28 April dan Kesetiaan Cinta

Ia berkesempatan untuk lari. Meninggalkan kekasihnya yang berada di ujung mati. Namun ia memilih melindungi sang Pangeran dengan tubuhnya. Setelah wanita itu dieksekusi, lelaki yang dicintai itupun meregang nyawa dengan peluru bersarang didalam kepalanya.

Mungkin terkesan mengada-ada dan seperti di dalam kisah romansa. Namun keadaan itu benar dialami oleh dua sejoli ini. Adalah Benito Mussolini dan wanita simpanannya Clara Petacci yang dieksekusi para anggota gerakan pemberontakan Italia saat itu. Mereka berdua menjalin kisah semasa Petacci masih bersuamikan Riccardo Federici, Kapten Angkatan Udara. Setelah keduanya berpisah pada tahun 1936, hubungan Mussolini dan Petacci semakin dekat. Hingga pada akhirnya Mussolini ditangkap oleh kaum partisan pada 28 April 1945, Petacci ditawari kesempatan untuk melarikan diri, namun ia menolak dan mencoba untuk melindungi Mussolini dengan tubuhnya. Setelah Petacci ditembak,  Mussolini pun kemudian dieksekusi. Petacci dihormati di Italia, bukan karena politik, tapi sebagai wanita yang jatuh cinta dan menolak untuk meninggalkannya dalam masa kesulitan.

Berbeda dengan kisah cinta ini. 28 April 1950 menjadi hari bersejarah di Negara Thailand. Hari dimana saat itu sang raja melangsungkan pernikahannya.  Raja Bhumibol Adulyadej atau Raja Rama IX dan mempelai wanita yang tak lain adalah sepupu jauhnya itu terlihat sangat bahagia.

raja thailand 28 april

Raja Bumibol dan Ratu Sirikit saat hari naik tahta

Bermula dari kematian misterius Ananda Mahidol, kakak Bhumibol di bulan Juni 1946 yang menjadikan Bhumibol sebagai raja pada 9 Juni 1946. Namun karena saat itu ia sedang menjalani studi di Swiss, maka penobatanpun urung dilakukan hingga ia menyelesaikan studi tersebut. Ia diminta belajar hukum dan ilmu politik yang akan berguna sebagai raja nantinya. Selama menjalani studi tersebut, ia bertemu dengan Sirikit yang juga tengah belajar disana. Cinta bersemi diantara keduanya. Saat Bhumibol mengalami kecelakaan motor, Sirikit selalu membesuknya. Kemudian mereka bertunangan di Lausanne. Maret 1950, Bhumibol kembali ke negaranya beserta Sirikit. Mereka melangsungkan pernikahan pada 28 April 1950. Seperti suaminya, Sirikit sangat terkenal dan dihormari di Thailand. Sirikit dikenal pada kegiatan amalnya. Ia merupakan presiden palang merah Thailand sejak tahun 1956. Ia juga menaruh perhatian yang besar pada pengungsi dari Kamboja dan Myanmar yang melarikan diri ke Thailand. Hari ulang tahunnya menjadi hari libur nasional dan ditetapkan sebagai Hari Ibu di Thailand.

 

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai