24 April dan Tewasnya Kosmonot

Sebuah pertemuan besar berlangsung beberapa hari. Pertemuan itu diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar, Sri Lanka, India dan Pakistan. Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika , demikian pertemuan itu disebut diadakan antara 18 April – 24 April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung, Indonesia dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya.  Tercatat 29 negara mengirimkan wakilnya untuk menghadiri konferensi ini. KTT Asia – Afrika ditutup dengan hasil mendukung kedamaian dan kerjasama dunia, tertuang dalam Dasasila Bandung.

Adapun isi Dasasila Bandung itu sendiri adalah :

  1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa)
  2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa
  3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil
  4. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain
  5. Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB
  6. Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain
  7. Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara
  8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi (penyelesaian masalah hukum) , ataupun lain-lain cara damai, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB
  9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama
  10. Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional

12 tahun kemudian, sebagai upaya untuk meningkatkan gengsi di mata dunia, Soviet menjalankan Program Soyuz dengan meluncurkan Soyuz 1. Rencana Soviet untuk menjadi negara pertama dengan awak di Bulan ini terpaksa kandas karena pesawat yang diluncurkan 23 April 1967 tersebut harus menghujam bumi pada 24 April 1967, sehari setelah diluncurkan. Ditengarai ada 200 kesalahan pada desain pesawat namun karena pemerintah tidak ingin kalah cepat dari Amerika Serikat maka Soyuz 1 dipaksakan meroket. Imbasnya, seorang kosmonot Kolonel Vladimir Mikhailovich Komarov meninggal ketika pesawat tersebut jatuh saat kembali ke Bumi. Soyuz 1 ditemukan dalam keadaan hancur di perbatasan Rusia – Kazakstan, tepatnya di Orenburg. Karena peristiwa ini, Soyuz 2 dan 3 ditunda hingga 18 bulan dan membuat Rusia gagal meraih apa yang direncanakan.

soyuz 1 jatuh

Soyuz 1 jatuh. wikipedia

 

Negara tetangga Rusia juga tidak mau kalah. 24 April 1970 atau 3 tahun setelah peristiwa jatuhnya Soyuz 1, China meluncurkan satelit pertamanya. Dongfanghong I atau China 1 ini adalah satelit ruang angkasa pertama yang mana sebagai bagian dari Program satelit ruang angkasa Dongfanghong RRT. Satelit ini membawa pemancar radio dan menyiarkan lagu “Dongfanghong” atau “The East Is Red” selama 26 hari.

Dongfanghong I

Dongfanghong I. credit astronautix.com

 

Kita mundur beberapa abad kebelakang, pada 24 April 1880 dimana seorang anak manusia lahir dan ketika ia dewasa membawa kebaikan pada khalayak ramai karena telah mengembangkan sebuah teknologi yang memungkinkan kita mengamankan “benda pusaka” dari penjarahan mata liar.

Dialah Gideon Sundback. Ia sering dikaitkan dengan penemuannya dalam pengembangan ritsleting. Sundback membuat beberapa perluasan dalam mengembangkan ritsleting antara tahun 1906 dan 1917, saat bekerja di perusahaan yang kemudian dikenal sebagai Talon, Inc. Ia mengembangkan hasil karya dari insinyur sebelumnya, seperti Elias Howe, Max Wolff dan Whitcomb Judson yang dengan karyanya “Judson C-curity Fastener”. Disana Sunback mengembangkan versi baru dari “C-curity” yang disebut “Plako” meski mudah terlepas dan masih tidak sebaik dari produk yang sebelumnya, toh ia berhasil mengatasi permasalahan tersebut pada tahun 1913. Ia menambahakan jumlah elemen pengait dari empat inci menjadi 10 atau 11 yang jika ditarik menjadi satu kesatuan.

Pada tahun 1914, Sundback mengembangkan versi terbaru dari produknya, “Hookless No. 2”, yang merupakan ristleting moderen terbuat dari metal yang mana tiap gigi memiliki lubang pada bagian bawah serta ujung yang meruncing pada bagian atasnya. Lubang dan ujung yang runcing yang terbagi dua (kanan dan kiri ) tersebut bekerja dengan cara saling menutupi melalui lajur yang berbentuk Y. Gerigi tersebut dilekatkan pada kain yang kuat yang nantinya berfungsi sebagai bagian ristleting yang dijahitkan pada kain. Ristleting tersebut akan melekat secara kuat sehingga tidak mudah terlepas.

Tahukah kamu, Nama “zipper” dibuat oleh B.F. Goodrich pada tahun 1923, yang menggunakannya pada koleksi boot terbaru mereka. Pada dasarnya, sepatu boot dan kantong tembakau adalah dua produk pertama yang menggunakan ristleting, perlu 20 tahun sebelum industri fashion memakainya. Sekitar Perang Dunia II, risleting diaplikasikan secara massal pada celana panjang, rok dan dres. Bisa dibayangkan jika saat itu Gideon Sundback tidak mampu mengembangkan produknya dan memilih gulung tikar, kemungkinan peluncuran Soyuz 1 dan roket lainnya bisa terganggu dengan adanya “roket – roket” yang tidak tahu diri.

 

(sumber wikipedia)

About the author

Menyukai tantangan meski bukan penantang Ku suka petualangan meski bukan petualang Ku juga suka menulis meski bukan penulis Aku juga suka menyukai