Ayah, Maas ya.

Sobat pasti ngga ngerti maksud judul diatas. Karena Maas atau Ma-as tidak berarti apa-apa. Namun disini kata itu sangat berarti bagi saya. Bahkan mampu membuat mata saya hangat dan menjadi basah. Jika tidak disaksikan Ibu, Istri dan teman saya, mungkin air mata akan saya biarkan mengalir.

Pagi itu, Irul ingin meminjam sepeda milik temannya. Ia menggandeng saya, berjalan disisi kiri. Dengan suka cita ia nyanyikan lagu yang biasa ia nyanyikan. Sesampainya di rumah temannya, Irul tidak menemukan sepeda roda tiga yang biasa diparkir di depan rumah.

“Sepeda ngga ada Rul. Ntar aja ya pinjamnya” Ucapku
Namun sepertinya hal itu tidak berkenan dihatinya. Ia ngambek. Duduk ditanah dan mulai menangis. Segera aku gendong dan mencoba menenangkannya. Hampir semua hal yang ia sukai saya sebutkan satu per satu. Mulai dari kereta api, lihat di stasiun, susu murni, dan beberapa hal yang lain. Tapi belum sempat ku keluarkan jurus menenangkan seperti biasanya tiba-tiba..

“wuuuss..plak”. Tangannya menyambar pipiku dan melemparkan kacamataku hingga jatuh di tanah. Spontan aku sentil telinganya 3 kali dan ujung jarinya 3 kali pula. Ia menangis sekencang-kencangnya.

“Itu tidak sopan, Ayah tidak suka” ucapku sambil tetap menggendongnya. Ia masih menangis. Air mata membasahi seluruh bagian pipi bulatnya. Kuambil kacamata dan kuamati. Bagian ujung kaca kiri pecah hampir mencapai sekrup gagang dan kaca kanan pecah di tepi atas bagian tengah. Kacamata frameless ini sudah berulang kali pecah dan saya tidak ingin terulang lagi.

Mulanya saya memang marah karena ketidak sopanannya dan kerugian yang menjadi tanggungan jika pecah. Namun setelah saya renungi lebih dalam, biaya lensa lebih murah daripada hubungan erat kami berdua.

Namun saya tetap diam. Karena ketika marah saya memilih diam. Tidak perlu mengeluarkan kata-kata kotor dan caci maki. Diam dan renungi.
Irul kini digendong Ibunya. Dengan segala cara, ia mencoba menenangkan anak 2,5 tahun itu.

Dalam diam, saya memikirkan kejadian hari itu. Bagaimana cara terbaik menghadapi masalah seperti ini. Ketidak mengertiannya, ego kanak-kanaknya, pembelajaran yang diberikan, punish and reward, semuanya terlintas.

Ternyata, solusi datang sendiri. Karena ketegangan terjadi antara Ayah dan Anak, maka harus dipisahkan. Dalam hal ini saya menjauh, menenangkan diri. Dan Ibu menjadi perantara pesan kepada anak.

Irul berulang kali mencoba mendekat. Namun saya mengacuhkannya. Saya masih belum tenang. Saya mengalihkan rasa kesal dengan membaca koran. Irul menjauh.
Saya mengambil makanan, Irul mendekat. Menunjukkan mainannya. Saya menjauh.

Saya merenung. Bagaimana sakit perasaanya yang mencoba berbaikan namun mendapat perlakuan cuek. Dengan ekor mata, saya melihat Irul menghela nafas. Melihat itu, dada saya menjadi berat.

Saya ingin segera mengakhiri kebekuan itu. Namun kata tidak juga muncul dari mulut saya. Hingga akhirnya ketika saya duduk di samping Ibu dan Neneknya, Ia menghampiri. Ia memegang tangan saya dan berkata “Ayah, Maas ya”. Dada saya berdesir. Irul belum fasih mengucap “F“. Dan kata Maaf menjadi Maas. Ia mencium tangan saya berkali-kali, mencium pipi kanan lalu pipi yang kiri.

Aku kalah.

Pelajaran yang indah di hari yang indah. Ternyata pelajaran kata maaf, membekas di hatinya.

Ucapkan kata maaf kepada putra-putrimu, jika engkau ingin mereka melakukannya ketika melakukan kesalahan.

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai