Sepenting Apasih Cakap Bermedia Sosial?

Emang Penting Cakap Bermedia Sosial?

Internet tidak selalu memberikan hal positif. Banyak contoh akan hal ini. Akun palsu, berita hoax adalah sedikit contoh darinya. Cerdas berinternet dan bermedia sosial perlu kita lakukan. Jangan mudah share. Cek dan ricek dulu kebenaran informasi yang kita dapatkan. Suka tidak suka, benci tidak benci, jangan dijadikan parameter untuk membagikan informasi yang tidak kita ketahui keabsahannya.

cakap bermedia sosial Semakin hari, semakin kesini, perkembangan teknologi tambah pesat saja. Seperti masih kemarin sore, sebuah ponsel hanya bisa digunakan untuk menerima dan membalas pesan teks singkat atau mengirimkan dan menerima pesan suara. Keesokan harinya, ponsel tersebut sudah bisa digunakan untuk menerima dan mengirimkan gambar serta suara sekaligus. Semacam skype itu lho. Kita bisa bertatap muka langsung dengan orang yang kita sayang yang berada di luar negeri atau tempat yang jauh. Bukankah hal itu adalah kemajuan yang sangat pesat?

Kemajuan itu membawa kebahagian untuk banyak orang. Iya, banyak orang. Termasuk saya dong. Dengan kemajuan teknologi termasuk di dalamnya perkembangan internet, saya bisa berhubungan baik dengan pacar saya.

Dulu, sewaktu menjadi pacar saya, kami bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk membeli pulsa. Pulsa sebanyak itu bisa habis dalam beberapa hari saja. Mantab kan?

Kami saling telepon. Dia di Batam, saya di Jakarta. Kami juga saling kirim pesan singkat. Meski hanya beberapa kali sih, selebihnya langsung telepon saja. Pacaran langsung jarak jauh menghabiskan banyak biaya. Mungkin kalau ngga pakai pacaran, biayanya bisa buat beli rumah dan seisinya kali ya. Jadi mending ngga usah pacaran aja ya.

Duh, tapi kita ngga bahas itu dink ya. Kita sedang bahas tentang perkembangan teknologi dan Internet.

cakap bermedia sosial

Oke. Jadi gini, setelah pacar saya itu menjadi mantan pacar dan kami tinggal di Yogya, hubungan itu ngga lantas berhenti. Hanya gara-gara tinggal serumah bukan berarti kami ngga menggunakan teknologi dan internet. Seringkali, kami harus mengirimkan pesan singkat via Whatsapp atau BBM. Kalian tahu sendiri kalau WA – singkatan dari Whatsapp – membutuhkan jaringan internet. Begitu pula BBM kan sob.

Ngga jarang, kami saling kirim kabar melalui chat di sosial media Facebook. Seperti beberapa waktu lalu, saat kami terpisah Purwokerto – Yogya. Kami kadang berkirim kabar melalui WA, kadang BBM, kadang chat FB. Emang rada aneh kok ya. Kenapa ngga pakai satu sosmed aja ya? :v

Tapi itulah kami. Bisa memanfaatkan internet sebaik mungkin untuk berkomunikasi. Ketika kami berjauhan, kami menggunakan internet untuk saling memberi kabar. Selebihnya, sang mantan pacar kerap mencari informasi mengenai resep masakan melalui Internet. Sungguh sangat bermanfaat. Lha kan masakannya untuk saya.

Untuk tetap menjaga hubungan dengan kawan-kawan lamanya. Ia membuat sebuah akun di sosial media. Kita sebut saja dengan nama samaran, Fesbuk.

Melalui Fesbuk, ia bisa menerima kabar dari kawan-kawan yang masih merantau jauh di sana. Sering juga mendapat kabar dari saudarinya yang tengah berada di lain benua. Sekedar hai atau menanyakan sudah beranak berapa, cukup membuat dia merekahkan senyum bahagia. Sedangkan yang di sebelah sini berharap-harap sangat ada keajaiban yang membuat kuotanya abadi.

Temannya banyak. Selain memang teman yang ia kenal, juga temannya teman. Bahkan tidak jarang temannya temannya teman. Pernah juga mengaprove teman temannya temannya teman. Hash, bikin bingung kan ya. Intinya, gitu lah. Temannya banyak.

Dari pengalaman bermedia sosial, hal yang sering ia keluhkan saat melakukannya adalah kurangnya kontrol diri. Pernah suatu ketika, di timeline yang ia miliki, ada sebuah akun yang menjelek-jelekkan orang lain. Memaki-maki entah pada siapa. Begitu membaca beberapa kata saja, ia sudah tidak tahan. Langsung scroll dan meninggalkannya begitu saja. “Kata-katanya sungguh tidak sopan” begitu komentarnya.

Seandainya saja, orang yang dimaki-maki di media sosial itu melaporkan ke pihak berwajib, besar kemungkinan dimeja hijaukan pemilik akun tersebut. Malah jadi runyam kan masalahnya.

cakap bermedia sosial

Kebanyakan cekrek tanpa aksi

Tidak jarang ia menemui dua akun media sosial yang pemiliknya sepasang muda-mudi yang tengah kasmaran. Tapi yang ini beda, mereka tidak tengah beromantis-romantisan. Melainkan sedang bertengkar. Wajar saja sih, sebuah hubungan memang kadang ada juga pertengkarannya. Tapi ketika hal tersebut dilakukan di media sosial, bukankah hanya akan menunjukkan sisi asli pemiliknya dan menjadi konsumsi publik. Seandainya pemilik akun itu cakap bermedia sosial, pastinya keburukan keduanya tidak perlu diketahui khalayak ramai. Atau mungkin mereka mengira, setelah memiliki akun di media sosial, mereka mendapat sebuah kamar kosong yang tidak akan diketahui oleh siapa saja, gitu ya?

Amat kasian sekali ya kalau mereka sampai berpikiran seperti itu. Memiliki akun di media sosial bukan berarti kita memiliki ruang kosong yang sepi dan tidak diketahui siapa-siapa. Malah justru sangat terbuka dan blak blakan. Semua orang bisa tahu.

cakap bermedia sosial

Inih hati, kakak. Inih Hati

Tidak jarang, yang muncul di timeline adalah berita-berita yang keabsahannya diragukan. Entah hitungannya sampai di jari yang keberapa ratus, hal tersebut sangat sering dilakukan. Banyak berita palsu bersliweran dan terus saja dibagikan. Berita yang menimbulkan efek iba, akan mudah mendapat like dan komen. Jika hal tersebut bersinggungan dengan pola Besar vs Kecil, maka pasti yang kecil akan mendapat lebih banyak dukungan. Meskipun hal tersebut belum tentu kebenarannya.

cakap bermedia sosial

Semua bisa berwacana

Padahal, jika mereka mau mengamati, mudah saja memisahkan mana berita yang benar dan palsu. Jurnalis yang baik atau kita sebut saja Wartawan yang baik, pasti akan menyertakan 5W+1H kan. What When Where Who dan How. Jika berita itu palsu, biasanya 5W+1H akan berusaha dikaburkan. Contoh nih ya : “Pada pertengahan bulan Juni terjadi sebuah insiden bla bla bla…. ”

Perhatikan, “When”nya kabur dan tidak jelas bukan? Pertengahan bulan Juni itu persisnya kapan, sob? Lalu Juni tahun berapa?

Jika hal tersebut kamu amati dengan teliti saat membaca sebuah informasi, maka seharusnya lampu peringatanmu menyala. Cling dan kamu bertanya “bener ngga nih beritanya, kok tanggalnya ngga jelas”

cakap bermedia sosial

Jempolmu TOAmu

Jika dari hal tersebut saja kamu sudah merasa ngga yakin dan memilih menghentikan serta tidak ikut membagikan kembali berita tersebut, Selamat ya sob, kamu berhak untuk disebut sebagai pengguna sosial media yang cakap bermedia sosial.

cakap bermedia sosial

situ ribut, sana akur

Tapi jika kamu masih ragu keabsahan berita tersebut, coba amati lagi dengan seksama. Apakah berita tersebut memuat nama sebuah instansi atau suatu kelompok tertentu. Misal kelompok keagamaan atau suku atau badan/lembaga?

Tentunya, jika itu memuat badan/lembaga atau nama instansi atau suatu suku dan kelompok keagamaan, akan dimuat di media televisi juga tho? pasti sudah besar itu. Tapi coba perhatikan sekelilingmu lagi. Apakah dia muncul di tivi?

Ok, mungkin kamu bisa beralasan “Mungkin aku kudet, kakak. Jarang liat berita tipi. Liatnya cuma Uttaran”

cakap bermedia sosial

kok mirip beberapa tahun silam yak?

Baiklah, luangkan waktumu untuk berselancar di Internet. Masukkan kata kunci yang berkaitan dengan berita tersebut. Misal, contoh diatas menggunakan bulan Juni, kan. Maka masukkan “Bulan Juni” ke search bar. Kemudian tambahkan nama badan/lembaga atau kelompok yang disebut dalam berita tersebut. Kemudian ketik “enter”.

Misal pencariannya adalah “Bulan Juni Rumah Sakit ABCD”. Maka kamu periksa satu per satu artikel yang disuguhkan mbah Google.

cakap bermedia sosial

cakap bermedia sosial

Yang perlu kamu lakukan, periksa persamaan dan perbedaannya. Periksa juga alamat website yang menayangkan berita tersebut. Dan paling penting, periksa tanggal publish artikel itu.

Sering kali, berita palsu hanyalah satu berita yang sama yang diolah kembali dan diedarkan lagi. Entah namanya diganti atau targetnya diganti. Padahal ketika dicari menggunakan internet, ditemukan berita yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Parahnya, diberitakan juga di belasan tahun sebelum saat ini.

cakap bermedia sosial

ho oh deh kakak

Apa kamu pernah melakukan cek dan ricek seperti ini? jika iya, kamu sangat layak menyandang gelar Pengguna Internet yang Cakap Bermedia Sosial. Wah, kayaknya perlu nih disaranin ke Kominfo untuk menjadi Duta Cakap Bermedia Sosial.

Internet tidak selalu memberikan hal positif. Banyak contoh akan hal ini. Akun palsu, berita hoax adalah sedikit contoh darinya. Cerdas berinternet dan bermedia sosial perlu kita lakukan. Jangan mudah share. Cek dan ricek dulu kebenaran informasi yang kita dapatkan. Suka tidak suka, benci tidak benci, jangan dijadikan parameter untuk membagikan informasi yang tidak kita ketahui keabsahannya.

Iya ga sih, sob?

cakap bermedia sosial

foto cantik? simpeeeen

 

credit : gambar komik diambil dari buku Cakap Bermedia Sosial terbitan KOMINFO 2016

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai