuatku tersenyum lebar. Tidak ada bagian yang lucu sebenarnya. Namun dialog itu mengingatkan dialog yang serupa beberapa hari yang lalu.

“Anter ke balaikota yuk”
“Ngapain?”
“Urus ini, itu”
“Bentar, ganti baju celana dulu”
“Ga usah! gitu aja. Udah kesiangan nih”
“Kalau cuma gini, ntar aku tunggu diluar ya. Kamu masuk sendiri”
“Halaaah. Engga ada yang larang kok”
“Emang ga ada yang larang. Tapi kan engga pantes tho.”

Mematut diri. Membuat diri sedemikian rupa agar pantas diterima oleh orang lain. Mungkin beberapa pihak akan mengatakan “halah. Ini gue. Take it or leave it” atau mungkin ada yang berkata semacamĀ  “Terima aku apa adanya”. Tidak salah namun…

Mantan kekasih ingin menjalin cinta kembali. Ia seorang yang pendusta dan suka berselingkuh. Kamu berkata “Ubah dulu kebiasaan dusta dan selingkuhmu”. Ia berkata “Terima aku apa adanya”. Salahkah ia berkata seperti itu?
Tidak.
Bolehkah dia berkata seperti itu?
Boleh.
Bagaimana menurutmu? Pantaskah untuk diterima kembali??

Sebuah perusahaan mencari karyawan untuk sebuah jabatan dengan kriteria ABCDEF dan kamu tidak memiliki satupun diantaranya. Bolehkah mengajukan lamaran pekerjaan untuk jabatan tersebut?
Boleh.
Apakah kamu pantas diterima?

Setiap orang berhak dan boleh mengajukan diri menjadi Presiden sebuah negara. Namun pasti ada kriteria dan aturan yang membatasinya. Terlepas dari kongkalikong dibelakang layar yang terjadi, pantaskah seorang yang tidak jujur, tidak amanah memegang tampuk pimpinan?

Mematut diri agar pantas diterima itu perlu. Mulai dari hal kecil. Membersihkan kaki sebelum masuk rumah, agar pantas masuk rumah yang bersih. Membersihkan dan merapikan diri sebelum bertemu orang lain. Belajar dengan sungguh-sungguh agar pantas untuk lulus sebuah ujian. Bekerja dengan sungguh-sungguh agar pantas untuk mendapat kenaikan gaji. Hingga hal yang lebih jauh lagi semisal mematut diri agar pantas untuk masuk surga.

Tentu saja hal tersebut dilakukan sesuai dengan aturan dan kaidah yang berlaku baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, baik dalam rumah, didalam perusahaan, di sebuah negara, hingga aturan yang dibuat oleh Tuhan agar pantas mendapatkan surganya kelak. Karena itulah wajib bagi kita untuk memperhatikan do and don’t agar menjadi pribadi yag lebih baik dan pantas untuk mendapatkan sesuatu.

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai