27 April dan Sebuah Lagu Cinta

Cinta menjadikan dunia lebih ramah. Menjadikan satu, dua yang terpisah. Terkadang cinta jugalah alasan pertumpahan darah. Cinta pulalah yang telah merangkai potongan nada menjadi seuntai lagu yang indah.

Inilah sedikit kisah yang cinta menjadi dasar atas sebuah peristiwa berkaitan dengan 27 April di seluruh dunia. 

Sepeninggal ayahandanya, Aelia Eudoxia hidup dengan keluarga Promotus, seorang Magister Militum (Pemimpin Para Tentara) Romawi Timur. Promotus pun meninggal 3 tahun setelahnya. Ia dan putra-putra Promotus kemudian dibesarkan bersama putra-putra Kaisar Theodosius I. Disanalah ia mulai mengenal seorang Arcadius. Pada sebuah peperangan di Milan, Theodosius I terbunuh dan tahtanya digantikan oleh Arcadius.

Rufinus, penguasa prefektur Praetoria di Kekaisaran Romawi Timur berniat untuk menikahkan putrinya dengan Arcadius. Dengan harapan sebagai mertua Kaisar, dirinya sendiri dapat menjadi Kaisar suatu hari nanti. Namun diam-diam Arcadius menikah dengan Aelia Eudoxia. Pernikahan yang berlangsung pada tanggal 27 April 395 itu sesungguhnya didalangi oleh Eutropius, seorang kasim yang bekerja didalam Istana Konstantinopel. Ia melakukan hal itu dengan maksud untuk meningkatkan pengaruhnya kepada kaisar dan menjamin kesetiaan permaisuri baru untuk dirinya sendiri.

Arcadius merupakan penguasa yang lemah dan kekuasaannya didominasi oleh menteri-menteri yang kuat dan istrinya, Aelia Eudoxia.

27 April 1521,  Fernando de Magelhaens menjadi saksi kekuatan cinta tentara Lapu-Lapu di Mactan, Filipina. Berawal dari keinginan Rajah Humabon dari Cebu yang ingin mengalahkan Lapu-lapu dan menguasai Visayas di Mactan, ia bekerja sama dengan Magelhaens yang saat itu memiliki persenjataan berupa 12 meriam dan 50 panah silang dam senapan. Berharap kemenangan besar, Magelhaens dan 48 anak buahnya menyerang Mactan. Sebuah pertempuran di pesisir pantai yang dikenal dengan nama Pertempuran Mactan pun terjadi.

Meski hanya bersenjata tradisional namun pasukan Lapu-Lapu tetap maju untuk mempertahankan daerahnya melawan Magelhaens. Kekuatan cinta membuktikan kedahsyatannya. Meski melawan meriam, panah silang serta senapan namun pasukan Lapu-Lapu berhasil membunuh Magelhaens dan beberapa ABK-nya. Pertempuran itu memakan korban 3 orang termasuk Magelhaens serta puluhan korban dari pihak Lapu-Lapu. Antonio Pigafetta, salah seorang kru kapal yang selamat mengatakan bahwa kurang lebih ada 1500 pasukan Lapu-Lapu yang mereka lawan.

27 April 1810. Therese Malfatti von Rohrenbach zu Dezza puteri saudagar dari Wina, telah menarik hati seorang Ludwig van Beethoven kala itu. Namun ia menikahi pria lain sebelum Beethoven menyatakan perasaan cinta kepadanya. Menurut salah satu sumber, kejadian itulah yang menginspirasi terlahirnya Bagatelle in A minor, atau yang lebih dikenal dengan Fur Elise. Teori yang terkenal mengatakan bahwa pada mulanya karya tersebut berjudul Für Therese. Ketika karya tersebut dipublikasikan tahun 1865, penemunya, Ludwig Nohl, salah menyalin judulnya sehingga menjadi “Für Elise”

Klaus Martin Kopitz, seorang musikolog Jerman memuat hipotesis bahwa Beethoven menulis komposisi tersebut untuk penyanyi Elisabeth Röckel. Dia menikah tahun 1813 dengan komposer Johann Nepomuk Hummel.

Terlepas dengan sumber mana yang benar, Fur Elise telah menjadi lagu yang indah, kental dengan romantisme yang menghanyutkan. Bahkan siapapun yang menulis lagu itu, sudah pasti ada kisah cinta yang menjadi dasar terciptanya lagu indah tersebut.

 

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai