Antara Karpet,Sajadah dan Ukhuwah

Saya udah sering berjalan kesana kemari. Berpindah dari satu kota ke kota lain. Mungkin hanya sementara ato beberapa lama. Hanya sekedar Travelling lihat-lihat keadaan, cuci mata, penasaran akan suasana baru, memang suka menjelajah sebenarnya. Dan setiap masuk jam shalat, selalu saya sempatkan untuk mencari Masjid dimanapun itu. Masjid At Tiin di TMII, Istiglal, Masjid di kawasan Priuk, Koja, Jembatan 3, Kebayoran, Rawamangun, Pasar Rebo, Pasar Minggu, Masjid kampung di Dekat ITC Cempaka Emas, sampai ke beberapa masjid di Banten, Tangerang, Karawang, Cikarang, Cibitung, Masjid besar atau pun mushola kecil. Di Klaten, Solo, Boyolali, Kebumen, Semarang, Ambarawa, Magelang, Temanggung, mushola sepanjang jalan besar, di Pom Bensin, di kampung-kampung, di jalan Parangtritis, di mall-mall. Kesemuanya memiliki keunikan namun sekalian ada persamaan, yang entah kebetulan namun bisa juga dikatakan memang dasarnya sama. Ada satu hal yang menjadi perhatian saya. Karpetnya…. memang ada apa dengan karpetnya??

Hampir semua yang saya datangi, untuk shalat tentunya, memakai karpet yang tipenya sama. Karpet hijau dengan motif masjid. Persisnya adalah gambar 2 tiang masjid di kiri dan kanan. Untuk contoh gambar, maaf, saya tidak mendapatkannya di Google. Pun juga tidak saya foto. Yang jelas motifnya adalah motif yang paling banyak di pakai. Karpet hijau dengan gambar 2 tiang masjid di kanan dan kiri.

Lalu apa kaitannya dengan Sajadah dan ukhuwah yang telah dijadikan judul artikel ini?

Ada..

Namun secara tidak langsung.

Begini. Pada karpet itu. Jika kita berdiri di atasnya, anggaplah berdiri di karpet yang saya jadikan foto diatas. Seolah kita berdiri di atas sajadah. Dan Hampir semua orang yang saya temui di masjid PASTI berdiri di tengahnya. Meskipun orang di sebelah kita memberi kode untuk merapatkan barisan. Hal ini pernah saya coba di beberapa masjid. Saya merapatkan diri dengan orang yang di sebelah kiri (saya di sebelah kanan belakang Imam) otomatis sebelah kanan saya agak lenggang, ada jarak yang cukup untuk satu orang. Dan saya memberi isyarat kepada orang sebelah kanan saya untuk bergeser ke arah saya. Namun dia diam saja. Mungkin karena posisi dia di tengah karpet itu, hingga dia enggan untuk bergeser. Beberapa kali dan hampir sama hasil akhirnya.

Namun hal itu tidak terjadi dengan masjid yang memakai karpet polos. Karpet dengan warna satu macam saja, biasanya warna hijau. Ketika sebelum shalat dan imam mengingatkan bahwa rapat dan rapi tanpa ada yang kosong  adalah salah satu syarat sah shalat berjamaah, hampir semua bergerak untuk merapatkan barisan. Dan benar-benar rapat. Sampai-sampai jari kelingking saya sempat terjepit dengan jari kelingking jamaah lain. Hebat bukan.

Sekali lagi. Semua itu terjadi di hampir semua tempat yang saya datangi. Di kota kecil, kota besar, di jalan kecil, di jalan besar, di pom bensin maupun mushola dalam kampung.

Apakah ada kaitan dengan Ukhuwah sesama umat islam ? Hanya Allah yang tahu. Namun coba lihat sekelilingmu. Adakah Individu yang selalu mendahulukan dirinya sendiri bahkan untuk berbagi ilmu aja sulit, Adakah mereka yang enggan berbagi hartanya demi kepentingannya? Adakah diantara kalian yang enggan mampir ke saudaranya, temannya, kenalannya, sahabatnya, tetangganya handai taulannya..? Andai jawaban semua pertanyaan dia atas adalah IYA. Mungkin Karpet di masjid ada kaitan secara psikologis, masuk ke dalam mindset kita.

Mari kita renungi dan ambil jalan keluar bersama².

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai